Konsumsi lemak dan protein memperbaiki kesehatan dan mengurangi kelebihan bobot tubuh.

Berbobot tubuh 125 kg membuat Ilham Nurwan kesulitan beraktivitas. Mobilitasnya terbatas dan mudah lelah meski baru beraktivitas sebentar. Itulah sebabnya Ilham berupaya menurunkan bobot tubuh. Pria 30 tahun itu pun mengubah pola konsumsinya. Ia mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak serta menghindari konsumsi karbohidrat atau gula. Itulah diet ketogenik.
Ilham lebih banyak menyantap orak-arik telur, daging berlemak, atau gulai ayam. Semua tanpa nasi dan sayur. Selain itu ia juga mengonsumsi minyak kelapa murni (VCO), keju, dan mayonaise. Warga Medan, Sumatera Utara itu juga membatasi makan malam paling lambat pukul 20.00 dan baru makan lagi pukul 14.00 hari berikutnya. Untuk mempertahankan stamina, ia rutin berolahraga 30 menit setiap hari.
Lemak tinggi

Upaya Ilham menunjukkan hasil, bobotnya menyusut 14 kg pada bulan pertama. Hal itu berlanjut dan bulan selanjutnya bobotnya turun tinggal 104 kg. ”Saya masih ingin mengurangi bobot setidaknya 24 kg lagi,” kata Ilham. Pengalaman nyaris serupa dirasakan Hanny Asmarany. Selama hampir 1 bulan perempuan di Cibubur, Jakarta Timur, itu hanya mengonsumsi protein dan lemak hewani dari ikan.
Hasilnya lingkar pinggang ibu 1 anak itu berkurang dari 80 cm menjadi 74 cm. Staminanya membaik dan tidak lesu atau mudah mengantuk. Padahal selama menjalani diet ketogenik, ia berpuasa pada siang hari. Dalam diet ketogenik, 77—90% kebutuhan kalori harian dipenuhi dari lemak, 6—20% dari protein, dan asupan karbohidrat maksimal 5%. Minimnya asupan karbohidrat itu memaksa tubuh memanfaatkan cadangan karbohidrat.

Saat cadangan karbohidrat terkuras, hati akan memecah lemak menjadi asam lemak berbentuk keton sebagai sumber energi. Tingginya kadar keton dalam tubuh itu disebut ketosis, yang menjadi mekanisme utama diet ketogenik. Menurut dokter dan herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Prapti Utami, mulanya ketosis bagian terapi epilepsi. “Kondisi ketosis mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan serangan epilepsi, walaupun alasannya belum dipahami,” kata dr Prapti .
Dalam perkembangannya, diet ketogenik banyak dilakukan orang yang ingin menurunkan bobot badan. Pelaku ketosis mesti selektif memilih sumber makanan. Lemak bukan berasal dari sembarang sumber, melainkan harus jenis lemak sehat. Lemak jenis itu terdapat dalam daging, telur, minyak nabati dari avokad, zaitun, biji bunga matahari, minyak ikan, mentega, lemak keju, lemak susu, atau biji-bijian.

Prapti Utami menjelaskan, prinsip diet ketogenik hampir sama dengan diet lain, yaitu memangkas konsumsi karbohidrat. Tubuh manusia mampu merespons perubahan pola konsumsi dan segera beradaptasi. Metabolisme manusia bisa berbeda-beda sehingga tidak setiap orang cocok melakukan ketogenik. “Jika sesuai dengan metabolisme tubuh maka kondisinya membaik, tapi kalau sebaliknya, diet bisa gagal bahkan merugikan kesehatan.
Senada dengan Prapti, konsultan nutrisi di Kebonjeruk Jakarta Barat, Susan Hartono MSc CHt menganjurkan pelaku diet memilih jenis atau model diet sesuai kondisi tubuh. “Diet ketogenik untuk mengurangi bobot populer di kalangan body builder atau binaragawan. Pasalnya, “Asupan protein cocok untuk membentuk otot, syaratnya dibarengi olahraga yang cukup,” kata Susan. Ia mengingatkan bahwa tubuh manusia membutuhkan asupan karbohidrat, protein, lemak dan mineral yang cukup dan berimbang.
Disiplin

Tubuh sehat memerlukan asupan bahan-bahan itu. Bila komponen itu terpenuhi maka tubuh sehat, tapi kalau berlebih maka akan menumpuk dalam tubuh dan dapat mengganggu kesehatan. Sayang, tidak semua pelaku diet ketogenik melakoninya secara disiplin. Sebagian menerapkan diet ketogenik sembarangan dan hanya menekankan rendah karbohidrat saja. Padahal volume dan kualitas asupan lemak serta protein mesti menjadi perhatian.
Hasilnya sekadar menurunkan bobot badan namun tidak memperbaiki kondisi kesehatan. Susan menambahkan, berkurangnya makanan sumber karbohidrat dapat mengurangi nutrisi yang hanya terdapat pada makanan itu. Berhenti mengonsumsi nasi artinya tidak memperoleh asupan serat. Pelaku diet harus mengonsumsi bahan makanan pengganti yang sama-sama mengandung serat tapi minim atau bebas karbohidrat.
Prapti menganjurkan pelaku diet ketogenik rutin memeriksakan kesehatan untuk mendeteksi terjadinya ketidakseimbangan nutrisi dalam tubuh. Ia mencontohkan, kelebihan protein memaksa liver bekerja lebih keras untuk mengubah protein menjadi energi. Dalam jangka panjang, hal itu bisa memicu gangguan fungsi hati. Dengan pemeriksaan rutin, gangguan organ akibat diet bisa cepat terdeteksi. (Muhammad Awaluddin)
