Monday, November 28, 2022

Malu Aku Menatap Wajah Saudaraku Para Petani Taufiq Ismail *

Rekomendasi

Di pedalaman, di pantai dan lautan, Terasa olehku denyut irigasi, pergantian cuaca, kemarau dan banjir datang dan pergi dan tanah airku yang digebrak krisis demi krisis, seperti tak habis-habis terpincang-pincang dan sempoyongan

Berjuta wajahmu tampak olehkuwahai saudaraku petani, dengan isteri dan anakmu garis-garis wajahmu di abad 21 ini masih serupa dengan garis-garis wajahmu abad yang lalu garis-garis penderitaan berkepanjangan dan aku malu aku malu padamu

Aku malu padamu, wahai saudaraku petani di pedesaan Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani Beras yang masuk ke perut kami Harganya kalian subsidi Sedangkan pakaian, rumah dan pendidikan anak kalian Tak pernah kami orang kota Kepada kalian petani, ganti memberikan subsidi

Petani Saudaraku Aku terpaksa mengaku Kalian selama ini kami jadikan objek Belum lagi subjek Berpuluh-puluh tahun lamanya Aku malu

Hasil cucuran keringat kalian berbulan-bulan Bulir-bulir yang indah, kuning keemasan Dipanen dengan hati-hati penuh kesayangan Dikumpulkan dan ke dalam karung dimasukkan

Tapi ketika sampai pada masalah penjualan Kami orang kota Yang menetapkan hargaAku malu mengatakan Ini adalah suatu bentuk penindasan Dan aku tertegun menyaksikan Gabah yang kalian bakar itu Bau asapnya Merebak ke seantero bangsa

Demikian siklus pengulangan dan pengulangan Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani Karbohidrat yang dengan setia kalian sediakan Harganya tak dapat kalian sendiri menentukan

Sedangkan kami orang perkotaan Bila kami memproduksi sesuatu Dan bila tentang harga, ada yang mencoba campur tangan Kami orang kota akan berteriak habis-habisan Dan mengacungkan tinju, setinggi awan

Kalian seperti bandul yang diayun-ayunkan Antara swa-sembada dan tidak swa-sembada Antara menghentikan impor beras Dengan mengimpor beras Swa-sembada, tidak swa-sembada Menghentikan impor beras Mengimpor beras Bandul yang bingung berayun-ayun Bandul yang bingung diayun-ayunkan

Petani saudaraku Aku terpaksa mengaku Kalian selama ini kami jadikan objek Belum lagi jadi subjek Berpuluh-puluh tahun lamanya Aku malu

Di dalam setiap pemilihan umum dilangsungkan Kepada kalian janji-janji diumpankan Tapi sekaligus ke arah kepala kalian Diacungkan pula tinju ancaman Dulu oleh pemerintah, kini oleh partai politik Dan kalian hadapi ini Antara kesabaran dan kemuakan

Menonton dari kejauhan DPR yang turun, DPR yang naik Presiden yang turun, presiden yang naik Nasib yang beringsut sangat lamban Dan tak kudengar dari mulut kalian Sepatah kata pun diucapkan Saudaraku,

Di tengah krisis ini yang seperti yang tak habis-habis Di tengah azab demi azab menimpa bangsa Kami berdoa semoga yang selama ini jadi objek Dapatlah kiranya berubah menjadi subjek Jangka waktunya pastilah lama Tapi semuanya kita pulangkan Kepada Tuhan Ya Tuhan Tolonglah petani kami Tolonglah bangsa kami Amin. *) Sastrawan

Kehati dan Keluarga

Pada suatu hari di tahun 1983 saya membeli sebidang kolam dan kebun jambu di Depok, Jawa Barat. Luasnya hampir 1.000 m2, berisi 24 pohon jambu biji, 3 pohon jambu air, dan 1 pohon jambu bol. Pada saat panen, ada 6 keranjang besar berisi jambu biji masing-masing 150 buah, atau 300 buah setiap pikul. Harga eceran jambu batu di pasar Rp10/buah, sehingga satu pikul Rp3.000. Celakanya, untuk ongkos memikul dari Depok ke Pasarminggu Rp5.000. Jadi untuk 3 tukang pikul saya harus membayar Rp15.000, sedangkan hasil penjualan hanya Rp9.000.

