Perempuan masih kerap diposisikan sebagai pelengkap dalam sektor pertanian. Namun, Sumanah membuktikan sebaliknya. Pendiri sekaligus pemulia CV Jogja Horti Lestari itu menjadi salah satu figur penting dalam pengembangan benih hortikultura nasional. Atas kiprahnya, Sumanah menerima Indonesian Breeder Award pada 2015.
Penghargaan tersebut bukan datang tanpa proses panjang. Sumanah secara konsisten melakukan pemuliaan berbagai komoditas hortikultura, terutama kacang panjang dan cabai. Sejumlah varietas hasil karyanya telah dilepas, diproduksi, dan dipasarkan secara luas. Melalui kerja pemuliaan, Sumanah berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas benih dan produktivitas petani.
Kisah Sumanah mencerminkan peran strategis perempuan dalam pembangunan pertanian Indonesia. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari, Ph.D., menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pendukung, melainkan aktor utama dalam keberlangsungan sistem pangan.
“Perempuan telah secara turun-temurun bergerak di bidang pertanian. Mulai dari produksi di lapang, pemasaran, hingga pemanfaatan hasil pertanian di rumah tangga dan industri,” ujar Puji.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 memperkuat pernyataan tersebut. Dari total 38,8 juta tenaga kerja sektor pertanian, sebanyak 11,5 juta orang atau 29,6% merupakan perempuan. Keterlibatan itu mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pemasaran hasil tani.
Menurut Puji, kontribusi perempuan beragam, bergantung pada kondisi sosial wilayah. Di masyarakat agraris, perempuan terlibat langsung di lapangan. Sementara di wilayah nonagraris, peran perempuan lebih dominan pada sektor pemasaran dan pengolahan hasil. Karakter perempuan yang telaten, tangguh, dan sabar menjadi modal utama dalam mengelola usaha tani.
“Perempuan tahu apa yang paling dibutuhkan untuk mencetak generasi penerus yang sehat dan cerdas,” kata Puji.
