Thursday, August 18, 2022

Napas Mereka Bergantung Rimba

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Getah jelutung menjadi salah satu sumber kehidupan Suku Batin SembilanMartabat seorang lelaki dewasa Suku Batin Sembilan antara lain ditentukan di atas batang bayur Pterospermum javanicum. Setelah kulit terkelupas, batang pohon anggota famili Sterculiaceae itu amat licin. Apalagi usai perendaman selama dua hari, batang seukuran paha itu berlendir. Menurut Temenggung atau kepala Suku Batin Sembilan, Rusman, lelaki dewasa yang hendak menikah harus meniti batang bayur yang melintang di atas sungai. Batang pohon kerabat kakao itu menjadi jembatan, tanpa pegangan di kiri dan kanan.

Calon pengantin perempuan menanti di seberang sungai. Jika selamat, tak terjatuh ke sungai, lelaki itu bertemu pujaan hati dan sebaliknya. “Kalau dio biso melewati jembatan itu, syah menikah. Tigo kali jatuh, mengulang tahun depan,” kata Rusman. Pohon-pohon bayur  tumbuh berserak di Hutan Harapan seluas 99.555 ha. Hutan itu termasuk wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi. Suku Batin Sembilan menghuni hutan itu. Menurut Manajer Komunikasi PT Restorasi Ekosistem Indonesia, Surya Kusuma, setidaknya terdapat 200 kepala keluarga Suku Batin Sembilan di Hutan Harapan.

Sementara Suku Kubu—sebutan untuk Suku Batin Sembilan  yang hidup terisolasi di pedalaman hutan dan nomaden—mencapai 50 kepala keluarga. Rusman mengatakan beberapa kerabatnya menjadi anggota Suku Kubu yang hingga ini percaya Indonesia masih di bawah penjajahan sehingga mereka bertahan di pedalaman hutan. Mereka mengenakan pakaian dari kulit batang pohon ipoh Antiaris toxicaria. Masyarakat Dayak menggunakan getah pohon beracun itu untuk berburu binantang. Adapun Suku Kubu mengolah kulit pohon itu untuk menutup aurat.

Kelangsungan hidup Suku Batin Sembilan dan Suku Kubu amat tergantung pada kelestarian hutan. Harap mafhum sumber kehidupan mereka ada di dalam hutan. Itulah sebabnya warga Suku Batin Sembilan menyambut baik kehadiran PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), pengelola Hutan Harapan. Perusahaan itu mengelola Hutan Harapan sejak 2007 usai berakhirnya masa konsesi pemegang hak pengusahaan hutan PT Asia Log. REKI merestorasi (memulihkan kawasan ekosistem hutan agar kembali alami seperti semula) antara lain dengan penanaman beragam spesies tegakan (baca: Menjaga Rumah Beragam Jiwa, halaman 94—99).

Bahkan perusahaan itu bersikukuh tidak akan menggali batubara yang terkandung di bawah tegakan Hutan Harapan itu demi menjaga kelestarian hutan. Berkat hutan terjaga Munce (65) masih mampu panen madu di pohon-pohon sialang. Menurut Botanis Hutan Harapan, Dafid Pirnanda, pohon sialang merupakan pohon besar, diameter lebih dari 100 cm, tinggi hingga 30 meter, dan percabangannya mendatar tempat lebah hutan bersarang. Beberapa spesies pohon yang lazim menjadi sarang lebah di cabang-cabangnya adalah pohon kempas, rengas, meranti, dan sepah.

“Sialang aset sumber daya alam  untuk perusahaan dan masyarakat lokal yang hidup di kawasan hutan,” ujar alumnus Biologi Universitas Andalas itu. Munce yang memetik madu sejak usia 8 tahun itu masih tangkas memanjat pohon meski kini menua. Ia memanen madu pada April—Agustus secara rombongan terdiri atas 5—10 orang. Ia  memanjat pohon dengan bantuan rotan yang dilingkarkan mirip rotan penari hulahup. Tubuh pemanjat dan batang pohon ada di dalam lingkaran rotan. Sebelum memanjat, mereka melakukan numai atau membaca mantra-mantra seperti orang tengah menembang. Sayang, Munce menolak menyebutkan bunyi dan makna mantra itu.

