Membasmi Ulat Grayak pada Tanaman Tembakau dengan Ekstrak Biji Sirsak

0
tanaman tembakau
Ilustrasi tanaman tembakau. (pixabay.com)

Trubus.id — Serangan ulat grayak Spodoptera litura pada tanaman tembakau berisiko menurunkan produksi dan mutu tembakau. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengendalian yang tepat dalam mengatasi permasalahan ulat grayak yang menjadi momok bagi petani tembakau.

Biasanya, ulat grayak menyerang tanaman tembakau yang baru ditanam sampai tanaman tua. Ulat grayak biasanya meletakkan telur di bawah permukaan bawah daun secara berkelompok berkisar 4–8 kelompok. Jumlah telur setiap kelompok antara 30–100 butir.

Telur tersebut ditutupi dengan bulu-bulu berwarna cokelat keemasan. Diameter telur 0,3 mm, sedangkan lama stadia telur berkisar antara 3–4 hari. Larva mengalami perkembangan sebanyak 6 instar dan berlangsung selama 20–46 hari.

Instar 1–2 berwarna bening, mulai instar ke-3 berwarna hijau gelap dengan garis punggung berwarna gelap memanjang. Larva instar 4–6 pada bagian dorsal terdapat sepasang spot berbentuk bulan sabit di setiap ruas tubuhnya.

Pada sisi samping terdapat garis gelap dan terang. Setelah masa larva berakhir, selanjutnya masuk pada fase pupa yang berlangsung selama 7–10 hari. Pupa ini berwarna merah kecokelatan, panjang tubuh 15–20 mm, berada di dalam tanah sekitar tanaman terserang.

Imago berupa ngengat dengan panjang tubuh 15–20 mm dan ditutupi sisik berwarna abu-abu kecokelatan. Bentang sayap berkisar 30–38 mm, sayap depan berwarna cokelat atau keperakan, sedangkan sayap belakang berwarna keputihan dengan noda hitam.

Setiap induk dapat menghasilkan telur lebih dari 2.000 butir dalam waktu sekitar 6–8 hari. Siklus hidup hama ini berkisar 30–61 hari.

Pengendalian hama tembakau yang umum dilakukan adalah dengan menyemprotkan pestisida kimia sintesis pada tanaman. Penggunaan pestisida kimia sintesis selain harganya mahal juga berbahaya bagi lingkungan.

Dampak negatif yang ditimbulkannya antara lain hama menjadi kebal (resistensi), peledakan hama baru (resurjensi), terbunuhnya musuh alami, pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia, kecelakaan bagi pengguna, bahkan beberapa pestisida disinyalir memiliki kontribusi pada fenomena pemanasan global (global warming) dan penipisan lapisan ozon.

Penelitian terbaru mengenai bahaya pestisida terhadap keselamatan dan kesehatan manusia sangat mencengangkan. World Health Organization (WHO) dan program lingkungan PBB memperkirakan ada 3 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian di negara-negara berkembang terkena racun pestisida dan sekitar 18.000 orang meninggal setiap tahunnya.

Ekstrak biji sirsak halau ulat grayak

Berdasarkan kasus tersebut, perlu alternatif penggunaan pestisida kimia sintesis dalam mengendalikan serangan akibat hama ulat grayak. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan pestisida nabati seperti ekstrak biji sirsak (Annona muricata Linn.).

Mengutip dari laman Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, ekstrak biji sirsak merupakan salah satu pestisida nabati yang memiliki kelebihan. Di antaranya degradasi atau penguraian yang cepat oleh sinar matahari, toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan, serta relatif lebih aman pada manusia dan lingkungan.

Selain itu, memiliki spektrum pengendalian yang luas (broad spectrum), tidak bersifat fitotoksisitas (tidak meracuni atau merusak tanaman), murah, mudah didapat serta dapat dibuat sendiri oleh petani. Berikut ini cara mudah membuat ramuan untuk hama ulat grayak.

Ramuan ekstrak biji sirsak dengan pelarut metanol

Siapkan biji sirsak segar sebanyak 25 gram. Tumbuk hingga halus, lalu diekstrak dengan pelarut metanol sebanyak 100 ml selama 15 menit.

Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan blender. Hasil ekstraksi disentrifusi selama 20 menit dengan kecepatan 3.000 rpm, kemudian diuapkan menggunakan freezer dryer hingga volume ±1 ml.

Larutan tersebut kemudian diencerkan menggunakan akuades menjadi konsentrasi 5 persen dan selanjutnya larutan siap digunakan untuk perlakuan.

Ramuan ekstrak biji sirsak dengan pelarut air

Biji sirsak segar sebanyak 100 gram ditumbuk, kemudian diekstrak dengan pelarut air dengan perbandingan 1:3. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan homogenizer/blender selama 15 menit.

Hasil ekstraksi dibiarkan selama 24 jam kemudian disaring menggunakan kain halus dan selanjutnya larutan siap digunakan sebagai perlakuan.

Ekstrak biji sirsak efektif untuk mengendalikan serangga seperti ulat grayak pada tanaman tembakau. Selain itu, dapat mengendalikan hama lainnya seperti kutu kapas (Aphis gosypii), lalat buah (Drosophila melanogaster), serta dapat mengendalikan nyamuk penyebab demam berdarah pada manusia (Aedes aegypti). Ekstrak biji sirsak yang telah diberi pelarut dan disaring selanjutnya dilakukan penyemprotan.