Sunday, August 14, 2022

Menjaga Rumah Beragam Jiwa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Menjaga Rumah Beragam JiwaIngatan Hery Kuswanto melayang pada peristiwa 25 tahun lampau ketika menemukan buah raman Bouea oppositifolia di hutan. Sudah seperempat abad lidahnya tak lagi mencecap masam manis buah eksotis itu. Terakhir kali menikmati buah raman saat Heri remaja pada era 1986. Ketika itu ia acap menyambangi Pasar Angsoduo, Kota Jambi, untuk membeli buah anggota famili Anacardiaceae. “Melihat orang makan buah raman bisa meneteskan air liur,“ katanya.

Hery akhirnya menemukan pohon langka itu di Hutan Harapan, Provinsi Jambi. Kerinduan Heri pada buah seukuran bola pingpong itu terbayar saat bergabung dengan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) yang merestorasi Hutan Harapan di Jambi dan Sumatera Selatan. Hery menjadi penyelia pembibitan Nurseri Sungai Beruang, salah satu di antara tiga nurseri milik REKI. Di sanalah ia  menjumpai pohon raman dan mencicipi langsung buah dari pohonnya.

Keruan saja bukan sekadar mencicip buah raman, kini Heri juga membibitkan pohon itu untuk penanaman di Hutan Harapan seluas 98.555 ha yang dikelola REKI. Sejak 2007 perusahaan itu merestorasi atau memulihkan kawasan ekosistem hutan agar kembali alami seperti semula. Menurut Urip Wiharjo dari REKI semula PT Asia Log memegang konsesi hak pengusahaan hutan di Jambi dan PT Padeco di Sumatera Selatan. Setelah kawasan hutan rusak, REKI berupaya merestorasi kawasan itu. Singkat kata, jika dahulu orang menebang, kini REKI menanami kembali.

Untuk apa restorasi? Untuk memulihkan kawasan hutan agar tercapai keseimbangan ekologi, kembalinya habitat alami, dan keanekaragaman hayati. Sebagian besar kawasan di Hutan Harapan merupakan hutan alam sekunder bernilai tinggi. Presiden Direktur PT REKI, Effendy A Sumardja, mengatakan restorasi Hutan Harapan untuk memperbaiki hutan yang rusak akibat perambahan, kebakaran, dan kerusakan lain sehingga dapat pulih menjadi hutan alami. REKI mengantungi izin restorasi Hutan Harapan di Jambi selama 60 tahun hingga 2067.

Restorasi Hutan Harapan merupakan yang pertama di Indonesia. Pemulihan rimba yang terluka itu begitu penting ketika luas hutan kian menyusut dari waktu ke waktu.  Luas hutan tropis Sumatera pada 1900-an mencapai 16-juta ha. Dalam waktu seabad cuma tersisa 500.000 ha, hampir 100.000 ha di antaranya ada di Hutan Harapan. Jika Hutan Harapan juga rusak, hutan dataran rendah Sumatera semakin menyusut.

Hutan sesungguhnya dapat memulihkan diri secara alami. Namun, pada areal yang terdegradasi berat memang perlu intervensi tangan manusia untuk mempercepat regenerasi. Itulah salah satu aspek penting restorasi. Restorasi menjadi penting karena tidak sekadar reboisasi alias menanam, tapi di dalamnya mesti  dapat mengembalikan keragaman hayati serta fungsi ekologis sehingga dapat bermanfaat bagi lingkungan.

Ketua Dewan Burung Indonesia Prof Dr Ani Mardiastuti, menjelaskan restorasi tidak bisa berjalan dalam waktu singkat. “Kegiatan restorasi diharapkan mampu mengembalikan flora dan fauna yang ada sebelumnya dengan memperhitungkan keterbatasan yang ada,” kata guru besar bidang Ekologi Satwa Liar di Institut Pertanian Bogor itu. Menurut Mardiastuti  butuh waktu minimal 20 tahun untuk merestorasi ekosistem hutan.

