Permintaan nila terus berkembang. Pasar dalam negeri mencari pasokan. Peluang ekspor terbuka lebar.

Trubus — Semula Bebo Heri Wibowo hanya memiliki 1 kolam nila berukuran 6 x 10 m pada Juli 2017. Dua tahun berselang Bebo mengelola sekitar 14,5 hektare kolam nila di berbagai daerah seperti di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, dan Trisik, Kabupaten Kulonprogo, keduanya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bahkan kolam nila milik Bebo meluas ke Desa Jatimalang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 2019.
Bertambahnya luas lahan mempengaruhi hasil produksi. Kapasitas produksi kolam milik Bebo pun cenderung meningkat saban tahun. Ia memproduksi 300—500 kg nila per pekan pada 2017, 2 ton per pekan pada 2018, dan 5 ton per pekan pada 2019. “Rencananya kapasitas produksi mencapai 10—15 ton per pekan pada 2020,” kata warga Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, itu. Jika harga nila Rp25.000 per kg, maka omzet Bebo Rp125 juta setiap pekan.
Eskpor
Setelah dikurangi ongkos produksi, rekening tabungan Bebo bertambah minimal Rp15 juta per pekan. Konsumen Bebo para pengepul di Yogyakarta dan daerah lain seperti Klaten, Purworejo, Surakarta, Wonosobo, dan Pati. Semuanya berada di Jawa Tengah. Kini 3 ton nila produksi Bebo mengisi pasar Yogyakarta, sedangkan 2 ton nila tersebar di 5 daerah itu. Ia memperluas pasar hingga luar Yogyakarta agar hasil produksi terserap pasar.

Kapasitas produksi Bebo yang saat ini mencapai 5 ton/pekan belum memenuhi permintaan yang datang. “Ceruk pasar nila masih sangat besar,” kata pria berumur 42 tahun itu. Jika Bebo memasarkan 6 ton nila di Yogyakarta pun pasti terjual. Pasar di luar Yogyakarta pun masih menerima jika kapasitas produksi nila milik Bebo 4 ton/pekan. Dengan kata lain, jika semua kolam Bebo memproduksi 10 ton per pekan pun pasti terserap pasar. Menurut Bebo kebutuhan nila di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang mencapai 50 ton per hari pun belum terpenuhi.
Ia menghitung ada peluang pasar sekitar 16 ton nila per hari di Jabodetabek. Yang paling fenomenal tentu saja rencana ayah 3 anak itu mengekspor nila pada 2020. Semua perizinan ekspor sudah dikantongi. Ia pun sudah menyebarkan surat penawaran kepada calon pembeli dari mancanegara. Hanya menunggu semua kolam berproduksi. Harap mafhum 10 hektar lahan di pesisir belum berproduksi. Ia bakal menghasilkan 10—15 ton tilápia—sebutan nila di Portugal—jika semua kolam beroperasi.

Ia berencana mengekspor nila beku tanpa jeroan. Perkembangan usaha budidaya nila kepunyaan Bebo yang begitu pesat menunjukkan peluang pasar nila cerah. “Saya optimis pasar nila akan terus bagus. Peluang nila besar sekali setelah pemasaran merambah ke luar negeri,” kata pria yang pernah bekerja di perusaahaan bidang konstruksi di luar negeri selama 12 tahun itu.
Saat ini perusahaan produsen dan pengolah ikan nila terpadu dan bertanggung jawab di Indonesia, Regal Springs Indonesia, yang mengekspor filet nila ke mancanegara seperti Amerika Serikat, Afrika Selatan, serta negara-negara di Uni Eropa dan Asia. Penjualan filet nila cenderung meningkat setiap tahun. Kini produk kualitas ekspor itu pun beredar di pasar swalayan dalam negeri sejak 2019. Selain filet nila, produk lain perusahaan yang didirikan pada 1988 itu meliputi nila siap masak (tanpa insang, sisik, dan jeroan) dan kepala ikan nila.
Pasar luas