Ia memetik ratusan sarang di sebuah pohon. Padahal, dari sebuah sarang ia menuai 1 bos setara 35 liter sehingga dari sebuah pohon Munce menuai ratusan liter. Selain madu, masyarakat Suku Batin Sembilan juga mencari getah jelutung dan rotan yang melimpah di Hutan Harapan. Bukan cuma itu, hutan juga menjadi apotek bagi masyarakat  Suku Batin Sembilan. Setiap kali anggota keluarganya sakit, Munce mencari obat di hutan. Ketika bulan lalu anaknya, Ris Munce, demam, ia bergegas mencari pohon berumbung Adina minutiflora.

Setelah menemukan pohon kerabat kopi itu, ia mengambil sebagian kulit batang. Ketika tiba di rumah ia merebus kulit batang tanaman anggota famili Rubiaceae itu dan memberikannya kepada Ris. “Sekali minum sudah cukup, demam turun,” kata Munce.  Sementara bagi kaum pria, Hutan Harapan juga menyimpan beragam afrodisiak. Munce yang memiliki 12 anak itu lazim memanfaatkan akar pinang hutan sebagai pembangkit gairah. Ia mengambil akar yang menonjol di atas permukaan tanah, kira-kira sekelingking, dan mengunyahnya sejam sebelum “pertemuan” dengan istrinya.

Menurut Rusman biji rumput serendayan manjur mengatasi dan mencegah bisul. “Makan satu biji, setahun tak akan bisulan,” kata Rusman. Sementara pulai Alstonia scholaris multimanfaat. Getahnya berkhasiat mengatasi sengatan lebah atau bengkak yang lain. Adapun daunnya untuk mengatasi malaria. Bakal daun pohon perekat Macaranga gigantea untuk mengatasi penyakit lidah putih yang mematikan. Rusman acap memberikan pucuk tanaman pioner itu untuk mengatasi anak-anaknya yang sakit. Saat anaknya, Rizal berumur 5 hari, menderita lidah putih sehingga tak bisa minum air susu ibu.

Rusman melumatkan pucuk perekat dan mengoleskan di lidah yang berwarna putih. “Mula-mula rasanya pahit, tetapi lama-kelamaan manis,” kata Musadat dari PT REKI. Dalam hitungan jam, Rizal kembali dapat menyusu. Suku Batin Sembilan juga memanfaatkan sarang semut tungku. Mereka menyebut semut tungku karena pemanfaatan  sarang itu sebagai tungku untuk memasak.

Dalam bidang pengobatan, Suku Batin Sembilan memanfaatkan sarang semut untuk mempercepat proses kelahiran. Setelah memanggang beberapa saat hingga hangat, sarang semut tungku diletakkan di atas perut perempuan yang akan melahirkan sembari digerak-gerakkan. Semut tungku, beragam tanaman obat,  dan sumber kehidupan lain itu terdapat di hutan. Jika Hutan Harapan rusak begitu juga kehidupan Suku Batin Sembilan. Napas alias kehidupan mereka memang bergantung pada rimba. (Sardi Duryatmo)

 

FOTO:

  1. Dafid Pirnanda, botanis Hutan Harapan
  2. Pohon sialang tempat lebah hutan Apis dorsata bersarang
  3. Anak-anak warga Batin Sembilan belajar membaca di tengah rimba
  4. Getah jelutung menjadi salah satu sumber kehidupan Suku Batin Sembilan
  5. Surya Kusuma
  6. Dari kiri: Munce, Rusman, dan Gelindin, warga Suku Batin Sembilan yang menghuni Hutan Harapan
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img