Monday, July 15, 2024

Meneruskan Jejak sang Ayah Menjadi Petani Cabai

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Banyak anak yang belajar dari sosok orangtuanya, baik belajar dari kegagalan maupun kesuksesan. Muhammad Ridwan menjadi salah seorang anak muda yang mengikuti jejak ayahnya, menjadi petani cabai.

Ridwan menilai menjadi petani cabai memiliki masa depan cerah. Kesimpulan itu ia ambil setelah melihat sang ayah sukses menyekolahkan anaknya hingga sarjana dari berkebun cabai.

“Dari setengah hektare lahan, orangtua bisa menyekolahkan anak-anaknya. Semua sarjana,” kata Ridwan, mengenang kesuksesan orangtuanya.

Oleh karena itu, Ridwan mantap mengikuti jejak ayahnya. Ia mengelola kebun cabai seluas 5 hektare di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dalam satu periode budidaya, Ridwan memetik cabai 20–30 kali. Interval 3 hari sekali. Volume sekali panen 500–1.000 kg.

Ridwan memasarkan rata-rata 4 ton cabai segar per pekan untuk memasok pasar induk di berbagai daerah seperti Kabupaten Garut, Jakarta Timur, dan Tangerang. Selain itu, ia juga memasok ke Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) di Kabupaten Tangerang.

Dari perniagaan cabai itu, ia mendapat omzet ratusan juta rupiah. Ia mencontohkan, jika harga cabai di tingkat petani Rp25.000 per kg, omzet yang bisa didapatkan mencapai Rp100 juta per pekan atau Rp400 juta sebulan. Tentu saja, omzet itu berpeluang melonjak akibat harga cabai membubung.

Saat tertentu—seperti hari raya—harga melambung Rp60.000–Rp100.000 per kg. Petani sejak 2015 itu pernah memperoleh harga hingga Rp100.000 per kg pada Januari 2022. Saat itu, ia memasarkan 4 ton cabai per pekan sehingga beromzet Rp400 juta.

Selama menjadi petani, Ridwan menerima harga cabai terendah Rp15.000 per kg. Itu terjadi pada September 2022. Ridwan mengatakan, harga cabai hampir berubah-ubah setiap jam. Menurut Ridwan, sulit mengendalikan harga cabai. Para petani mesti meningkatkan produksi tanaman agar keuntungan melonjak.

“Misal harga cabai merah besar Rp10.000 per kg. Populasi 20.000 tanaman per hektare berjarak tanam 40 cm. Jika produksi 2 kg per tanaman, petani memanen 40 ton sehingga masih meraih untung,” kata Ridwan.

Menurut Ridwan, biaya produksi saat ini mencapai Rp125 juta per hektare atau Rp6.250 per kg cabai. Biaya itu meliputi tenaga kerja, mulsa plastik, pestisida, dan pupuk. Adapun omzet yang diperoleh dari mengebunkan cabai itu Rp300 juta per hektare. Petani meraih cuan atau untung Rp175 juta per hektare setiap musim atau selama 3–4 bulan.

Petani muda itu menanam cabai rawit, cabai merah besar, cabai hijau besar, dan cabai keriting. Lokasi lahan berketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Menurut Ridwan, permintaan cabai rawit paling tinggi sehingga populasi rawit mencapai 70%. Ridwan memanen 0,8–1 kg cabai rawit per tanaman per musim selama 3–4 bulan.

Masa panen dari biji di pesemaian itu 40 hari. Sementara itu, di lahan sekitar 140 hari sejak tanam. Pemuda kelahiran Garut, 12 Maret 1996 itu, menumpangsarikan cabai dengan tomat atau kubis. Total per pekan ia memasok hasil dari 3 komoditas itu sekitar 40 ton. Menurut Ridwan, agar hasil maksimal perlu mengebunkan cabai secara intensif.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img