Bayangkan, kita panen, kita jualan, tapi harus tombok Rp6.000. Siapa yang salah? Harga yang kelewat rendah, atau ongkos distribusi terlalu tinggi? Itu sebabnya sering terdengar banyak hasil agrikultur tidak dipanen, tapi dibiarkan hancur membusuk begitu saja. Contoh paling klasik di California, Amerika Serikat, ongkos memetik anggur lebih mahal ketimbang harga jual.

Dua dasa-warsa berlalu, kebun itu diperluas. Jambu klutuk yang bikin repot ditebangi. Sebagai pengganti: nangka, alpukat, duku, durian, rambutan, genitu, kedondong, kelapa, sawo, jeruk bali, dan 40-an macam buah lain. Tidak termasuk nenas, daun sirih, lada, lidah buaya, empon-empon, dan umbi-umbian. Total jendral ada 107 macam tumbuhan berebut pupuk dan sinar matahari di kebun yang amat rimbun itu. Apa hasilnya?

Seribu satu macam! Dari tiga batang duku, buahnya mencapai 30 kg sekali panen. Dengan harga Rp6.000/kg diperoleh Rp180.000. Pembelinya datang sendiri. Daun salam juga bisa dipetik, dititipkan tukang sayur atau ditukar ikan asin, garam, gula, atau bawang. Nanas, pisang, dan pepaya panen sepanjang waktu. Tak terhitung lagi rupiah masuk kantong. Belum lagi nangka dan melinjo yang memberikan buah, daun dan bunga.

Selain itu, ada berkah lain yang tak bisa dibeli dengan uang: oksigen, kicau burung pagi dan sore, pasokan air sepanjang tahun, dan bermacam informasi yang dibawa oleh setiap tumbuhan. Dari kolam, bukan hanya berkilo-kilo ikan lele bisa digoreng, dipepes, atau dijual; tapi juga dirasakan “nikmat” lainnya. Misalnya dengan datangnya burung cangak pencuri ikan, yang galak tapi indah. Atau dengan berseliweran capung dan kupu-kupu setiap saat di kebun maupun di atas kolam itu.

Keindahan dan kesehatan lingkungan itulah yang membuat hidup kita lebih lama,’ lebih bermakna, indah, dan lebih berguna. Pendek kata, dalam tempo 20 tahun, bekas kebun jambu batu itu kini menjadi tempat tamasya, yang memungkinkan setiap orang belajar mengenali bermacam tumbuhan. Termasuk juga menikmati manggis, matoa, dan belimbing ketika musim. Keanekaragaman tumbuhan semacam ini, mudah sekali dikembangkan dan dilaksanakan oleh setiap orang.

Kalau tidak ada halaman yang luas, dalam pot pun bisa. Almarhum kepala sekolah menengah umum (SMUK) St. Albertus, tempat saya dulu belajar, di Malang; memelihara lebih dari 200 pot kaktus kecil-kecil di kamar kerja seluas kurang dari 30 m2. Namanya Siswanto, hidup 1929—2002. Almarhum juga memelihara ikan di akuarium dan beternak merak di atas atap gedung sekolah.

Sepasang merak berkembang jadi 12 ekor. Bukan untuk dijual, meskipun bisa laku Rp2 juta sesaat setelah menetas, tapi mencegah burung indah itu punah. Begitulah idealnya setiap penghuni bumi, bersedia mencintai dan membela berbagai jenis kehidupan. Itulah inti perhatian kepada keanekaragaman hayati, yang kita pahami sebagai kehati.

