Sunday, July 14, 2024

Kunci Memanen Minyak Myristica

Rekomendasi
- Advertisement -
Pasar minyak pala relatif stabil. (Dok. Trubus)

Minyak pala selalu laku. Kini harganya Rp600.000 per kg.

Trubus — Dua puluh tahun terakhir, Srikandi—nama disamarkan atas permintaan narasumber—membantu kakak kandungnya berbisnis minyak asiri. Ketel penyulingan mereka di Kabupaten Bogor, Jawa Barat berkapasitas total 4,5 ton bahan baku itu beroperasi nyaris nonsetop, kecuali ketika dibersihkan. Ibu 3 anak itu mengandalkan pasokan bahan baku dari berbagai pemasok, seperti Lampung, Jawa Tengah, atau beberapa daerah di Jawa Barat. Saat musim sela pada Februari—Maret pun pasokan biji atau fuli tetap mengalir.

Yang membedakan adalah kualitas. “Pada musim hujan pengeringan terganggu sehingga kadar air tinggi. Biji harus segera diproses sebelum ditumbuhi cendawan,” kata Srikandi. Efeknya, kadar air biji tinggi sehingga mengurangi rendemen minyak.

Biji pala mengilap lebih cocok untuk rempah. (Dok. Trubus)

Kering angin terbaik

Sebaliknya biji dan fuli hasil panen saat kemarau, karena pengeringan optimal, menghasilkan rendemen tinggi. Menurut Srikandi, “Rendemen pada musim hujan atau pancaroba 9—10%, tapi kalau kemarau bisa sampai 15%,” katanya. Menurut ahli pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, Dr. Otih Rostiana, M.Sc., biji pala umur muda sampai sedang (4—6 bulan) mengandung 8,7—14,5% minyak asiri.

Otih menyatakan, pada musim hujan kandungan asiri berkurang lantaran kadar air buah meningkat. Harga biji pala pun fluktuatif tergantung panen. Menurut pemilik pohon pala di Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Euis Roswati, musim panen raya harga cenderung turun karena hukum ekonomi. “Saat itu pemilik pohon banyak yang menjual buah dengan sistem tebas,” kata Euis. Ia menyatakan, kebanyakan yang menjual dengan sistem tebas adalah pekebun yang membutuhkan uang cepat.

“Kalau tidak segera memerlukan uang, pekebun bisa mengupas pala, menjemur, lalu menyimpan. Simpanan itu bisa dijual begitu harga tinggi,” kata Euis. Itulah yang dilakukan sebagian pengepul bermodal kuat yang membeli buah pala dengan sistem tebas. Namun sebagian lain, yang bermodal pas-pasan, harus segera menjual kepada eksportir maupun penyuling seperti Srikandi agar modal mereka kembali.

Biji pala kelas bejo menghasilkan minyak paling banyak. (Dok. Trubus)

Srikandi menerima pasokan biji pala kupas setelah memeriksa kualitasnya. Pada Maret 2019, ia membeli biji pala basah (belum jemur) seharga Rp16.000 per kg di pintu penyulingan miliknya. Ia juga membeli pala kering dari pengepul atau pekebun dengan harga berbeda-beda. “Harga tergantung umur panen, kadar air, jenis pala, keutuhan, atau kebersihan dari cendawan,” katanya. Biji pala terbaik untuk penyulingan adalah biji dari buah muda, berumur 3—4 bulan. Lebih dari itu rendemennya turun.

Biji pala yang kering karena dijemur seharian di bawah sinar matahari kurang bagus karena rendemen minyaknya lebih rendah. Pengeringan terbaik adalah dengan cara mengangin-angin biji maupun fuli. Kalaupun dijemur, tidak lebih dari 2 jam, itu pun tidak di tengah hari yang terik. Jenis pala yang Srikandi beli hanya pala Myristica fragrans hasil budidaya. Ia tidak menggunakan pala hutan atau pala asal Papua. Menurut Otih Rostiana, pala asal Papua berbeda spesies, yaitu M. argentea. “Kandungan dan kualitas minyak asirinya pun agak berbeda,” katanya. Secara umum, penyuling pala menghendaki biji pala kelas bejo. Biji itu berasal dari buah berumur 3—4 bulan yang kering sempurna pascapengupasan.

Pasar terbuka

Srikandi menggarisbawahi bahwa kebutuhan biji pala untuk penyulingan berbeda dengan biji untuk rempah. “Biji tua untuk rempah justru minim kandungan minyak,” ujarnya. Untuk penyulingan, pekerja melumat biji hingga menjadi butiran kasar berukuran maksimal 1 cm. Pekerja ketel lantas memasukkan pecahan-pecahan itu dalam ketel, menutup rapat ketel lalu mengalirkan uap panas. Pemanasan sistem uap itu memberikan hasil terbaik karena bahan baku tidak dipanasi langsung.

Perendaman sebelum pengeringan untuk mempermudah pengupasan fuli. (Dok. Trubus)

Menurut Srikandi satu siklus penyulingan memerlukan waktu hingga 30 jam. Mereka melanjutkan proses itu sampai ujung pipa kondensor hanya mengeluarkan air. Pascapenyulingan, ketel mereka kuras sebelum memasukkan bahan baku berikutnya. Dalam seminggu, penyulingan milik Srikandi dan kakaknya memproses minyak paling banyak 3 kali.

Soal pasar, perempuan 43 tahun itu tidak bingung. Ia menjalin hubungan dengan sedikitnya 4 pembeli di Jakarta dan Surabaya. “Kalau salah satu tidak membeli, yang lain mau menerima,” ungkapnya. Harga terakhir yang ia terima adalah Rp600.000 per kg. Menurut anggota staf logistik pengolah minyak asiri di Cileungsi, Bogor, PT Indesso Aroma, Mimbar Ari Saputro, pasar minyak pala relatif stabil. Pemanfaatannya beragam sehingga produsen tidak perlu khawatir. Yang penting, penyuling jeli memilih bahan baku dan waspada permainan harga sehingga terhindar dari kerugian. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Khasiat Daun Ketepeng Cina, Berpotensi Kendalikan Kadar Kolesterol Darah

Trubus.id—Daun ketepeng cina berpotensi menurunkan kadar kolesterol darah. Itulah hasil riset Nisa Khoirila dan Muhammad Walid dari program Studi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img