Monday, November 28, 2022

Kroto: Diburu, Diternak

Rekomendasi

Bekal umpannya terdiri atas campuran berbagai bahan: mi, telur bebek, susu manis, dan ikan tuna kaleng. Ada satu bahan wajib lain yang perlu dicampurkan: telur semut alias kroto. Tanpa itu mustahil Uyung bisa membawa pulang 3 – 5 kg ikan setiap kali memancing.

 

Kroto tak sulit didapat. Telur-telur semut rangrang Oecophylla smaragdina itu tersedia di penjual pakan burung dan toko aksesori pancing. Namun, kualitasnya tak selalu bagus. Warna kroto agak kehitaman dan terselip banyak semut rangrang mati. Yang dibutuhkan kroto kualitas super, putih mirip butiran beras. Namun, bagi Uyung harga seperempat kg kroto kualitas super yang diperlukan setiap kali memancing itu cukup mahal. Harganya kini mencapai Rp30.000 – Rp35.000 per 1/4 kg atau Rp100.000/kg. Maka dari itu sejak 10 tahun lalu ia pun memiliki pekerjaan sampingan menjadi pemburu kroto.

Senjata berburu kroto sederhana: bambu, kukusan – alat pengukus nasi dari anyaman bambu berbentuk segitiga, dan jaring. Ujung kukusan dipotong sepanjang 15 cm. Di lubang yang terbentuk di ujung kukusan itu kemudian dipasang jaring. Berikutnya kukusan diikat dengan tali pada ujung bambu yang panjangnya bisa mencapai 8 – 10 m. Setelah alat siap, barulah Uyung berjalan kaki mencari pohon-pohon yang ditinggali semut angkrang – sebutan rangrang di Jawa.

Lokasi perburuan kroto tak jauh dari rumah Uyung. Maklum wilayah Srengsengsawah masih hijau, banyak rerimbunan pohon. ‘Di sini semut rangrang kerap tinggal di pohon alpukat, rambutan, mangga, beringin,’ kata ayah 6 putra itu. Pohon-pohon itu umumnya berdaun agak lebar tak bergetah, dan bertajuk agak rapat. Trubus mengikuti acara berburu kroto pertengahan Mei 2009 bersama Uyung. Ia membidik sebuah pohon rambutan setinggi 10-an meter di pekarangan sebuah rumah. Dengan cekatan Uyung mengulurkan bambu untuk menggoyang-goyangkan sarang semut yang terbuat dari kumpulan daun. Tak sampai 5 menit segenggam telur telah terkumpul di ujung jaring. ‘Ini telur kroto super,’ ujar Uyung.

Menurut Uyung pekerjaan mencari kroto berisiko digigit semut. Yang paling sakit saat semut mengigit kulit lantas menyemburkan racun, asam format. Rasanya pedas dan perih di kulit. Tidak ada ramuan atau obat untuk menghindari gigitan si semut. ‘Pakai balsem, obat gosok, sampai oli tetap saja digigit,’ katanya. Paling banter saat si semut jatuh di atas tubuh, Uyung mengibas-ngibaskan tangan untuk mengusirnya. Kadangkala ia sampai melonjak-lonjak saat ada semut menelusup ke dalam baju atau celana.

Kroto tak hanya dicari pemancing sebagai umpan. Hobiis burung kicauan juga memanfaatkannya. Zahdi di Beji, Depok, Jawa Barat, misalnya, selalu memberikan sesendok makan kroto setiap hari pada seekor kacer dan perkutut, serta 2 murai koleksinya. ‘Tanpa pakan kroto suara murai serak dan bulunya jadi kusam,’ kata pegawai lepas di perusahaan telekomunikasi di Jakarta itu. Kroto diberikan tunggal tanpa campuran bahan lain.

Menurut Prof Dr Johan Iskandar, burung terutama dari jenis pemakan serangga, di alam memakan semut berikut telurnya – kroto (dari bahasa Jawa, red). Salah satu jenis burung itu adalah burung pelatuk. Burung yang menjadi ikon serial kartun dunia Wodywood Paker itu mematuk sarang semut lalu menjulurkan lidahnya untuk menjerat para semut dan kroto. ‘Untuk burung hias seperti murai yang bertipe pemakan serangga, kroto memang dapat diberikan,’ ujar ahli burung dari Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Soal moncer bersuara lantaran kroto, Johan menduga karena telur semut kaya protein. Nah, protein itu turut andil memperbaiki sistem metabolisme dan hormon di tubuh sehingga ujung-ujungnya burung menjadi lebih fit. Saat bugar itulah ia bakal moncer mengoceh. Penelitian pakan oleh Roni Ridwan dan Nahrowi, masing-masing dari Puslitbang Bioteknologi LIPI dan Ilmu Nutrisi Makanan Ternak IPB mengungkapkan kroto memiliki kandungan protein kasar sebesar 53,16%. Jumlah itu lebih tinggi daripada ulat hongkong (48,28%), tetapi di bawah jangkrik (73,05%).

