Trubus.id — Populasi tanaman di alam makin langka. Purwaceng liar sudah jarang ditemukan sejak 1990-an. Semula, tumbuhan itu banyak dijumpai di Dieng, Jawa Tengah, berketinggian 2.000-an meter di atas permukaan laut (m dpl).
Itu diungkapkan oleh Dr. Otih Rostiana, M.Sc. dari Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Otih, purwaceng memiliki beragam khasiat seperti afrodisiak, antikanker, antiradang, antiinflamasi, dan antivirus. Kini, beberapa pekebun di dataran tinggi Dieng membudidayakan tanaman yang memiliki nama Latin Pimpinella pruatjan itu secara intensif.
“Tanaman purwaceng liar tidak stabil kandungan bioaktifnya, karena yang dipanen sekarang dan dipanen bulan depan tidak memiliki unsur yang sama,” tutur Otih.
Menurut doktor Plant Production Science alumnus Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang, itu senyawa aktif purwaceng hasil budidaya dapat terkontrol dan terstandar.
Pembudidaya purwaceng di kawasan Dieng antara lain Harsoyo dan Udin Mubasyir. Harsoyo membudidayakan purwaceng di lahan 5 hektare. Kebun itu dikelola oleh 20 orang. Petani itu mulai menanam purwaceng sejak 2020.
Ia menyemai benih hingga muncul 3–4 daun dan memindahkannya ke lahan. Harsoyo membuat bedengan setinggi 30 cm. Jarak tanam 30 cm × 30 cm sehingga populasi 10.000 tanaman per hektare.
Adapun Udin Mubasyir menanam purwaceng di lahan 25 m × 15 m. Petani di Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, itu menanam purwaceng bersamaan dengan terung belanda, cabai, bawang daun, jeruk, atau carica—menjadi penaung dari paparan terik sinar matahari langsung.
Udin mengatakan, tanaman siap panen pada umur 4–5 bulan sejak tanam. Namun, jika menghendaki daun yang lebat dan akar besar, petani memanen pada umur 8–9 bulan. Makin tua purwaceng, makin besar akar dan kian lebat daun.
Udin dan Harsoyo memanen tanaman anggota famili Apiaceae itu sekaligus dengan mencabut tanaman. Udin menjual tanaman itu Rp1 juta–Rp1,5 juta per kg kering. Setiap 1 kg kering berasal dari 10 kg basah. Harga purwaceng segar berkisar Rp100.000–Rp150.000 per kg.
