Wednesday, April 29, 2026

Mengenal Buah Salju asal Amerika, di Bali Biasa Disebut Buah Es Krim

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Buah salju berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia, tanaman itu bisa ditemui di Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali. Namun, ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengetahui buah salju.

Menurut Farid Kuswantoro, S.Si., peneliti pada Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pohon buah salju itu adalah Inga edulis.

Inga adalah genus tumbuhan Amerika Selatan dan Tengah yang termasuk dalam anggota famili kacang polong (Fabaceae). Spesies itu terkenal dengan buahnya yang dapat dimakan. Oleh karena itu, Inga edulis dibudidayakan di Amerika Selatan dan Tengah secara luas.

Menurut Farid, di Bedugul, spesies itu secara lokal dikenal sebagai buah es krim atau buah salju karena rasanya yang manis dan lembut. Daging buahnya atau sarkotesta berwarna putih mirip kapas.

Masyarakat mengonsumsi buahnya secara lokal dan juga memperdagangkannya kepada para wisatawan. Bahkan, buah salju dijual di toko-toko buah modern. Salah satunya Hoki Buah cabang Banyuwangi, Jawa Timur.

Hoki Buah dikenal kerap menjual buah-buahan lokal dan langka. Toko itu menjualnya dengan harga Rp28.000 per kg. Farid menuturkan pohon buah salju tumbuh di dataran tinggi berelevasi 1.200–1.400 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Itu terbukti saat Julianto menemukan pohon buah salju di dekat Danau Beratan dengan suhu 12°C. Meski populer, masyarakat Bedugul belum membudidayakan I. edulis. Sebagian besar buah yang dijual berasal dari tumbuhan liar.

Padahal, ice cream bean—sebutan lain buah salju—mudah diperbanyak dengan biji. Itu terbukti dalam penelitian yang dilakukan Farid. Dalam penelitian itu, ia memanen dua buah salju yang tumbuh liar di Kebun Raya Eka Karya Bali di Bedugul. Dari buah tersebut terkumpul 21 biji.

Hasil penelitian menunjukkan perkecambahan biji I. edulis tergolong tinggi dengan persentase perkecambahan hingga 100%. Perkecambahan juga cepat terjadi yakni tercatat pada 3 hari setelah tanam, sedangkan perkecambahan terakhir terjadi pada 6 hari setelah tanam.

Penelitian itu juga mengungkapkan, biji I. edulis poliembrioni. Menurut Aditya Wahyudhi, S.P., M.Sc., dari Program Studi Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), poliembrioni merupakan pembentukan lebih dari satu embrio yang terjadi pada biji yang dikecambahkan. Terjadinya poliembrioni akibat zigot yang terpecah.

“Dalam penelitian ini benih I. edulis dapat menghasilkan hingga empat bibit,” ujar Farid.

Dari 21 bibit I. edulis menghasilkan 35 bibit. Oleh karena itu, buah salju berpotensi dikembangkan dan dibudidayakan karena perbanyakannya mudah.


Artikel Terbaru

Kemegahan Macfrut 2026: Pameran Buah dan Sayur Internasional Resmi Dibuka, Soroti Daya Saing dan Kemitraan Global

Pameran internasional rantai pasok buah dan sayuran, Macfrut 2026, akhirnya resmi membuka pintu untuk edisi ke-43. Berlokasi di Rimini...

More Articles Like This