Doktor Wildlife Management alumnus Michigan State University itu mengatakan bahwa penanaman dalam upaya restorasi tidak boleh sembarangan. “Tanaman yang ditanam harus sama seperti sebelumnya,” ujar dosen di Program Pascasarjana Biologi Universitas Indonesia itu. Itu sejalan dengan program pembibitan di Hutan Harapan yang tersebar di 3 lokasi, Sungai Beruang, Simpang Macan Dalam, dan Sungai Kapas. “Saat ini kami sudah membibitkan 90 jenis tanaman,” kata Heri Kuswanto.

Upaya pembibitan itu sekaligus penyelamatan beragam spesies tumbuhan langka seperti keruing Dipterocarpus haseltii. Pohon anggota famili Dipterocarpaceae itu termasuk dalam daftar merah International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Daftar merah IUCN memperlihatkan stasus kelangkaan suatu spesies yang perlu upaya konservasi segera untuk menyelamatkannya.

Semula aneka bibit tanaman itu diperoleh dari seedling atau anakan alam. Artinya Heri dan rekan mengambil bibit atau biji jatuh dan tumbuh di sekitar pohon. Namun, kini setelah banyak pohon teridentifikasi, Heri dan rekan hanya menyemai benih dari pohon induk tertentu. Pohon induk terpilih berumur di atas 20 tahun, berdiameter di atas 50 cm, dan tinggi lebih dari 30 meter. “Semua jenis saat ini diperlakukan sama untuk syarat pohon induk,” kata Heri.

Setelah biji lolos seleksi terkumpul, Heri dan rekan menyemainya. Tidak selamanya tim mencari  benih di lantai hutan. Acap kali mereka juga mesti memanjat pohon tinggi besar untuk memperoleh benih terbaik. Benih jelutung Dyera costulata, misalnya, amat ringan sehingga angin begitu mudah menerbangkannya ketika cangkang buah terbuka.

Menurut Hery untuk menyemai benih balam Palaquium glutha cukup dengan mengupas kulit, mencuci, mengeringanginkan, dan menabur bijinya di media persemaian.  Lain hal dengan simpur Dillenia spp, Heri perlu mengupas kulit luar, meremukkan daging buah untuk memperoleh biji. Selesai? Belum. Ia lantas mencuci biji karena berlendir.

Yang paling merepotkan adalah tembusu Fragea fragans. Harap mafhum ukuran biji tembusu itu lebih kecil daripada biji bayam seukuran ujung jarum. “Perlakuannya dengan menyemai di tempat tertutup karena bibit 2 cm yang tumbuh mudah patah bila terkena hujan,” kata Heri. Hambatan lain dipersemaian adalah beberapa jenis memiliki pertumbuhan bibit lambat. Kayu bulian Eusideroxylon zwageri baru berkecambah setelah 3 tahun. Harap mafhum biji bulian dibungkus tempurung sekeras tempurung kelapa.

Untuk menyiasatinya Hery menyodet cangkang biji itu  memakai pisau sebelum menanam. Cara itu cukup membuat bibit bulian muncul setelah 3 bulan. Saat mencapai tinggi di atas 50 cm, bibit siap tanam. Pada hutan sekunder, pengelola Hutan Harapan memilih jenis tanaman berdasarkan hasil survei. “Tujuan antara lain mencegah ada dominasi jenis tertentu,” ujar Achmad Yanuar PhD, Manajer Riset Hutan Harapan. Penanaman di daerah terbuka memanfaatkan tumbuhan pioner seperti medang sereh Alseodaphne spp, medang jahe, perekat, simpur, atau sungkai Peronema canescens. Menurut  botanis Hutan Harapan, Dafid Pirnanda, metode penanaman secara acak.

Pohon-pohon hasil penanaman itu tampak saat perjalanan dari Telaga Rohani menuju pembibitan Sungai Beruang. Sebaris gaharu Aquilaria malaccensis berjaraktanam 5 m x 5 m sepanjang 750 m. Tanaman setinggi 90 cm dengan penanda bambu itu sehat. “Setiap 3 jalur berisi satu jenis tanaman,” ujar Dafid. Sementara di blok lain, REKI menanam meranti bunga Shorea leprosula  di bawah tegakan perekat Macaranga gigantea. Bibit berumur 11 bulan itu tumbuh subur dan telah memunculkan pucuk kemerahan.

