Trubus.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan webinar bertajuk “Kolaborasi Riset dan Hilirisasi: Menjawab Tantangan Agroindustri Sagu di Era Modern” pada Selasa (28/5), yang disiarkan melalui kanal YouTube resmi BRIN.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dari sektor riset dan industri, salah satunya Fidrianto dari PT Bangka Asindo Agri (BAA) yang memaparkan potensi besar sagu dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mengurangi jejak karbon.
Dalam sesi berjudul “Reduce Carbon Footprint Across the Food Value Chain in the World with Sago”, Fidrianto menekankan bahwa sagu merupakan tanaman yang tangguh dan adaptif terhadap berbagai kondisi alam. Tanaman ini bisa tumbuh subur di daerah berair tanpa perlu perlakuan khusus seperti pupuk kimia.

“Di Bangka, kami mulai menanam sagu secara perlahan, bahkan di lahan bekas tambang,” ujarnya. Program itu dilakukan secara mandiri sebagai bentuk komitmen terhadap pertanian berkelanjutan dan rehabilitasi lingkungan.
Penanaman sagu di Bangka juga diatur dengan kewajiban untuk menanam anakan sagu di sekitar pohon induk. Inisiatif ini sudah berjalan selama empat bulan sebagai langkah nyata menjaga regenerasi tanaman.
Meski masa panennya tergolong lama, yaitu 8 hingga 10 tahun, sagu memiliki keunggulan karena hanya perlu ditanam sekali untuk panen seumur hidup. Sagu juga bisa berkembang biak secara alami tanpa intervensi manusia.
Sagu merupakan tanaman ramah lingkungan. Namun, menurutnya belum ada lembaga yang memberikan sertifikasi organik untuk sagu, meski permintaan produk berlabel organik sangat tinggi di pasar global.
“Sementara ini, kami hanya memakai label ‘natural’, tapi permintaan dari luar negeri terhadap label organik sangat tinggi,” kata Fidrianto.
Indonesia memiliki potensi lahan sagu sekitar lima juta hektare yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Sayangnya, potensi ini masih sering hanya menjadi narasi tanpa langkah nyata pengembangan.
“Kalau tidak dikembangkan, sagu hanya akan tumbuh dan mati. Padahal ini peluang besar, dan seharusnya menjadi tantangan menarik,” tambahnya
Selain teknologi ekstraksi sagu yang terus dikembangkan agar kompetitif, PT BAA juga menerapkan sistem industri terintegrasi. Fasilitas mereka dilengkapi dengan pengolahan biogas, manajemen air, pemanfaatan limbah untuk peternakan, dan pendekatan ekonomi sirkular.
Produk sagu dari Bangka telah berhasil menembus pasar ekspor, termasuk ke Tiongkok, dan tengah dalam proses penjajakan dengan Jepang. “Salah satu kompetitor yakni Malaysia di pasar global,” ujarnya.
Produk olahan sagu juga dikembangkan sesuai kebutuhan pasar, seperti mie sagu (sago mee) yang dikembangkan bersama BRIN. “Kenapa mie? Karena Indonesia adalah konsumen terbesar kedua dunia untuk mi instan,” jelasnya.
Dalam paparannya, Fidrianto juga menyoroti peluang dan tantangan industri sagu. Peluangnya antara lain potensi alam sagu yang tersedia melimpah, teknologi yang sudah siap, manfaat kesehatan dari sagu, perannya dalam food security global, serta telah masuk ke dalam 77 proyek strategi nasional.
Namun tantangan yang dihadapi juga tidak sedikit. Di antaranya adalah belum adanya stimulus dari pemerintah seperti pada komoditas lain (beras, jagung), kesulitan akses permodalan, minimnya informasi dan aplikasi sagu di masyarakat, serta kurangnya inovasi produk sagu yang aplikatif dan terjangkau.