Perkaya informasi

Dengan cara masing-masing dan sesuai kemampuan, setiap orang bisa menjadi pahlawan untuk tanaman, hewan piaraan atau mahluk lain yang dicintainya. Anakanak kecil dapat membela kunang-kunang, seperti telah terbukti sukses di Jepang. Sepuluh tahun lalu ketika gerakan membela kunang-kunang dimulai, jenisnya hanya satu atau dua. Belakangan di Amerika Serikat saja dikenali enam spesies kunang-kunang. Jangan anggap enteng manfaat kunang-kunang. Mereka adalah indikator lingkungan sehat: udara segar, tanah subur, dan air jernih alami.

Demikian pula berlaku pada sungai. Semakin banyak jenis ikan, semakin beragam kutu airnya, semakin bagus pula kualitas air di sekitar kita. Keanekaragaman hayati adalah pertanda apakah hidup kita masih alami dan manusiawi. Hal ini sangat berlaku di daerah tropis pada khususnya, dan di alam semesta pada umumnya. Kekayaan utama terletak pada ada atau tidak adanya kehidupan. Bahkan pada sebatang pohon yang lapuk karena tua pun, kita bisa melihat bermacam rayap, serangga, burung-burung, lumut, jamur dan bakteri yang menumpang hidup padanya.

Pertanyannya, bagaimana kapasitas manusia menolong sesama mahluk? Rahasianya terletak pada keterbukaan hati, keinginan mendapat informasi seluas-luasnya, dan kesanggupan hidup bersama siapa serta apa saja. Untuk itulah diperlukan resep, kiat-kiat, dan pengetahuan praktis. Para guru diharapkan punya banyak contoh mengatasi masalah dengan cara alami, sederhana, akrab lingkungan, dan mudah diingat murid. Misalnya, kalau mendadak hidung keluar darah, disumbat daun sirih.

Kalau setiap murid punya pohon atau hewan kesayangan, yang betul-betul dipahami, baik anatomi, latar-belakang, maupun manfaatnya, insyaallah setiap anak bisa mengembangkan minat sendiri. Semakin serius, semakin besar peluang untuk menjadi bioprospektor. Merekalah yang akan memanfaatkan keanekaragaman hayati untuk memperbaiki kualitas dan memperpanjang kehidupan. Dari macammacam daun, akar, dan kulit pohon, telah dan akan selalu ditemukan manfaatnya untuk makanan, minuman, obatobatan, dan peralatan canggih di lapangan teknologi.

Pada suatu hari, di tahun 2000, saya mendapat pohon gutta-percha. Itu sejenis karet yang getahnya berat dan sangat keras bila kering. Getah ini menjadi bahan baku bola golf, gigi palsu, dan kabel bawah laut. Kalau hanya menanam 2 atau 3 batang, tentu belum terbukti kegunaannya. Namun, dari sisi ilmu pengetahuan, sebatang pohon sudah memperkaya manusia dengan bermacam informasi.

Ada juga pohon besar, meskipun hanya satu dapat mendatangkan keuntungan ekonomi. Misalnya cengkih, pala, keluwak, kelerak, kakao, kelapa, dan pepaya. Sebatang duku saja, pada waktu lebat bisa menghasilkan 30—60 kg. Begitu juga nangka, sawo, dan kawista. Sekali panen bisa dapat beberapa pikul, meskipun pohonnya hanya sebatang.

Hortikultur rumah tangga

Dalam kenyataannya, agrikultur dan hortikultur Indonesia masih diwarnai oleh usaha kerakyatan dan kekeluargaan. Hingga awal 1970-an kita masih melihat pabrik kecap, bihun, mi, dan limun tersebar di berbagai kota besar dan kecil. Demikian pula kerajinan pengolah selai, asinan sayur, manisan pala, kwaci semangka, kacang mete, keripik umbi, emping, kerupuk kulit, dan bermacam kudapan. Usaha menengah, kecil, dan gurem itu hingga sekarang tetap menjadi soko-guru perekonomian Indonesia.

