Pemberian pakan alami agar si liur emas betah dan mutu sarang meningkat.

Trubus — Cukup membuka segel dan letakan pakan 2 meter di bawah sirip rumah walet. Semudah itulah menerapkan pakan walet. Pakan anyar kreasi Harry Wijaya itu mengandung serbuk beras. Di dalamnya terdapat telur-telur kumbang beras Sitophilus oryzae dan serangga dewasa. Telur-telur itu menetas menjadi larva dan tumbuh menjadi imago atau serangga dewasa. Peniup atau blower di sisi pakan akan “menerbangkan” serangga dewasa yang menjadi pakan walet.
Serangga dewasa yang bertahan di beras akan berkembang biak sehingga ketersediaan pakan terjamin. “Kini praktis peternak hanya perlu meletakan pakan dan membuka segel,” kata Harry, praktikus walet di Jakarta. Pakan walet sebelumnya menghendaki tambahan air untuk aktivasi serangga. Butuh waktu beberapa hari hingga serangga dewasa muncul. Semula serangga sebagai pakan walet bukan kumbang beras Sitophilus oryzae. Jadi, ada dua kebaruan temuan Harry berkaitan dengan spesies dan tanpa penambahan air.
Lima kali

Menurut riset peneliti di Badan Karantian Pertanian, Dr. drh. Helmi, serangga pakan walet terbang berkoloni. Spesies yang dominan dari ordo Hymenoptera (62,6%), Coleoptera (19,6%), dan Hemiptera (17,4%). Kumbang beras sebagai hama gudang anggota ordo Coleoptera, jenis yang disenangi walet.
Menurut Harry seperti halnya manusia, walet pun bosan jika mengonsumsi pakan tunggal. Tambahan pakan bisa membuat si liur emas makin betah menginap karena ketersediaan pakan serangga beragam. “Kombinasi beragam pakan serangga disarankan,” kata Harry. Penelitian Helmi pun menunjukkan makin beragam serangga yang dimakan walet makin meningkatkan kualitas sarang. Indikatornya meningkatkan kandungan asam sialat pada sarang walet.
Menurut Harry pakan kreasinya bertahan hingga 6 bulan. Setelah segel terbuka, serangga masih bisa berbiak. Itulah sebabnya media pakan serangga serbuk akan habis. Pembelian pakan kumbang beras satu set dengan wadah, adaptor, dan peniup atau blower untuk “menerbangkan” pakan dari wadah. Peternak bisa mengatur peniup aktif hingga 5 kali per hari pukul 05.00, 15.00, 16.00, 17.00, dan 18.00. Durasi masing-masing 15 menit. Peniup berputar menghasilkan angin sehingga serangga akan terbang keluar dari media.

“Waktu aktivasi blower pakan disesuaikan dengan waktu aktif walet mencari pakan dan kembali ke rumah walet,” kata alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan itu. Menurut Harry pakan tambahan efektif terutama saat musim hujan. Saat musim panas pemberian pakan tambahan kurang optimal jika tidak dibarengi dengan perlakuan tambahan sprayer sebagai sarana minum walet. “Tanpa sprayer kotoran walet akan keras, itu salah satu tanda dehidrasi,” katanya.
Kebutuhan pakan tambahan disesuaikan dengan populasi atau jumlah sarang di rumah walet. Kebutuhan pakan per 10 sarang atau populasi 10 pasang adalah 1 boks pakan terdiri atas 4 bahan pakan. Harry menyarankan peternak meletakan pakan di area lembap sesuai habitat kumbang beras. Tambahkan pakan sebelum benar-benar benar habis. Contohnya jika pakan habis total dalam kurun 6 bulan, tambahan pakan anyar pada bulan ke-5. Tujuannya agar pakan selalu tersedia. Menurut Philip indikasi pakan buatan disenangi adalah walet kerap aktif terbang di dalam gedung seperti berburu serangga.
Lingkungan
Pemilik gedung walet di Kelurahan Baganbatu, Kecamatan Bagansinembah, Kabupaten Rokanhilir, Riau, Muhammad Haris, menuturkan, pakan tambahan memang efektif mengundang walet menginap di gedung. Namun, menjaga lingkungan sebagai tempat pakan alami juga tak kalah penting. Indikasi ketersediaan serangga pakan alami berkurang dengan kebiasan walet pulang larut malam.

Itu pertanda walet jauh mencari pakan. Jika dibiarkan walet bisa bermigrasi ke tempat dengan pakan alami lebih banyak. Menurut alumnus Jurusan Peternakan, Universitas Padjadjaran, Turaina Ayuti, kemampuan walet menjelajah home range radius 25—40 kilometer. Kemungkinan si liur emas mencari pakan di luar area tempat tinggalnya. Lokasi ideal untuk walet mencari pakan berupa campuran sawah dan tegalan (50%), lahan basah (20%), dan daerah berhutan (30%).
Menurut praktikus walet di Jakarta, Philip Yamin, lingkungan dan ketersediaan pakan adalah hal utama menentukan lokasi gedung walet. Bahkan tren anyar membangun rumah walet di luar jalur lintasan dengan kondisi lingkungan asri dan tempat pakan walet masih tersedia. Harapannya kelak daerah itu sebagai sentra baru karena ketersediaan pakan masih cukup. (Muhamad Fajar Ramadhan)
