Permintaan makin besar membuka peluang membudidayakan jamur ling zhi.

Trubus — Dahulu untuk obat para bangsawan, kini jamur ling zhi membantu proses penyembuhan semua kalangan. Menurut pakar jamur di Bandung, Jawa Barat, N.S. Adiyuwono, ling zhi memiliki senyawa asam ganoderat. Masyarakat Asia Timur kerap menggunakannya sebagai obat. Kini di tanah air jamur ling zhi makin populer. Apalagi harganya menggiurkan, di tingkat petani Rp45.000—Rp60.000 per kilogram segar.
Itulah sebabnya Zaenal Arifin tertarik membudidayakan jamur berwarna cokelat kemerahan. Menurut pekebun di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, laba bersih Rp15.000—Rp20.000 per kilogram penjualan segar. Perawatan ling zhi juga lebih mudah dibandingkan dengan jamur tiram.

Zaenal Arifin semarak. (Dok. Trubus)
Jaga kelembapan
Selain itu pekebun bisa mengeringkan jamur ling zhi Ganoderma lucidum sehingga jamur awet sampai setahun. Arifin membudidayakan total 15.000 baglog di dua kumbung berukuran masing-masing 11 m x 17 m. Kumbung berdinding jaring dan beratap spandek menjadikan rumah tanam lebih panas dibandingkan dengan atap jaring. Arifin bermitra dan mendapat baglog dari pekebun jamur di Cugenang, Kabupaten Cianjur, Triono Untung Piryadi.
Baglog berisi bibit bakal tumbuh selang 2—3 hari kemudian. Jika tak kunjung tumbuh Arifin kerap melakukan striping yakni melukai sedikit permukaan baglog. Miselium akan muncul 1 hari setelah perlukaan. Kesalahan umum yang kerap dilakukan yakni memotong bagian depan baglog ketika miselium telat tumbuh.

Cara itu memakan waktu dan tenaga lebih, apalagi jika jumlah baglog yang tak tumbuh ribuan. Arifin menghindari penyiraman baglog jika miselium belum tumbuh. Saat miselium terlihat barulah menyiram. Pria 36 tahun itu menyebutkan, penyiraman adalah kunci perawatan ling zhi. Arifin menyiram jamur 3—4 kali sehari pada pukul 07.00, 09.00, 14.00, dan 16.00 menggunakan sprayer.
Penyiraman tidak rutin menyebabkan pertumbuhan jamur tak sempurna. Bentuknya tak simetris dan keriting. Pasar menolak bentuk seperti itu. Penyiraman terlalu banyak pun kurang baik karena merangsang cendawan lain tumbuh. “Kuncinya rajin menyiram tepat waktu,” kata Arifin. Dosis penyiraman 1 drum atau 200 liter air untuk 5.000 baglog per sekali penyiraman.
Tumpuk
Pekebun ling zhi menumpuk baglog dengan posisi tidur hingga 12 susun. Belakang baglog berhadapan rapat, dengan jarak antarbaris baglog 1 meter. Cara itu mirip seperti budidaya jamur tiram. Menurut Arifin kekurangan cara itu ketika tubuh jamur tumbuh besar. Jika berjalan di antara 2 baglog menjadi terlalu sempit. Tubuh jamur riskan tersenggol ketika penyiraman. Kekurangan lain, merangsang tubuh jamur tumbuh di bagian belakang.
Jamur yang tumbuh di belakang baglog tidak bisa dijual karena berkualitas jelek. Adapun kelebihannya bisa menampung baglog lebih banyak. Cara lain menumpuk baglog bolak balik. Tingginya tetap 12 susun. Perbedaanya tidak ada baris baglog yang rapat. Arifin menempuh cara menyusun yang kedua. Menurut Arifin susunan tumpuk bolak-balik memiliki kelebihan pertumbuhan lebih optimal dan memudahkan perawatan.

Lebih lanjut Triono mengungkapkan kekurangan susunan bolak balik populasi lebih sedikit dibandingkan dengan susun belakang berhadapan. Sebab, satu baris baglog hanya terdiri dari 1 buah baglog. Cara tumpuk bolak balik tidak disarankan untuk budidaya jamur tiram. Namun, bisa untuk ling zhi. Arifin panen perdana pada 3 bulan setelah inkubasi. Volume panen perdana hanya 100 gram segar per baglog.
Panen berikutnya 2—3 bulan tergantung perawatan. Umur baglog bisa 1 tahun atau 4—5 kali panen. Arifin menyarankan, tiga hari sebelum panen penyiraman dihentikan. Tujuannya agar bobot jamur tidak bertambah dan memudahkan pengeringan pascapanen. Panen dengan cara manual akan menarik jamur hingga ke akarnya. Penarikan kuat tubuh baglog menyebabkan luka, dan cara itu merangsang jamur kembali tumbuh.
Menurut Arifin sebuah baglog berbobot 1,2 kilogram menghasilkan total 400—500 gram jamur ling zhi. Nilai Biological Economic Ratio (BER) mencapai 41%. Arifin tidak perlu repot memasarkan jamur anggota famili Ganodermataceae itu. Pengepul langsung mendatangi rumahnya untuk mengambil jamur panasea itu. (Muhamad Fajar Ramadhan)