Pasar burung merupakan penyerap kroto terbesar. Fakta itu terungkap saat Trubus menelusuri 3 pasar burung besar: Pasar Pramuka di Jakarta Timur, Pasar Ngasem di Yogyakarta, dan Pasar Sukahaji di Bandung. Supiyah di Pasar Sukahaji bisa menjual 30 kg/hari kroto yang didatangkan dari Lampung, Subang, Banjar, dan Tasikmalaya. Ia membeli seharga Rp55.000/kg dan menjual kembali Rp80.000 – Rp85.000/kg. Setidaknya masih ada 2 – 3 pedagang kroto setara Supiyah. Di Pasar Pramuka, Bambang menjual kroto super 10 kg/hari. ‘Pembelinya sudah mengantre sejak subuh,’ katanya. Pedagang pakan khusus kroto itu mendapat pasokan dari Lampung. Kroto-kroto itu dijual dalam besek – wadah terbuat dari anyaman bambu– masing-masing berisi 1 kg kroto.

Ada persamaan di antara para pedagang itu, ‘haram’ menahan kroto sampai berhari-hari. Paling bagus barang datang dan langsung habis terjual. ‘Kalau lewat sehari sudah berbau, apalagi yang kualitasnya rendah,’ kata Waginem, pedagang di Pasar Ngasem. Kecuali kroto super yang masih bisa disimpan di freezer hingga sepekan. Sedangkan yang tak laku pada hari itu dikeringkan lantas dijadikan bahan campuran untuk voer burung.

Sejauh ini sumber kroto masih bersandar pada kemurahan alam. Ini yang banyak dikhawatirkan: dapat mengganggu keseimbangan semut di alam. Sebuah sarang yang telah dipanen pemburu tak lagi akan ditinggali si semut. Mereka mengungsi ke tempat lain yang lebih aman. Kroto yang dihasilkan ratu semut merupakan penerus keturunan koloni. Artinya saat telur-telur itu terus dieksploitasi, kapan semut-semut itu sempat beregenerasi?

Padahal, peran semut rangrang demikian besar. Sejarah menunjukkan semut rangrang sudah dipakai sejak tahun 300 masehi di China sebagai pelindung tanaman jeruk. Ia menjaga jeruk dari serangan hama seperti kutu. Hal sama dilakukan pekebun di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk melindungi tanaman jeruknya dari serangan kutu daun dan kutu putih yang mengendon di pucuk-pucuk tanaman. Pun kebun-kebun kopi di Lampung yang juga menggunakan jasa semut rangrang.

Langkah untuk budidaya kroto bukan tak pernah dicoba. Namun, hasilnya bak jauh panggang dari api. Agung di Jawa Timur mencoba menernakkan semut dengan berbagai media seperti mi sisa dan tepung kedelai. ‘Hasilnya tidak bagus,’ katanya. Media itu malah cocok untuk menghasilkan mrutu, sejenis serangga seperti lalat untuk pakan walet Collocalia fuciphaga.

Yang menunjukkan tanda-tanda berhasil boleh jadi drh Budi Pramono di bilangan Kaliurang, Yogyakarta. Momon – sapaan akrab – melakukan budidaya kroto pada 2006. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu menaruh sebuah sarang semut rangrang di cabang atas pohon alpukat setinggi 2 m. Sarang itu diikat tali rafia. Agar semut tidak turun ke bawah, batang pokok dilumuri stempet alias gemuk. Berikutnya peneliti animal laboratory itu memberikan pakan ikan cere yang diletakkan di atas mangkuk terikat di cabang. Di sampingnya juga disediakan mangkuk berisi air.

Menurut Momon dalam sepekan, semut-semut itu sudah membuat 5 sarang lain. Hebatnya, saat dicek dengan membuka daun penyusun sarang, dijumpai kroto. ‘Intinya kalau pakan tersedia semut akan rajin bereproduksi,’ ujar Momon. Nah, bila cara itu sudah benar-benar terbukti bisa mencetak kroto melimpah, pemburu seperti Uyung tak perlu lagi bergantung pada alam. Ia cukup memanen kroto di halaman rumah. (Dian Adijaya S/Peliput: Lastioro Anmi dan Faiz Yajri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img