Trubus.id—Masyarakat kian gandrung teh spesialti. Peluang bisnisnya terbuka. Spesialti merujuk kepada teh beraroma buah atau bunga dengan cita rasa lembut dan kadar zat aktif tinggi sehingga manfaatnya maksimal.
Menurut peneliti agronomi PPTK, Erdiansyah Rezamela, S.P., teh spesialti terbuat dari tiga pucuk teratas tunas daun teh (pucuk peko). Pengolahan pascapanen menentukan hasil peko menjadi teh hitam, teh hijau, atau teh putih.
Lantaran hanya tiga pucuk teratas, produksi per panen bahan baku teh spesialti sedikit. Harganya menjadi selangit. Pegiat teh di Kota Bandung, Jawa Barat, Oza Sudewo menyatakan, “Teh dari pohon-pohon tua di Tiongkok harganya bisa Rp100 juta per kg.”
Itu sebabnya Oza berani menebus 250 g teh oolong atau setengah fermentasi dari pohon berumur 120 tahun di PPTK seharga Rp2 juta lewat lelang. Oza termasuk perintis bisnis teh spesialti dengan merilis merek Oza Tea. Kini ia menjual lewat daring dan memasok ke kedai lain.
Di Kota Bandung, Jawa Barat, Mei Ping Chandra, menuturkan masyarakat terbiasa mengonsumsi teh kelas rendah yang murah. Apalagi salah satu kebiasaan pelaku kuliner Kota Bandung adalah menyuguhkan minuman gratis berupa teh tawar kepada pembeli.
“Pasti kebanyakan berpikir ‘Ngapain bayar mahal kalau ada yang gratis, toh samasama teh’,” katanya
Ketua bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Teh Spesialti Indonesia (AISTea, Association of Indonesia Specialty Tea) Ratna Somantri menyatakan, popularitas teh spesialti sejatinya paralel dengan tren kopi.
“Masyarakat kita mengonsumsi lebih banyak teh daripada kopi. Penjualan kafe 30% adalah produk teh,” kata Ratna.
Secara hitungan bisnis pun teh lebih menguntungkan. Bahan baku teh per sajian cukup 3 gram, sedangkan kopi minimal 10 gram. Teh berkualitas bisa diseduh berulang kali sehingga pembeli cukup membayar sekali untuk minum berulang-ulang.