M.M.A
Kepala Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Cangkringan, Sleman, DIY, Supanto, S.Pi., M.M.A., mengatakan pasar nila tidak jenuh dengan adanya teknologi kincir di kolam (Baca Ikan Nila: Spektakuler Panen Naik 400% halaman 12—15). Supanto mengatakan, ”Sebetulnya permintaan nila banyak. Tantangan kita adalah memenuhi kuota secara kontinu.”
Oleh karena itulah, Bebo memperbesar skala usaha agar dapat memenuhi permintaan secara kontinu. Menurut Supanto ada pemasok di Yogyakarta yang menerima berapa pun pasokan nila berbobot lebih dari 300 gram. Ada juga pembeli dari Jakarta yang menunggu 2—3 ton nila berbobot sama. Lebih lanjut Supanto menuturkan pasar nila relatif luas. Mulai dari larva hingga 1 kg berisi 2—3 ekor masing-masing memiliki pasar.
Ukuran besar berapa pun masuk karena bisa diolah menjadi filet, abon, dan menu di rumah makan elit. Indikator lain berkembangnya buddidaya nila terlihat dari penjualan calon induk dan induk yang cenderung meningkat setiap tahun di BPTPB Cangkringan. Perniagaan calon induk dan induk tidak melulu di Pulau Jawa. Pembudidaya nila di Samarinda, Kalimantan Timur, pun mendapatkan pasokan calon induk dan induk nila dari BPTPB Cangkringan.

Menurut Supanto keunggulan nila antara lain budidaya dan pemijahan relatif mudah, warna cantik, masa budidaya relatif pendek, kandungan protein cukup bagus, dan berharga terjangkau. Pembenih nila sejak 2000, Anjar Purnomo, mengatakan, kelebihan lain budidaya Oreochromis niloticus yaitu memberikan laba lebih tinggi daripada budidaya ikan lain seperti lele. “Minimal keuntungan bersih pembesaran nila Rp4.000 per kg. Sementara pada budidaya lele, untuk mendapatkan laba Rp2.000/kg relatif sulit,” kata warga Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, itu.
Oleh sebab itulah Anjar menggeluti usaha pembesaran tilapia del nilo—sebutan nila di Spanyol—sejak 2016. Alasan lainnya karena ada benih yang tidak terjual pada musim tertentu sehingga mesti dibesarkan. Selain itu, pembesaran nila tidak memerlukan air mengalir. Apalagi kini muncul budidaya nila menggunakan kincir air. Pembesaran ikan introduksi dari Afrika itu makin mudah. Anjar tidak hanya menjual nila dari kolam sendiri. Ia pun menjadi pengepul nila sejak pengujung 2017.
Olahan
Saat ini ia memasarkan 4—5 ton nila per bulan ke pedagang dan warung makan sekitar kolam. Pasokan itu menyesuaikan permintaan yang datang. Sejatinya pasar nila Anjar bisa diperbesar. Ada permintaan 5 kuintal nila beku per pengiriman dari pabrik pengolahan ikan di Surabaya, Jawa Timur. Sayangnya Anjar hanya sanggup memasok 4—5 ton nila per bulan. “Itu batas kinerja saya. Sebab pemasok dan pembesaran hanya pengembangan usaha saya,” kata Sekretaris Kelompok Pembudidaya Ikan Mina Raya itu.

Salah satu pembudidaya nila senior di Kabupaten Sleman, Susanto, pun, merasakan pasar nila berkembang. Ia menargetkan bisa memanen 8 ton nila per 3 bulan dari 8 kolam pembesaran. Tidak hanya pembudidaya di Sleman yang merasakan gurihnya laba ikan anggota famili Cichlidae itu. Nun di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Pandu Sujatmiko, menuai 3—4 ton nila per bulan dari 15 kolam pembesaran. Semula Pandu hanya memiliki 2 kolam pembesaran yang menghasilkan 1,5 ton nila per 3 bulan.
Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3), Kabupaten Sleman, DIY, Ir. Sri Purwaningsih, M.M.A., juga optimis dengan prospek nila. “Pasar nila masih luas saat ini. Bahkan belum memenuhi permintaan pasar. Jika produksi melimpah pun kita bisa bikin olahan,” kata Sri. Meski begitu banyak aral mengadang jika ingin membudidayakan ikan air tawar itu. Terutama di daerah rawan kekeringan. Harap mafhum nila termasuk ikan yang memerlukan oksigen terlarut relatif tinggi. Susanto mengatakan bibit, pakan, ketersediaan oksigen, dan kesehatan ikan, merupakan kunci sukses membudidayakan nila. (Riefza Vebriansyah)
