Tuesday, March 10, 2026

Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Tambang Kapur, Inovasi IPB Tembus 117 Inovasi Indonesia 2025

Rekomendasi
- Advertisement -

Inovasi dosen IPB University kembali mencuri perhatian. Riset bertajuk Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur terpilih sebagai salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC).

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dr. Nisa Rachmania bersama tim. Fokus risetnya jelas, yakni memanfaatkan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur.

Produk formulasi yang dihasilkan terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a. Keduanya berasal dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup.

“Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, kami mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai,” tutur Nisa.

Kedua mikroorganisme itu dikenal potensial menghasilkan enzim pengurai selulosa dan lignin. Selanjutnya, keduanya dikumpulkan menjadi konsorsium dan diformulasikan sebagai bioaktivator untuk mempercepat pembuatan kompos dari sisa tanaman di area revegetasi.

Hasil pengujian menunjukkan performa yang menjanjikan. “Hal ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur. Kedua spesies ini belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati seperti yang telah diperjualbelikan secara komersial,” kata Nisa.

Selain adaptif, kedua isolat juga tidak bersifat patogen bagi manusia maupun hewan. Berdasarkan kajian literatur, P. singorense juga bukan patogen tanaman. Artinya, potensi pemanfaatannya relatif aman.

Keunggulan formula bioaktivator ini tampak pada uji tambahan. Formula tersebut mampu menurunkan 86% bobot limbah tanaman. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan produk komersial lain yang hanya mencapai 15%.

Pada uji lapangan terbatas seluas sekitar 50 m2, pertambahan tinggi tanaman kaliandra juga menunjukkan hasil lebih baik. Perlakuan formula menghasilkan peningkatan tinggi 9,8%, sedangkan produk komersial 9,1%.

“Dari hasil penelitian ini, kedua isolat berpotensi digunakan sebagai pupuk hayati dan starter untuk proses pengomposan di area tambang batuan kapur atau lahan dengan komposisi tanah serupa,” ujar Nisa.

Meski hasilnya menjanjikan, pengujian lebih luas tetap diperlukan. Inovasi ini masih harus diuji pada skala penanaman yang lebih besar agar efektivitasnya semakin teruji.

Nisa juga mendorong penyimpanan isolat mikroorganisme potensial di culture collection seperti IPB Culture Collection. Langkah itu penting untuk menjaga keberadaan isolat sekaligus menjadikannya standar pupuk hayati asli Indonesia.

“Untuk proses hilirisasi perlu dukungan institusi dan pemerintah, sehingga manfaat pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik dan meningkatkan kualitas pupuk organik. Bagi petani dan praktisi pertanian, pupuk hayati dapat meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman setelah diaplikasikan berulang kali,” kata Nisa.

Inovasi ini membuka peluang pemanfaatan jasad renik lokal untuk mempercepat pemulihan lahan tambang kapur. Dengan pendekatan berbasis mikroorganisme asli Indonesia, langkah menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan semakin nyata.

Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Tambang Kapur, Inovasi IPB Tembus 117 Inovasi Indonesia 2025

Inovasi dosen IPB University kembali mencuri perhatian. Riset bertajuk Kolaborasi Jasad Renik Hijaukan Lahan Tambang Kapur terpilih sebagai salah satu inovasi paling prospektif dalam ajang 117 Inovasi Indonesia 2025 yang diselenggarakan Business Innovation Center (BIC).

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Dr. Nisa Rachmania bersama tim. Fokus risetnya jelas, yakni memanfaatkan mikroorganisme lokal untuk mendukung proses pengomposan dan revegetasi lahan bekas tambang batuan kapur.

Produk formulasi yang dihasilkan terdiri atas isolat bakteri Bacillus paramycoides A.1.4 dan kapang Penicillium singorense 1.1.a. Keduanya berasal dari tanah area revegetasi bekas tambang batuan kapur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Citeureup.

“Area revegetasi di lingkungan quarry bekas tambang batuan kapur Citeureup menyimpan potensi karbon organik dari limbah tumbuhan mati yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dari tanah dan sisa tumbuhan tersebut, kami mengisolasi bakteri dan cendawan penghasil enzim pengurai,” tutur Nisa.

Kedua mikroorganisme itu dikenal potensial menghasilkan enzim pengurai selulosa dan lignin. Selanjutnya, keduanya dikumpulkan menjadi konsorsium dan diformulasikan sebagai bioaktivator untuk mempercepat pembuatan kompos dari sisa tanaman di area revegetasi.

Hasil pengujian menunjukkan performa yang menjanjikan. “Hal ini menunjukkan kedua isolat telah adaptif pada lingkungan bekas tambang batuan kapur. Kedua spesies ini belum pernah dilaporkan sebagai komponen pupuk hayati seperti yang telah diperjualbelikan secara komersial,” kata Nisa.

Selain adaptif, kedua isolat juga tidak bersifat patogen bagi manusia maupun hewan. Berdasarkan kajian literatur, P. singorense juga bukan patogen tanaman. Artinya, potensi pemanfaatannya relatif aman.

Keunggulan formula bioaktivator ini tampak pada uji tambahan. Formula tersebut mampu menurunkan 86% bobot limbah tanaman. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan produk komersial lain yang hanya mencapai 15%.

Pada uji lapangan terbatas seluas sekitar 50 m2, pertambahan tinggi tanaman kaliandra juga menunjukkan hasil lebih baik. Perlakuan formula menghasilkan peningkatan tinggi 9,8%, sedangkan produk komersial 9,1%.

“Dari hasil penelitian ini, kedua isolat berpotensi digunakan sebagai pupuk hayati dan starter untuk proses pengomposan di area tambang batuan kapur atau lahan dengan komposisi tanah serupa,” ujar Nisa.

Meski hasilnya menjanjikan, pengujian lebih luas tetap diperlukan. Inovasi ini masih harus diuji pada skala penanaman yang lebih besar agar efektivitasnya semakin teruji.

Nisa juga mendorong penyimpanan isolat mikroorganisme potensial di culture collection seperti IPB Culture Collection. Langkah itu penting untuk menjaga keberadaan isolat sekaligus menjadikannya standar pupuk hayati asli Indonesia.

“Untuk proses hilirisasi perlu dukungan institusi dan pemerintah, sehingga manfaat pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik dan meningkatkan kualitas pupuk organik. Bagi petani dan praktisi pertanian, pupuk hayati dapat meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman setelah diaplikasikan berulang kali,” kata Nisa.

Inovasi ini membuka peluang pemanfaatan jasad renik lokal untuk mempercepat pemulihan lahan tambang kapur. Dengan pendekatan berbasis mikroorganisme asli Indonesia, langkah menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan semakin nyata.

Sumber: https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/02/hijaukan-lahan-bekas-tambang-kapur-dengan-bioaktivator-inovasi-ipb-university-masuk-117-inovasi-indonesia-2025/


Artikel Terbaru

Optimasi Pakan untuk Meningkatkan Produksi Telur Puyuh: Protein Tinggi vs Pakan Fermentasi

Produksi telur puyuh sangat ditentukan oleh keseimbangan nutrisi dalam ransum harian, khususnya kadar protein kasar (crude protein). Dalam Jurnal...

More Articles Like This