Trubus.id—Produk pengganti kayu itu amat unik. Sebab berasal dari limbah plastik dan sekam padi. Produk itu kreasi Juan Aprilliano Chandra.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat pada 2021 total sampah nasional mencapai 68,5 juta ton. Sebanyak 11,6 juta ton setara 17% merupakan sampah plastik.
Prihatin akan hal itu, Pria asal Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten itu, berkreasi mendaur ulang limbah plastik menjadi papan. Ia Bersama Joshua Christopher Chandra dan Kenny Lukito mendirikan perusahaan bernama Plana.
Nama itu diambil dari singkatan plastic for nature. Tak sekadar mendaur ulang, Plana juga melakukan up-cycling dengan sistem produksi massal berkonsep manufaktur dan kualitas terjamin.
Produk utama Plana yakni Plana wood dan Plana brick. Unik, Plana wood bukan berbahan kayu melainkan campuran sekam padi dan sampah plastik. Komposisi produk itu 60% sekam padi, 30% sampah plastik, dan 10% bahan aditif.
“Kalau menggunakan kayu, perlu waktu 30—50 tahun untuk memanennya. Regenerasinya lama. Akhirnya, kami gunakan sekam padi yang didaur ulang bersama plastik,” tutur Juan.
Kelebihan lain sekam padi mengandung bahan lignoselulosa sehingga menyebabkan timbulnya sifat kuat dan kaku. Maka dapat dibuat sebagai bahan komposit.
Semula sekam padi hanya limbah kini bersalin rupa menjadi papan. Keruan saja, mengurangi timbulan limbah sekam padi. Pengolahan 1 kg beras menghasilkan 600—700 g sekam.
Bayangkan berapa ton sekam yang dihasilkan bila petani memanen padi 3—4 kali setahun. Bahan sekam padi Plana peroleh dari petani mitra. Juan menjelaskan untuk satu penutup lantai atau decking membutuhkan bahan baku 2,4 kg sampah plastik dan 4,8 kg sekam padi.
Saat ini pemanfaatan papan komposit dari sekam padi sebagai bahan bangunan rumah, peredam panas, dan tempat penyimpanan. Bahan plastik yang digunakan merupakan plastik high density polyethylene (HDPE).
Jenis itu memiliki titik lebur yang tinggi dan sesuai dengan karakteristik untuk membuat produk Plana. Hingga kini Plana memasarkan produk ke perusahaan konstruksi.
Sejak berdiri pada 2018, Plana menggunakan sekitar 400 ton sampah plastik dan 880 ton sekam padi. Jumlah itu setara sekitar 280.000 pohon yang terselamatkan.
