Friday, December 2, 2022

Memburu Durian ke Pulau Garam

Rekomendasi

Itu sentra durian terkenal di sana. Matahari terlihat bersembunyi di balik awan. Toh, mesti mendung menggantung di langit kota Surabaya, niat untuk berburu durian enak tak surut.

Berkendaraan mobil APV biru, Trubus ditemani Ir Moch Fatich Murtadlo, MSi, kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangkalan, meluncur menuju Bangkalan. Setelah menempuh perjalanan selama 25 menit, mobil tiba di Pelabuhan Perak. Di sana sudah menunggu kapal ferri Citra Mandala Sakti yang akan membawa Trubus melayari Selat Madura menuju Pelabuhan Kamal.

Penyeberangan itu menghabiskan waktu 30 menit. Tak diduga, waktu Trubus bertemu dengan tim dari Balai Penelitian Hortikultura Tlekung, Malang, dan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, tujuan mereka sama. Melakukan eksplorasi untuk menemukan durian andalan.

Tak ingin menghabiskan waktu percuma, rombongan segera bergerak menuju lokasi durian incaran. Baru 5 menit perjalanan sudah terlihat pedagang durian di kiri-kanan jalan. Rata-rata durian yang dijual jenis lokal. Menurut Ir Puguh Santoso, MMA, kepala seksi Pengembangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Bangkalan, pemandangan itu kerap ditemui pada musim durian.

Se koceng

 

Jalan lebar beraspal yang Trubus lalui berubah jadi jalan tanah sempit, selebar 2 meter dan becek begitu memasuki Kecamatan Burneh. Suasananya begitu sunyi. Sisi kanan-kiri jalan tampak seperti hutan yang ditumbuhi pohon-pohon rindang. Jalan berliku-liku dan membingungkan buat pendatang. ?Saya sudah sering ke sini tapi tetap saja nyasar ketika pulang, ? ujar Puguh.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 9 km selama 20 menit, akhirnya Trubus tiba di Desa Benangkah, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan. Dari sanalah durian-durian enak berasal. Trubus beserta rombongan langsung menuju rumah Islam, pemilik pohon durian.

Wah, benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Di rumah Islam, sekretaris Desa Benangkah, sudah tersedia aneka buah-buahan lokal. Durian yang jadi incaran sejak dari Surabaya pun disajikan. Ada 3 durian yang siap disantap:se koceng, se bandeng, dan se topa. Sang tuan rumah lalu membelahkan ketiga durian itu seraya mempersilakan Trubus mencicipi. Setelah mencoba ketiganya, H. Moh. Romli, kepala desa Benangkah, langsung menodong Trubus untuk memilih durian yang terenak.

Tanpa berpikir lama, pilihan jatuh pada se koceng. Dibanding monthong, warna daging buah se koceng lebih kuning. Durian asal Bangkalan itu berserat, legit dengan rasa manis sedikit pahit, dan berbau tajam tanda kandungan alkohol tinggi. Beda dengan durian asal Thailand itu yang sedikit kandungan alkoholnya. Se koceng berbobot 2,5 kg/buah. Dalam satu buah terdiri dari 4 -5 juring. Ternyata pilihan Trubus tak salah, se koceng merupakan durian unggulan di Bangkalan.

Pantas banyak mania durian yang mengincar durian lokal itu. Buah kerap dipanjer meski masih di pohon. Sang pemesan lalu menunggu sampai durian jatuh. ?Agar rasanya lebih enak, ? ujar H. Romli. Alasan lain, durian sulit dipanen karena pohon lebih dari 15 m. Produksi mencapai 150 – 200 buah per tahun. Tekstur daging se koceng lebih liat dibandingkan monthong. Menurut Fatich, monthong memang enak saat dimakan lantaran daging buah tebal dan bijinya kecil. Namun, setelah selesai makan rasa duriannya tidak tertinggal di lidah, hilang begitu saja. ?Sedangkan se koceng membekas atau menempel (di lidah, red). Ketika kita bicara, orang yang diajak bicara pun masih mencium bau durian, ? ujar alumnus Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, itu.

Tertua

Pada kesempatan kali itu juga Trubus manfaatkan untuk melihat langsung kondisi durian di sana. Hampir setiap pekarangan rumah penduduk di Desa Benangkah, ada pohon durian. Seperti durian milik Islam yang tepat berada di belakang rumahnya. Pohon durian setinggi lebih dari 10 m itu berdiri di sela-sela pohon kecapi dan rambutan.

Pohon se koceng berumur lebih tua Trubus jumpai di kebun Marsinah. Menurut nenek berusia 75 tahun itu, pohon durian miliknya berumur lebih dari 50 tahun. Menurut Puguh, pohon se koceng tertua berumur di atas 70 tahun. Namun, pohon se koceng itu bukan pohon induk, melainkan turunannya. Menurut informasi pekebun, jika pohon sudah tua dan tidak berbuah lagi pemilik menebangnya.

Di Kabupaten Bangkalan terdapat sekitar 29.229 pohon durian. Sebanyak 35% adalah se koceng. Lantaran lebih unggul dibanding durian lokal lainnya, pemerintah setempat pun mulai mengembangkan se koceng bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur. Antara lain dengan mengganti durian-durian lokal tanpa nama dengan se koceng.

Supaya tak usah lama menunggu tanaman siap berbuah, peremajaan dilakukan dengan teknik top working. Batang pohon durian tua dipotong setinggi 60 -70 cm dari permukaan tanah. Lalu pada bekas potongan dibuat sayatan ke bawah pada kulit sepanjang 5 cm. Entris se koceng yang sudah siap disisipkan di sana. Jadi, tak perlu menumbuhkan se koceng dari awal. Cukup meminta ?bantuan? pohon-pohon yang sudah ada. Dengan cara seperti itu, diharapkan pada umur 3 tahun setelah top working , tanaman mulai belajar berbuah.

Saking asyiknya menikmati suasana di gudang durian Bangkalan, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 13. 30. Agar tidak terlalu sore tiba di Surabaya, Trubus beserta rombongan pun pamit pulang. Dengan rasa puas Trubus kembali ke Surabaya. Menikmati durian se koceng di Bangkalan tak lagi hanya sekadar impian. (Rosy Nur Apriyanti)

Previous articleSuperred Anda Berdarah Murni?
Next articleBerkat Lumpur
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img