Pelaku diet ketogenik mempunyai banyak pilihan makanan enak.

Setahun terakhir Annas Ahmad menjalani diet ketogenik. Semula bobot tubuh pria 37 tahun itu mencapai 84 kg. Namun, kini setelah menjalani diet ketogenik pria setinggi 169 cm itu hanya berbobot 64 kg. Ia mendapat banyak pertanyaan dari calon pelaku diet mengenai makanan apa saja yang boleh dikonsumsi. Menurut Annas pelaku diet ketogenik lebih baik fokus pada apa yang dimakan alih-alih memikirkan apa yang tidak boleh serta jumlah kalorinya.
“Makan seperti biasa, tapi bahan yang banyak mengandung lemak. Yang penting minimalkan asupan karbohidrat,” ujar pria kelahiran kota Malang, Jawa Timur, itu. Hal yang paling mendasar, pelaku diet keto harus mempunyai tujuan jelas. Menurut Annas banyak pelaku diet gagal dalam jangka panjang karena tidak menentukan sasaran utama. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan hormon, terutama hormon insulin.
Alhasil bobot badan kembali naik, kadang justru lebih banyak ketimbang sebelum diet lantaran perubahan metabolisme tubuh. Kebutuhan kalori harian tubuh hanya 1.500—2.000 kalori sehingga perlu perhitungan tepat. Alumnus Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, itu menyatakan, diet terbaik ialah mengubah pola makan untuk mengatur keseimbangan hormon internal. Salah satu pola makan yang paling optimal untuk keseimbangan hormonal adalah pola makan ketogenik.
Pelaku diet keto di Kabupaten Tembilahan, Provinsi Riau, Surya S. Akmal, menjaga pola makan konsisten dengan memperbanyak ragam makanan sehingga rasio lemak 70—80% dalam tubuh. “Pada awal menjalani diet ketogenik, saya mencoba berbagai resep makanan agar tidak bosan dan semangat makan,” ujar Surya. Pelaku keto juga harus memperhatikan asupan protein. Tubuh mengubah protein menjadi glikogen, lalu menjadi glukosa sehingga proses ketosis sulit tercapai. (Marietta Ramadhani)
