Tuesday, February 27, 2024

Melindungi Kelestarian Hiu Berjalan dari Ancaman Kepunahan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2020, laut Indonesia mempunyai koleksi lebih dari 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies terumbu karang. Salah satunya adalah spesies hiu berjalan Hemiscyllium atau walking shark.

Indonesia adalah rumah bagi enam dari sembilan spesies hiu berjalan ini. Keenam spesies hiu unik ini merupakan endemik di wilayah Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara.

Sejak 2020, seluruh spesies ini telah masuk Daftar Merah (Red List) Dewan Konservasi Alam Internasional (IUCN). Terdapat potensi kerentanan dan kelangkaan yang cukup tinggi. Hal itu terjadi karena ikan tersebut cenderung mendapat tekanan dari faktor antropogenik.

Ikan hiu berjalan gerakannya lamban dan tidak berbahaya sehingga mudah ditangkap. Meskipun jenis ikan hiu ini bukan target sebagai ikan konsumsi, pemanfaatannya diduga semakin meningkat untuk keperluan ikan hias.

Pasalnya, ikan hiu ini memiliki potensi yang tinggi dari sisi pariwisata yakni sebagai salah satu jenis ikan yang memiliki daya tarik bagi para penyelam.

Melansir dari laman Indonesia.go.id, Data Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP menunjukkan, dua spesies ikan hiu berjalan masuk kategori Hampir Terancam (Near Threatened/NT), sedangkan tiga spesies dikategorikan Rentan (Vulnerable/VU). Selain itu, ada satu spesies masuk kategori Sedikit Perhatian (Least Concern).

Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk memberi status perlindungan penuh bagi hiu berjalan di Halmahera Utara dan Raja Ampat (Papua Barat). Kesepakatan terjadi pascatemu pakar untuk usulan inisiatif perlindungan hiu berjalan di Indonesia.

Fahmi, Peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan, alasan dinamakan hiu berjalan karena pergerakannya di dasar perairan seperti sedang berjalan dan bukan berenang, sebagaimana jenis ikan umumnya.

Hal itu disebabkan sifat biologi kelompok ikan tersebut yang cenderung menetap di dasar perairan dan lebih menggunakan otot sirip dadanya (pektoral) untuk melakukan pergerakan. Ikan ini termasuk kelompok ikan berukuran kecil atau kurang dari 100 sentimeter.

Hiu berjalan memiliki populasi kecil sehingga rentan mengalami kepunahan. Sementara itu, keterbatasan penelitian dan kajian tentang hiu berjalan di Indonesia merupakan salah satu hambatan dalam penetapan status perlindungan hiu berjalan ini.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Konsumsi Jamur dari Hasil Budidaya Organik

Trubus.id— Prinsip dasar pertanian atau budidaya jamur organik memang meminimalkan penggunaan bahan dari luar lingkungan seperti penambahan zat tumbuh...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img