Sunday, July 14, 2024

Maniskan Buah Saat Penghujan

Rekomendasi
- Advertisement -

Jambu madu deli hijau tetap manis saat musim hujan.

Jambu madu deli hijau termanis untuk kelas jambu air saat ini.
Jambu madu deli hijau termanis untuk kelas jambu air saat ini.

“Jambunya kok tidak manis, padahal namanya jambu madu deli hijau,” ujar seorang pengunjung kebun Kastawi di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Kastawi luput memelihara kebun itu saat fase generatif pada November 2015. Celakanya, bulan itu mulai memasuk musim hujan. Saat itu Kastawi memang tengah sibuk bekerja. Akibatnya alpa memberi pupuk tinggi kalsium. Dampaknya buah pun hambar.

Karyawan pabrik tekstil itu memelihara 40 tanaman jambu madu deli hijau berumur setahun. Sejatinya ia merawat tanaman secara intensif saat fase vegetatif. Setiap pekan ia memberi pupuk NPK berimbang satu sendok makan per tanaman. Ia menggunakan media tanam campuran sekam bakar, sekam mentah, kompos dan tanah dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1/4. Perlakuan itu membuat tanaman Kastawi melewati fase vegetatif dengan optimal.

Sinar matahari
Herfin Sasono tak gentar menghadapi musim hujan yang kerap menjadi momok para pekebun buah. Pekebun di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu mengebunkan 100 tanaman jambu madu deli hijau usia produktif. Curah hujan yang tinggi mengurangi rasa manis jambu madu deli hijau. Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Universitas Brawijaya, Ir Retno Mastuti, M Agr, Sc, Dagr, Sc, rasa manis pada buah ditentukan oleh kadar gula yang dipengaruhi proses fotosintesis.

“Hasil fotosintesis adalah oksigen dan karbohidrat yang selanjutnya direduksi menjadi gula,” ujar Retno. Pada musim hujan fotosintesis tidak maksimal lantaran kebutuhan utama berupa intensitas sinar matahari menurun. Akibatnya rasa manis pada buah berkurang. Untuk mengatasi hal itu para pekebun mengganti komposisi pupuk dengan meningkatkan unsur kalium.

Herfin Sasono menggunakan pupuk tinggi kalium saat buah memasuki fase pembungaan.
Herfin Sasono menggunakan pupuk tinggi kalium saat buah memasuki fase pembungaan.

Alumnus Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor itu mengatakan, “Peningkatan unsur kalium menjaga buah tetap manis saat musim hujan.” Herfin menggunakan komposisi pupuk sesuai fase pertumbuhan tanaman. Pada fase vegetatif atau pertumbuhan tanaman ia menggunakan pupuk NPK berimbang 16—16—16. “Pupuk itu memacu pertumbuhan tanaman mulai akar, daun, dan batang agar siap saat masuk fase generatif,” ujar lelaki kelahiran Kediri, Jawa Timur, itu.

Herfin memberikan NPK berimbang sepekan sekali dengan konsentrasi 2 gram pupuk per liter air. “Per tanaman mendapat 3—4 liter,” ujarnya. Saat tanaman memasuki fase generatif atau pembungaan ia mengubah komposisi pupuk. Ia menggenjot unsur kalium pada komposisi pupuk untuk menjaga kualitas buah yang meliputi rasa dan penampilan. “Pupuknya harus bisa menjaga buah tidak rontok dan retak, dan rasanya manis,” kata Herfin.

Ia menggunakan campuran pupuk 0,25 g double kalium phosphate (DKP), 1 g NPK pembuahan, dan 0,25 g kalsium atau Ca. Ia melarutkan pupuk itu dengan seliter air dan menyemprotkan setiap hari selama 3 bulan atau hingga buah siap panen. Dosis pemupukan 5 liter per tanaman. Tiga kombinasi pupuk itu masing-masing mengandung unsur makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman.

Sekilogram buah
Kalium fosfat ganda (DKP) mengandung beberapa senyawa seperti 40% unsur fosfat dan 52% kalium. NPK pembuahan mengandung 13 nitrogen, 10 fosfat, 30 kalium, 2% unsur mikro, dan 3% magnesium atau mg. Sementara pupuk Ca mengandung 15% nitrogen dan 26% kalsium. Kombinasi pupuk itu memiliki nilai electro conductivity (EC) 1,3. “Unsur-unsur pada pupuk bisa ditingkatkan hingga kombinasinya memiliki EC tanpa air 2,” ujar Herfin.

Pupuk kombinasi double kalium phosphate (DKP), NPK pembuahan, dan kalsium ramuan Herfin Sasono.
Pupuk kombinasi double kalium phosphate (DKP), NPK pembuahan, dan kalsium ramuan Herfin Sasono.

Pupuk ramuan Herfin mengandung 11,2% nitrogen, 13,3% fosfat, 28,7% kalium, 1,3% unsur mikro, 2% Mg, dan 4,3% Ca. (lihat tabel). Menurut hitung-hitungan alumnus jurusan Akuntansi, Universitas Brawijaya itu biaya pemupukan per liter mencapai Rp74. Dengan penyiraman setiap hari 5 liter selama 3 bulan, maka biaya yang dibutuhkan pekebun per tanaman sekitar Rp33.300.

“Biaya itu sudah bisa tertutupi dengan sekilo jambu madu deli hijau kualitas A yang saat ini sekitar Rp40.000 per kg,” ujarnya. Padahal, saat panen perdana atau umur tanaman 1—2 tahun, produktivitas jambu madu deli hijau sekitar 6—10 kg per tanaman. Sehingga 5—9 kilo sisanya menjadi keuntungan besar bagi pekebun. Apalagi jika tanaman sudah memasuki umur 2—3 tahun yang produktivitasnya mencapai 20 kg.

Menurut Herfin biaya pemupukan itu masih sangat ekonomis untuk menjaga kualitas buah. Kualitas buah yang tetap terjaga tentu menguntungkan bagi pekebun. “Hal itu akan menjaga konsumen untuk tetap memilih produk kita,” tuturnya. Sebaliknya jika sekali saja kualitas buah menurun dan ketika itu konsumen kecewa, mereka akan berpindah ke produk lain.

1.pdfHerfin menggunakan pupuk itu pada tanaman anggota famili Myrtaceae itu sejak November 2015. Hasilnya buah jambu madu deli hijau itu tidak rontok dan tanpa retak di bagian pangkal buah. Selain itu rasa buah kerabat cengkih itu sangat manis meski panen di musim hujan. Itu bukti bahwa hujan bukan aral bagi pekebun untuk menghasilkan buah jambu madu tetap semanis madu. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img