Sunday, November 27, 2022

Menyabung Nyawa di Lembah Seribu Honai

Rekomendasi

Padahal, sejak berangkat dari Jakarta keinginan melihat sarang semut – nama tanaman epifi t – di habitat aslinya amat kuat. Namun, saran berupa larangan oleh 3 orang yang bertahun-tahun tinggal di Papua seperti meredupkan hasrat menembus hutan Habema. Pada hari berikutnya Hendro Saputro, produsen kopi di sana, mengajak Trubus ke Habema.

?Bapak pernah ke sana?? tanya saya spontan. Jawaban pengusaha itu, ?Belum, ? sehingga gagal menumbuhkan semangat ke Habema. Dorongan rasa ingin tahu yang besar menyebabkan Trubus bertekad bulat ke Habema. Siang itu, akhir Maret 2006, hardtop tua meninggalkan Wamena di Lembah Baliem.

Berlumpur

Hendro Saputro mengendarai mobil 2 gardan itu. Dua wartawan Trubus duduk di sebelah kirinya. Hendro juga mengajak 2 penduduk setempat, Pindias Kagoya dan Komoro Wakerkwa. Mereka duduk di kursi belakang. Toh, ditemani 2 warga Papua tak juga mengusir kecemasan Trubus. Dua puluh menit kemudian mobil bermesin 2.500 cc itu melewati Pasar Sinakma, salah satu pasar besar di Wamena.

Di tepi jalan tampak puluhan perempuan yang pulang dari pasar. Mereka berjalan kaki – tanpa alas kaki – dan menyunggi kayu bakar. Ada pula yang membawa noken, semacam selendang yang dikaitkan di kepala. Di dalam noken itu mereka membawa berbagai kebutuhan sehari-hari seperti ubijalar dan sayuran. Mobil yang dibeli Hendro pada 1980 itu merayapi jalan berbatu hingga sejam.

Tiba-tiba, seorang tamtama Angkatan Darat menghentikan lajunya. ?Lapor dulu. Mau ke mana?? katanya tegas. Di belakang tamtama itu terdapat pos penjagaan. Sang petugas akhirnya meloloskan kami. Selepas pos penjagaan, jalan rusak:berlumpur. Di kanan dan kiri menjulang bukit-bukit. Dari kejauhan tampak Gunung Trikora (4.750 m) yang puncaknya terselimuti salju. Sesekali tampak honai – rumah adat masyarakat Papua yang terbuat dari ilalang dan berbentuk setengah lingkaran. Jalan berlumpur itu menghentikan laju mobil.

Roda berputar cepat, tetapi mobil tak juga bergerak. Hendro menekan pedal gas sekali lagi. Hasilnya nihil. Malahan, lumpur bercipratan dan masuk ke ruang kemudi. Maklum, kaca jendela dibiarkan terbuka. Kami berempat akhirnya turun dan mencari bebatuan untuk menguruk sebagian jalan lumpur itu.

Akhirnya, mobil dapat melewati jalan itu. Namun, jalan lumpur terus dihadapi. Sekitar 40 menit kemudian, Hendro menepikan mobil di sebuah ruas jalan yang membelah hutan. Di situ Pindias menjaga mobil. Kami berempat menembus hutan Habema. Hanya ada jalan setapak selebar 2 jengkal. Di sepanjang jalan ilalang setinggi 1, 5 meter bagai pagar rapat.

Banyak inang

Jalan menuju Habema licin karena semalam Wamena diguyur hujan amat deras. Kerap kali Trubus hampir terpeleset. Bahkan, terjatuh. Sepatu berbalut lumpur keabuan karena seringnya terjerembap ke kubangan berlumpur. Selain Komoro yang berjalan paling depan, napas kami berempat ngos-ngosan. Letih memang. Apalagi perasaan khawatir mengingat saran Abdul Razak terus membayangi. Liputan ini bagai menyabung nyawa, batin saya.
Namun, berangsur-angsur keletihan itu hilang ketika melihat sarang semut bergelantungan di cabang-cabang pohon. Sarang semut lazim dimanfaatkan sebagai obat tradsional oleh beberapa suku di bagian barat Jayawijaya. Tak jauh dari pohon pakpak, tampak 3 sarang semut yang menggantung di cabang. Kira-kira 3 meter di atas permukaan tanah. Di ketinggian 8 meter pada cabang pohon tua – nama lokalnya pohon cina – yang hampir mati, kelihatan 2 sarang semut dengan daun menjuntai.

Tak semua lokon – nama sarang semut di Wamena – tumbuh di pohon tinggi. Di ranting pohon lowage setinggi 1,2 m, terdapat 2 sarang semut. Ukurannya masih kecil, 2 kepalan tangan.

Pohon kale setinggi 8 meter akhirnya dipanjat oleh Komoro. Kulit batangnya sebagian mengelupas mirip pohon mahoni dewasa. Daun pohon itu berbentuk lanset. Di beberapa cabangnya bergelantungan banyak sarang semut. Pria 23 tahun memanjatnya untuk mengambil Myrmecodia seukuran bola kaki. Akarnya yang panjang sekitar 40 cm membelit cabang kale.

Ia cekatan menuruni pohon berdiameter kira-kira 50 cm meski tangan yang satu memegang lokon. Sarang semut itu dapat diturunkan dengan selamat. Perburuan sarang semut telah berlangsung sejam dengan melihat komoditas berbagai ukuran itu menggelantung di pucuk-pucuk pohon. Hendro mengajak Trubus untuk menembus hutan Habema di bagian yang lebih tinggi.

Namun lantaran letih dan hari menjelang sore tawaran itu ditolak. Kami pun menuruni Habema dengan rasa puas. Selain dapat melihat habitat asli sarang semut, pendakian ke daerah merah itu juga selamat. Jatuhnya korban seperti dikhawatirkan banyak pihak, syukurlah tak terjadi. Kami kembali ke Wamena yang dijuluki Lembah Seribu Honai. Di rumah Hendro, secangkir kopi organik yang hangat seperti mengusir keletihan. Nayak hanlai , (selamat tinggal) Wamena. **

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img