Saturday, January 17, 2026

Matahari Kaya Minyak

Rekomendasi
- Advertisement -
Bunga matahari Ha 1 menghasilkan 1,4 ton biji per hektare. (Dok. Bondan Setyawan)

Calon varietas baru bunga matahari mengandung banyak minyak. Rendemen hingga 29%.

Trubus — “Rendemen biji bunga matahari dari Tiongkok rata-rata sekitar 20%,” ujar Syukur Ashari. Produsen minyak matahari di Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, itu mendatangkan bahan baku dari Negeri Tirai Bambu. Ia memanen 400 kg minyak dari satu ton biji bunga matahari. Sejatinya Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mengoleksi aksesi atau klon unggul bunga matahari.

Tak tanggung-tanggung, kadar atau rendemen minyaknya mencapai 28—29%. “Ada dua calon varietas yang kami usulkan. Keunggulannya kadar minyak dan produktivitas yang tinggi,” tutur Kepala Balittas Dr. Ir. Mohammad Cholid, MSc. Sayangnya, hingga kini varietas itu belum bisa dilepas karena terkendala birokrasi. Harap mafhum, bunga matahari selama ini masih masuk tanaman hias, sementara varietas yang Balittas usulkan lebih kepada minyak industri.

Hasil eksplorasi

Anik Herwati (kiri) dan Roni Syahputra peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat. (Dok. Bondan Setyawan)

Mohammad Cholid menjelaskan, “Kalau tanaman hias masuknya ke Direktorat Jenderal Hortikultura, sedangkan Balittas di bawah Dirjen Perkebunan. Tetapi masih terus kami usahakan, agar bisa dilepas,” ujar Cholid. Dua calon varietas unggul baru itu berkarakter yang berbeda. “Kami beri kode Ha1 dan Ha15. Ha singkatan dari Helianthus annuus, nama latin bunga matahari,” ujar Ir Anik Herwati, M.P., pemulia bunga matahari di Balittas.

Batang tanaman Ha1 tidak bercabang atau tunggal, sehingga per tanaman menghasilkan satu bunga. Adapun batang HA15 bercabang alias majemuk, sehingga per tanaman menghasilkan lebih dari satu bunga. Menurut Anik kedua aksesi itu hasil eksplorasi tim Balittas pada 2011. “Keduanya berasal dari Pati, Jawa Tengah,” ujar alumnus Pemuliaan Tanaman, Universitas Brawijaya itu.

Tim mendatangkannya dalam bentuk biji lalu membudidayakan dan menyeleksi untuk menemukan karakter terbaik. Waktu pembungaan Ha1 82—83 hari setelah tanam. Warna bunga kuning berbentuk cakram dengan lebar bunga mencapai 15,93 cm. Tinggi tanaman sekitar 242,6 cm. Warna dasar biji putih bergaris cokelat dan berbentuk bujur telur sempit. “Panjang biji sekitar 12,89 mm dengan lebar 5,85 mm,” tutur Anik.

Tim Balitas menguji matahari baru itu di tiga kebun percobaan yaitu Pasirian, Kabupaten Lumajang, Sumberejo, Bojonegoro, dan Kalipare, Malang—semuanya di Jawa Timur. Hasil percobaan menunjukkan, produktivitas Ha1 mencapai rata-rata 1,4 ton biji bunga matahari per hektare. Produksi itu lebih tinggi dibandingkan dengan Ha15 yang hanya 1,17 ton per hektare. Adapun produksi aksesi pembanding, yaitu Ha52 hanya 0,83 ton per hektare.

Kadar minyak

Anik Herwati mengatakan, “Terbukti, meski bunganya hanya satu per tanaman, Ha1 bobot bunganya lebih berat dibanding Ha15 dan aksesi lainnya.” Namun, soal rendemen, Ha15 lebih tinggi dibanding Ha1 dan aksesi lainnya meskipun tidak berbeda nyata. Menurut Anik kadar minyak Ha 15 rata-rata 29,48%. Adapun kadar minyak Ha1 mencapai 28,33%. Kadar minyak aksesi pembanding Ha52 hanya 18,27%, sementara Ha17 mencapai 22,39%.

Kadar minyak biji bunga matahari calon varietas unggul Ha15 mencapai 29,48%. (Dok. Bondan Setyawan)

Menurut Anik perbedaan kadar minyak juga disebabkan oleh agroklimat, keadaan tempat tumbuh, dan cara pengolahan biji tanaman anggota famili Asteraceae itu. Bunga matahari Ha15 berbunga majemuk dengan lebar bunga 13,03 cm. Waktu pembungaanya sejak 79—80 hari setelah tanam. Panjang biji 9,62 mm dengan lebar 5,24 mm. “Tinggi tanaman secara alami sekitar 179,5 cm.” ujar Anik.

Atur Nutrisi Matahari

Selain mempersiapkan calon varietas unggul, tim Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balitas) juga berhasil meneliti jarak tanam dan pemberian pupuk terbaik. Peneliti ekofisiologi di Balitas, Roni Syahputra, S.P., menuturkan pengaturan jarak tanam salah satu faktor keberhasilan budidaya bunga matahari. “Logikanya makin rapat, populasi tanaman makin tinggi sehingga produksi ikut tinggi plus pertumbuhan gulma akan tertekan,” kata Roni.

Menurut alumnus Jurusan Tanah, Universitas Andalas, itu populasi tinggi juga memicu kelembapan tinggi sehingga pertumbuhan penyakit juga tinggi. Hasil uji coba Roni di Kebun Percobaan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, jarak tanam terbaik untuk Ha15 yaitu 20 cm x 30 cm. Produksi Ha15 berjarak tanam 20 cm x 30 cm mencapai 1,98 ton per hektare. Sementara jarak tanam lain misalnya 50 cm x 80 cm mencapai 1,3 ton per hektare, 30 cm x 80 cm (1,72 ton).

Adapun calon varietas bunga matahari Ha1 berjarak tanam 50 cm x 80 cm menghasilkan 1,29 ton per hektare, 30 x 80 cm (1,45 ton), 40 x 80 cm (1,16 ton), dan jarak tanam 60 cm x 80 cm (1,69 ton) per hektare. Roni menyarankan kombinasi pupuk kandang, Urea, dan Phonska. Pemberian 5 ton pupuk kandang per hektare sepekan sebelum tanam. Saat awal tanam berikan 200 kg phonska per hektare. Khusus Urea, berikan dua pekan pascatanam sebanyak 50 kg dan umur 21 hari setelah tanam dosis 50 kg per hektare. (Bondan Setyawan)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img