Untunglah jika dunia pertanian dan peternakan masih bahagia dan terus maju dengan semangat “kecil itu kuat, kecil itu lestari, dan kecil itu indah”. Masih kita saksikan di sana-sini, ada keluarga yang menyandarkan hidup pada beberapa akuarium ikan lou han, diskus, oskar dan beragam ikan hias lain. Masih cukup banyak ibu rumah tangga yang diberkati dengan beberapa pot bonsai di pekarangan kontrakan. Dua atau tiga sapi perah, juga dapat menghidupi ayah-ibu, dan menyekolahkan anak ke kota.

Marilah selalu kita syukuri dan kita bela hak hidup sederhana, berskala kecil, dan kaya akan keragaman. Bahkan Prof Dr Emil Salim berpesan, agar kita lebih banyak belajar dari kiat-kiat hidup rakyat jelata. Sejarah menunjukkan justru kesederhanaan sejati yang akan bertahan, meneruskan peradaban. Pabrik selai yang menghidupi keluarga, dalam novel terkenal The God of Small Things karya Arundhati Roy, malah jadi bangkrut setelah dikelola cucu yang disekolahkan ke luar negeri.

Latar kehidupan kita konon berkisar pada deep ecology dan frontier economy. Yang satu menghendaki penguatan konservasi, sedangkan kutub lain mendambakan percepatan eksploitasi. Uniknya, insentif lebih banyak diberikan kepada yang merusak alam daripada untuk yang membela kelestarian. Hal ini tampak jelas kemudahan fasilitas untuk investasi raksasa. Bukan yang kecil-kecil, apalagi yang dianggap “tidak kelihatan”.

Padahal, menurut kubu pendukung pelestarian, dengan mengkonsumsi, merambah, dan mengeksploitasi besarbesaran, manusia justru tidak semakin kaya. Sumber-sumber alam jadi habis, dan bumi semakin miskin. Upaya untuk menyadarkan itu, ketika ulang tahun ke-10 Yayasan Kehati, Februari 2004 diterbitkan buku antara lain Mendamaikan Konservasi dan Pemanfaatan.

Masyarakat diharapkan bangga pada hal-hal kecil. Misalnya pada umbi-umbian yang acap kali diidentikkan dengan menu orang kelaparan. Padahal justru pada uwi, suweg, gayong, garut, gadung, gembili, dan bermacam akar-akaran itulah terletak kehormatan nutrisi bangsa Indonesia. Demikian pula keragaman kacangkacangan seperti buncis, kecipir, kapri, ercis, benguk, dan endel. Sungguh disayangkan bila hidangan itu lenyap di depan mata, lantaran tertutup oleh kemudahan impor kedelai, gandum, pakan ternak, dan paha ayam.

Pemusnahan ratusan ribu bahkan jutaan ayam negeri akibat flu-burung awal 2004 ini, mengingatkan kita pada kuatnya varitas ayam kampung. Banyaknya jenis unggas lokal membawa berkah, sekaligus benteng yang sanggup mengatasi bencana.

Jambu batu yang mengawali cerita ini mestinya dapat dikisahkan dengan bangga sebagai success story. Mengapa? Kalau dijual begitu saja memang laku murah sekali. Mengapa tidak dibuat jus lebih dulu? Sari buah jambu sangat diperlukan untuk meningkatkan kadar trombosit dalam darah dan menangkal leukimia. Jatuhnya harga dan mahalnya ongkos pikul, mestinya diatasi dengan dibuat manisan atau diblender lalu dijual ke konsumen yang lebih membutuhkan. Rupanya, keanekaragaman hayati baru mendatangkan manfaat optimal, bila disertai dengan keanekaragaman berpikir dan berkarya. ***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img