Sunday, June 16, 2024

Mengatasi Hama dan Penyakit pada Tanaman Stevia hingga Panen

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Ada beragam tantangan yang harus dihadapi petani stevia seperti serangan hama dan penyakit. Misalnya, belalang Ducetia sp dan Atractomopha psittacana merupakan ancaman bagi stevia. Hama lain berupa ulat grayak Heliothis sp, ulat kilan Hyposidra talaka, penggulung daun Caoectia micaceana, dan kutu daun Aphis sp.

Beberapa penyakit stevia di antaranya busuk batang Sclerotium rolfsii dan Sclerotinia sclerotiorum, bercak daun Colletotrichum sp, busuk daun Fusarium sp, dan busuk akar Rhizoctonia solani.

Petani tidak dianjurkan melakukan penyemprotan pestisida anorganik. Sebab, penggunaan daun stevia untuk dikonsumsi dan dipanen pada umur singkat. Langkah preventif yang dapat dilakukan adalah penanaman tidak berdekatan dengan areal kebun sayur untuk mengurangi risiko serangan.

Stevia dipanen saat memasuki masa berbunga. Pada akhir periode pertumbuhan vegetatif itulah kadar steviosida (zat penentu kadar kemanisan stevia, red) tanaman berada pada tingkat tertinggi. Di luar itu, kadar steviosida rendah.

Fase menjelang tanaman berbunga dicapai pada umur 2 bulan setelah tanam, dan pada setiap 50–60 hari berikutnya. Panen pada pukul 06:00. Batang atau tangkai stevia dipotong pada ketinggian 15 cm dari permukaan tanah.

Sisakan 1–2 tangkai pada setiap tanaman agar kondisi tanaman setelah pemangkasan berat itu cepat normal. Agar kadar kemanisannya dapat dipertahankan, daun harus segera dirempel dan dikeringkan segera setelah panen.

Menunda waktu pemipilan dan pengeringan akan mengurangi kadar bahan pemanis di dalam daun sampai di bawah batas minimum yang ditentukan. Sebab, di dalam daun segar masih berlangsung proses perombakan bahan pemanis.

Pengeringan dengan menjemur di bawah panas matahari hingga kadar air maksimum 10%. Daun kering ditandai dengan warna hijau kekuningan. Kondisi ini dicapai dalam 8 jam penjemuran. Saat mendung atau hujan, pengeringan sebaiknya dengan oven pada suhu 70°C selama 4 jam.

Daun disortasi untuk memisahkannya dari kotoran lain seperti ranting, kerikil, atau daun lain. Setelah itu, daun ditimbang dan dikemas. Setiap bal diisi 20 kg daun. Mula-mula daun dimasukkan ke kantong-kantong plastik yang cukup tebal, lalu dikemas dalam karung.

Dengan kemasan seperti itu, daun dapat disimpan sampai 2–3 tahun. Pasar ekspor menghendaki daun yang memiliki kadar air maksimum 10%, kadar steviosida minimal 10%, dan kandungan kotoran maksimal 3%.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berniaga Bibit Buah Naga, Pekebun di Subang dapat Cuan Puluhan juta

Trubus.id—Dedi Sumardi selalu kebanjiran pesanan ribuan bibit buah naga. Total sekitar 2.480 batang bibit yang terjual dalam sebulan.  Ia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img