Trubus.id-Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta Dermavant dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi adjuvant vaksin berbasis bahan alami. Inovasi ini diformulasikan dalam bentuk patch transdermal dengan sistem emulsi ganda.
Tim tersebut terdiri dari lima mahasiswa lintas disiplin ilmu, yaitu Alif Afzalurrohman (Biologi 2024), Sekar Ayu (Farmasi 2022), Zahwa Khoirun Nisa (Biologi 2022), Alvian Chesyar (Farmasi 2022), dan Basofi Muzaky (Farmasi 2024). Mereka dibimbing oleh Dr. apt. Adhyatmika, M. Biotech., dosen Fakultas Farmasi UGM.
Proyek ini berangkat dari kebutuhan akan metode vaksinasi yang mudah dan dapat dilakukan secara mandiri. Patch transdermal yang dikembangkan memungkinkan pengaplikasian tanpa bantuan tenaga medis.
Tim mengembangkan sistem nanoemulsi bertipe water-in-oil-in-water (W/O/W) untuk membantu penghantaran bahan aktif menembus lapisan kulit. Sistem ini dirancang agar stabil dan efektif saat diaplikasikan secara topikal.
“Fase nano-emulsi ini membantu zat target menembus kulit dengan lebih mudah dan merata,” ujar Alif, Ketua Tim Dermavant, Sabtu (18/10). Formulasi ini menjadi kunci dalam keberhasilan patch sebagai media penghantar vaksin.
Minyak sacha inchi digunakan sebagai bahan utama karena mengandung lemak omega-3, 6, dan 9 yang mendukung sistem imun. Sementara itu, kitosan dari cangkang udang dan kepiting berperan sebagai imunostimulator alami.
Patch transdermal yang dikembangkan memiliki sifat non-invasif dan tidak menimbulkan rasa sakit saat digunakan. Hal ini membuatnya nyaman dan praktis untuk berbagai kalangan.
Alif menyebutkan bahwa proses penelitian memerlukan waktu panjang untuk mencapai formula yang stabil dan efektif. Formulasi berbasis bahan alam seperti minyak sacha inchi dan kitosan masih jarang digunakan dalam riset adjuvant vaksin.
Uji coba dilakukan pada hewan model mencit dengan pengamatan pada parameter imun, khususnya TNF-α. Hasil menunjukkan peningkatan respon imun pada mencit yang diberi patch.
“Sejauh ini, aktivitas imun mencit yang diberi patch menunjukkan hasil yang positif,” jelas Alif. Data tersebut menunjukkan potensi efektivitas formulasi yang dikembangkan.
Melalui pemanfaatan bahan alam, tim Dermavant berharap inovasi ini dapat menjadi solusi baru dalam dunia kesehatan. Mereka juga menargetkan kontribusi pada kemandirian riset dan pengembangan teknologi kesehatan berbasis lokal.
“Inovasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan vaksin berbasis patch di masa depan,” pungkas Alif.