Dafid dan rekan menanam 2.400 bibit meranti hutan pada Desember 2012. Ia mengatakan meranti dapat tumbuh optimal setelah berumur 2—3 tahun. Ketika itu meranti tak begitu memerlukan penaung. “Kita pastikan jenis yang ditanam hidup. Kalau belum hidup, untuk apa kita jarangkan macaranga,” kata alumnus Biologi Universitas Andalas itu. Oleh karena tim akan melakukan pencincinan di batang perekat. Pencincinan dengan melukai batang sehingga perekat mati secara perlahan untuk mengurangi populasi pohon yang toleran cahaya itu.

“Kami ingin menyulap hutan macaranga menjadi Dipterocarpace seperti pada awalnya,” kata Dafid.  REKI berupaya mengembalikan kondisi hutan seperti sebelum penebangan. Sejak 2011 sampai 2013, PT REKI telah menanam 30.337 bibit beragam spesies di kawasan Hutan Harapan. Kondisi hutan yang kian membaik menjadi habitat beragam satwa. Achmad Yanuar mengidentifikasi 726 spesies tumbuhan, 305  burung, dan beragam spesies lain (Lihat inforgrafis halaman 86) yang hidup di Hutan Harapan.

Salah satu fokus lain REKI mengembangkan hasil hutan bukan kayu (HHBK). “Banyak potensi Hutan Harapan yang bisa dikembangkan seperti getah jelutung, resin jernang, kemenyan, bambu, dan rotan,“ kata Anderi Satya, asisten Komunikasi Hutan Harapan. Pohon jelutung berdiameter         80 cm menghasilkan 2 liter getah per hari. Harga jual getah itu Rp25.000—Rp30.000 per kg. Bahkan, getah balam merah laku Rp400.000 per kg.

Menurut Manajer Komunikasi PT REKI, Surya Kusuma, dengan mengembangkan HHNK masyarakat akan lebih peduli menjaga hutan. “Mereka bisa merasakan manfaatnya terus-menerus tanpa perlu menebang pohon,” katanya. Guru besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor,  Prof Dr Ir Dudung Darusman kepada  wartawan Trubus Rizky Fadhilah menjelaskan hutan restorasi memproduksi kayu lebih sedikit, tetapi hasil hutan bukan kayu lebih banyak.

“Dalam pemanfaatan hasil hutan bukan kayu masyarakat lokal lebih ahli karena berjalan sesuai tradisi. Pihak pengelola hutan restorasi akan lebih mudah bila bisa bekerja sama dengan masyarakat lokal dalam pengelolaannya,” ujar Dudung. Di sanalah harapan bergantung di Hutan Harapan.  Sebab, Hutan Harapan adalah rumah bagi beragam jiwa. Warga suku Batin Sembilan, Munce mengatakan, “Apa yang dilakukan REKI sangat bermanfaat. Kelangsungan hidup binatang dan tumbuhan terjaga sehingga kami dapat memanfaatkannya.” (Dian Adijaya Susanto dan Sardi Duryatmo)

FOTO:

  1. Urip Wiharjo
  2. Pembibitan sepah Irvingia malayana di Nurseri  Sungai Beruang, Hutan Harapan
  3. Lokasi penanaman bibit pohon di jalur 7 Hutan Harapan
  4. Rotan, salah satu hasil hutan bukan kayu di Hutan  Harapan
  5. Heri Kuswanto (baju merah) tengah diwawancarai wartawan Trubus Sardi Duryatmo
  6. Biji bulian secara alami berkecambah setelah 3 tahun
  7. Beragan hewan nokturnal banyak dijumpai di Hutan Harapan
  8. Achmad Yanuar PhD, Manajer Riset Hutan Harapan
  9. Jul, julang emas, ikon camp Hutan Harapan yang jinak
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img