Monday, February 26, 2024

Laba Labu Eksotis

Rekomendasi
- Advertisement -

Pekebun butternut squash meraih laba tinggi.

Butternut squash labu eksotis dengan keuntungan menarik.
Butternut squash labu eksotis dengan keuntungan menarik.

Keputusan Afroni Akhmad membudidayakan butternut squash Cucurbita moschata setahun silam ibarat berkat. Semula sekadar mencoba-coba. Kini labu berbentuk eksotis itu mendatangkan rupiah berlimpah baginya. Dalam setahun pekebun di Kota Malang, Jawa Timur, itu meraup omzet fantastis, yakni hingga Rp1,2-miliar. Omzet sebanyak itu ia peroleh dari hasil penjualan 40 ton butternut squash dengan harga terendah Rp30.000 per kilogram.

Pria yang juga pekebun melon itu menjual butternut squash ke sejumlah pasar swalayan ternama di Jawa Timur. Afroni mengebunkan butternut squash di lahan 2 hektar. Ia menanam secara bertahap agar pasokan buah berkelanjutan. Sekali menanam Afroni menyemaikan 2.500 benih. Dalam setahun ia menanam empat kali atau total 10.000 tanaman. Dari satu tanaman pekebun ia memanen 4—5 buah dengan bobot rata-rata 1 kg per buah.

Tren

Afroni membanderol produknya Rp30.000—Rp40.000 per kg. Harga jual itu jauh lebih mahal daripada harga jual labu parang yang hanya Rp5.000—Rp7.000 per kg. “Selama ini pasokan butternut squash masih mengandalkan impor dan jarang dikebunkan di tanahair,” ujarnya. Menurut Afroni biaya produksi untuk membudidayakan butternut squash Rp10.090 per kg, belum termasuk biaya sewa lahan.

Gatot Arifin (berkaus jingga) dan Afroni Ahmad kian mantap berkebun butternut squash lantaran mendatangkan untung.
Gatot Arifin (berkaus jingga) dan Afroni Ahmad kian mantap berkebun butternut squash lantaran mendatangkan untung.

Artinya, ia memperoleh laba hingga Rp796,4-juta per tahun. Dengan laba sebesar itu pantas bila Afroni kian mantap berkebun butternut squash. Farid Agus Prianto di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, juga merasakan manisnya berkebun kerabat mentimun itu. Kini Farid mampu menghasilkan 20 ton butternut squash setiap 6 bulan. “Jumlah itu baru mencukupi 20% permintaan pasar,” ujarnya.

Farid menjual hasil panen ke konsumen di Pulau Bali dengan harga Rp35.000—Rp40.000 per kg. Dengan harga jual terendah saja, Farid memperoleh pendapatan hingga Rp700-juta. Setahun terakhir memang kian banyak yang membudidayakan tananam anggota famili Cucurbitaceae itu. Selain Afroni dan Farid, pekebun lain Marsudi turut membudidayakan butternut squash di lahan 500 m² dengan total populasi 300 tanaman.

Pekebun di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, itu memanen 500 kg butternut squash. Pria 44 tahun itu juga memasarkan produknya ke Pulau Bali dengan harga jual Rp30.000 per kg. Membudidayakan butterut squash bukan hanya kisah bahagia para pekebun. Mereka juga menghadapi beragam hambatan sejak di lahan hingga memasarkan hasil panen (baca boks: Aral Tanam Butternut)

Para petani menjalin kerja sama dengan Forum Petani Butternut Squash Indonesia (FPBSI) untuk memasarkan butternut squash. FPBSI perkumpulan resmi yang mewadahi para kebun butternut squash di seluruh tanahair. Forum itu berperan untuk saling berbagi informasi tentang seluk-beluk berkebun butternut squash mulai dari perolehan benih, budidaya, hingga cara memasarkan.

Luar Jawa
Tren budidaya butternut squash tak hanya melanda Pulau Jawa. Nun di Provinsi Lampung, ada Akhmadi yang mengebunkan 1.500 tanaman. Dari populasi itu menghasilkan 5—7 kg buah per tanaman atau total 7,5—10,5 ton. Ia menjual hasil panen melalui FPBSI dengan harga Rp35.000 per kg. Adapula Alex Munandar Putra di Pekanbaru, Provinsi Riau, yang menanam 4.500 tanaman dengan jumlah hasil 22,5 ton.

Alex menjual buah tanaman anggota famili Cucurbitaceae itu kepada perusahaan pemasok buah Rp25.000 per kg. Dengan harga jual itu Alex memperoleh pendapatan Rp562,5-juta. Ia memasarkan buah kerabat melon itu ke sejumlah kota besar, seperti Medan, Batam, dan Pekanbaru. Menurut Alex butternut squash marak dikebunkan sejak 2014. “Selain bersosok unik, butternut squash kaya nutrisi,” ujarnya.

Pemasok buah di Kota Medan, Sumatera Utara, Erdianto, menuturkan penjualan butternut squash mulai menggeliat sejak 2016. Permintaan paling banyak datang dari konsumen di Jakarta dan Pekanbaru. Volume buah yang diminta hingga 16 ton setiap bulan. Namun, Erdianto hanya mampu memasok 25% alias 4 ton setiap bulan. “Untuk seputaran Medan sendiri kebutuhan buah mencapai 3 ton setiap bulan,” ujarnya.

Display butternut squash di sebuah swalayan di Jawa Timur.
Display butternut squash di sebuah swalayan di Jawa Timur.

Menurut, penyelia Superindo wilayah Jawa Timur, Yusuf Wahyudi, konsumen yang mengincar labu eksotis sebagian besar berasal dari golongan menengah ke atas. “Mereka menggemari citarasa buah yang unggul yakni lembut, bahkan bisa dikonsumsi mentah,” tuturnya. Yusuf menuturkan respons konsumen cukup bagus. Padahal, butternut squash tergolong produk baru. Superindo menghendaki buah berkualitas premium, mulus, manis, dan jelas asal benihnya. “Volume penjualan mencapai 3,2 ton setiap bulan,” kata Yusuf.

Permintaan tinggi
Permintaan butternut squash terus meningkat. Petani di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Antonius Marsudi Nugroho, misalnya menuai 7,5 ton dari 1.500 tanaman di lahan 1.500 m². Itu masih jauh dari permintaan pasar yang mencapai 2 ton per pekan. Butternut squash siap panen pada umur 80—100 hari setelah tanam. Hasil panen Akhmadi juga baru memenuhi 10% permintaan pasar.

Marsudi juga kewalahan melayani permintaan. Bahkan ia terpaksa membuahkan tanaman lebih cepat lantaran desakan konsumen yang ingin segera memperoleh buah. Ia mempertahankan buah yang muncul di ruas ke-3 atau ke-4. Padahal, lazimnya ia membuang buah yang muncul lebih awal itu karena mengganggu pertumbuhan tanaman. Tanaman biasanya siap dibuahkan bila memiliki minimal 17 ruas. (Andari Titisari/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan dan Syah Angkasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Inovasi Pakan Itik: Riset Ilmiah Membuktikan Eceng Gondok Terfermentasi Meningkatkan Bobot Itik

Trubus.id—Riset ilmiah membuktikan eceng gondok terfermentasi meningkatkan bobot itik. Siska Fitriyanti, S.Si, M.P., peneliti muda di Badan Penelitian dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img