Friday, August 12, 2022

Menjemput Khasiat Tanaman Obat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pemilihan bahan, penentuan waktu panen, dan metode pengeringan yang tepat kunci memperoleh khasiat tanaman obat.

Cara sederhana menyarikan senyawa aktif dengan menyeduh. (Dok. Trubus)

Trubus — Setahun belakangan, Eka Puspita Sari gemar mengonsumsi jamu. Perempuan 25 tahun itu mencoba campuran kunyit Curcuma longa, jeruk nipis Citrus aurantifolia, sereh Andropogon nardus, dan madu. Lalu ia ketagihan dan mencoba kombinasi lain. Favoritnya seduhan jahe Zingiber officinale dan madu. “Ada persediaan jahe berupa rimpang segar dan daun sereh. Kalau kunyit punya serbuk saja,” kata Eka.

Pegawai swasta salah satu konsultan lingkungan di Kota Bogor, Jawa Barat, itu lebih suka mengonsumsi herba berbahan segar. Menurut Sari beberapa cita rasa produk terlalu manis. Sejatinya pilihan untuk mengonsumsi bahan segar, kering, atau serbuk berpengaruh pada jumlah senyawa aktif saat ekstraksi.

Bahan kering

Dokter di Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), dr. Danang Ardiyanto, mengatakan bahwa bahan segar mengandung air lebih banyak sehingga menghalangi keluarnya senyawa aktif pada proses ekstraksi. “Senyawa aktif polifenol seperti minyak asiri dapat diekstraksi dengan baik dari bahan segar. Namun, golongan lain seperti flavonoid lebih sulit tersarikan dari bahan segar,” kata dr. Danang.

dr. Danang Ardiyanto, dokter di Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT).

Proses ekstraksi sederhana dapat dilakukan dengan menghaluskan bahan segar dan memerasnya hingga keluar air sari. Cara lain yakni dengan menyeduhnya. Bila tetap ingin mengonsumsi bahan segar, dr. Danang menganjurkan untuk mengonsumsi seluruh bahan sebab ada getah di dalamnya yang dapat menghalangi ekstraksi. Selain itu, untuk memperoleh kadar senyawa aktif yang sama, diperlukan lebih banyak bahan segar daripada bahan kering.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu menuturkan, “Perbandingan dosis bahan kering dan segar untuk empon-empon 1:5 dan daun 1:3. Misalnya temulawak untuk jamu kebugaran, dosis bahan segar sebanyak 25 g, kering 5 gram, serbuk 2—3 g, atau ekstrak hanya 500 mg.” Dibandingkan dengan bahan segar, bahan kering—kerap disebut simplisia—memiliki keunggulan lebih praktis, proses ekstraksi lebih mudah dan pengaturan dosis lebih akurat.

Herbalis Taman Sringanis Bogor, Jawa Barat, Sapto Waluyo, mengatakan ada tanaman obat yang lebih baik dikonsumsi segar tanpa melalui pemanasan. “Contohnya mengkudu, agar zat antikankernya tidak hilang, proses pengolahannya tidak melalui pemasakan,” kata Sapto Waluyo. Ia menyarankan untuk menghaluskan buah Morinda citrifolia dan menyaringnya hingga tersisa air sari yang keruh.

Tepat panen

Bila dirunut ke hulu, kadar senyawa aktif tinggi diperoleh dari tanaman tepat waktu panen. Penentuan waktu panen itu menyesuaikan dengan periode senyawa aktifnya mencapai kadar optimal (lihat tabel). Itu berbeda dengan tanaman pangan yang berorientasi pada perolehan biomassa maksimal. Beberapa tanaman paling tepat dipanen pada akhir masa vegetatif seperti bagian akar dan rimpang.

Bagian daun atau seluruh bagian tanaman lumrah dipanen saat tanaman menjelang berbunga kecuali daun salam Syzygium polyanthum. Daun tanaman anggota keluarga jambu-jambuan atau Myrtaceae itu paling baik dipetik ketika umur muda lantaran senyawa aktif hipoglikemiknya lebih tinggi dibandingkan dengan daun tua.

Sapto Waluyo, herbalis Taman Sringanis Bogor.

Sapto menyebutkan rimpang siap panen rerata 8—12 bulan pascatanam. “Bila lebih dari 12 bulan, rimpang kurang bagus untuk jamu dan lebih cocok sebagai bibit,” katanya. Herba lain, sambiloto Andrographis paniculata dapat dipanen sebelum tanaman berbunga yakni sekitar 2—3 bulan pascatanam. Pangkas batang utama sekitar 10 cm di atas permukaan tanah. Herba dengan nama lokal ampadu di kalangan masyarakat Minangkabau itu dapat dipanen berselang dua bulan setelah panen pertama.

Sapto mencuci bersih bahan segar dan meniriskannya. Tahap selanjutnya konsumsi langsung bahan segar atau pengeringan. Ia mengatakan, ”Pengeringan lazimnya secara alami di bawah sinar matahari atau dengan oven. Pengeringan oven lebih cepat dan higienis sebab terhindar dari kontaminasi debu, bakteri, atau cendawan.” Proses pengeringan bertujuan mengurangi kadar air agar bahan tidak rusak dan tahan simpan.

Pengeringan tanaman obat sebaiknya tidak langsung di bawah terik sinar matahari. Setelah bahan siap jemur, tutup bagian atasnya dengan kain hitam bersih. Majalah Trubus pernah menerapkan hal itu untuk memperoleh sediaan yang tetap mendekati warna aslinya. Setelah pengeringan, warna daun cenderung hijau.

Selain itu, pengeringan dapat menghentikan reaksi enzimatis serta mencegah pertumbuhan kapang, cendawan, dan mikroba. Matinya sel bagian tanaman menyebabkan proses metabolisme terhenti sehingga senyawa aktif tidak diubah secara enzimatik. Meski demikian ada pula bahan lain yang justru memerlukan proses enzimatik pascapanen sehingga perlu pelayuan sebelum pengeringan yang sebenarnya.

Contohnya polong vanili Vanilla planifolia, buah kola Cola acuminata, dan umbi bawang Allium sp. Oleh karena itu, perlu metode pengeringan yang tepat agar senyawa aktif tetap terjaga. Sapti menuturkan, proses pengolahan tanaman obat juag harus diperhatikan. Sekadar contoh, hindari mengolah rimpang yang bertunas karena sebagian senyawa aktif telah berkurang (lihak boks: Cara Olah Herba). (Sinta Herian Pawestri)

Sambiloto dipanen 2—3 bulan pascatanam.

Cara Olah Herba

Proses pengolahan juga tak kalah penting untuk memperoleh khasiat tanaman obat. Herbalis di Taman Sringanis Bogor, Jawa Barat, Sapto Waluyo, menyarankan proses pengolahan tanaman obat sebagai berikut.

1. Pilih bahan yang berkualitas antara lain hasil panen tepat. Jika bahan alami berupa rimpang atau umbi, pastikan sedang tidak bertunas.
2. Iris tipis bahan alami agar memudahkan keluarnya senyawa aktif yang dikandung.
3. Gunakan wadah kaca tahan panas, pireks, atau tembikar untuk merebus. Wadah tertutup selama proses perebusan.
4. Tambahkan garam seujung sendok teh untuk memudahkan larutnya kandungan bahan dalam air saat direbus.
5. Selama proses perebusan, nyala api kecil dan konstan.
6. Setelah mendidih, diamkan kira-kira 5—10 menit.
7. Saring hasil rebusan dan konsumsilah sesuai dosis anjuran selagi hangat.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img