Wednesday, August 10, 2022

Mereka Menanti Para Penggemar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bentuk tubuh unik dan bervariasi dengan beragam warna. Harganya pun luar biasa, Rp400-ribu—Rp800-ribu sepasang. Lazimnya, merpati hias di tanahair hanya fantail alias merpati kipas yang harganya cuma separuhnya.

Pantas Regia terheran-heran melihat sosok sang dara. Di Indonesia merpati hias tak sepopuler merpati balap, tinggian, atau pos. “Komunitasnya belum ada. Berbeda dengan merpati pos yang telah populer sejak zaman Belanda atau merpati balap yang ngetren akhir-akhir ini,” kata Aryandu Wahyu, hobiis di Depok. Makanya, hobiis merpati hias hanya segelintir orang yang tak saling mengenal.

Menurut Aryandu, pada pertengahan 1990-an tren merpati hias sempat terlihat. Banyak importir mendatangkan merpati hias dari Jerman, India, Australia, Amerika, dan Austria. Sayang, pada 1997—1998 aktivitas mereka terhenti. “Krisis melanda Indonesia. Importir kesulitan mendatangkan karena harga melonjak. Sebaliknya, daya beli menurun,” kata Ary—panggilan akrab Aryandu. Akibatnya, stan yang menyediakan merpati hias di Jakarta hanya sedikit. Pantauan Trubus di pasar burung Pramuka, Jakarta Pusat, hanya satu stan yang menyediakan.

Sekitar 1—2 tahun lalu, beberapa hobiis yang dulu membeli merpati hias dari importir berhasil menangkarkan. Sebut saja Duto Dwi Prasetyo, hobiis di Tanahbaru, Depok. “Setiap saya nongkrong di Pramuka, banyak yang tertarik membeli merpati hias. Padahal mereka baru melihat pertama kali,” kata Duto yang juga menangkarkan merpati pos. Maklum, iseng-iseng ia sering membawa merpati hias koleksinya saat memasok merpati pos ke salah satu stan langganannya di Pramuka. Berikut merpati hias tangkaran Duto.

Swallow

Penampilan swallow sangat anggun. Ia silangan dari lahore, merpati hias—sekaligus merpati potong—asal Pakistan dengan double cup asal Jerman. Keunggulan lahore terletak pada kombinasi warna. “Leher, dada, perut, dan ekor berwarna putih. Sebaliknya pinggang, sayap, dan kepala bisa berwarna lain (biasanya hitam dan cokelat, red),” kata Duto. Ciri lain, bulu kaki lahore lebat.

Double cup juga punya ciri khas yang menarik. “Jambulnya di depan dan di belakang. Warnanya juga variatif,” kata kelahiran Jakarta 33 tahun silam itu. Bulu kaki double cup juga lebat. Bahkan ukurannya menyamai sayap. Lantaran itu penampilan swallow lebih cantik. Warnanya bervariasi dengan bulu kaki yang lebat dan panjang. Sayang, jambul double cup tidak terlalu dominan.

Frill back

Ia dinamakan frillback karena berambut ikal. Diduga nenek moyangnya berasal dari Asia Kecil. Namun, ada juga yang mengatakan ia berasal dari Australia. Pada abad ke-18, burung itu memasuki Eropa Timur, kemudian Italia, Perancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.

Warnanya ada yang hitam, putih, kebiruan, kemerahan, dan kekuningan. Walau begitu, menurut Duto, yang ada di Indonesia terbatas pada frillback berwarna putih. Si bulu ikal semakin cantik bila ia memiliki jambul. Penampilannya mirip ratu yang mengenakan mahkota dan bergaun pengantin.

Santinet

Sosok merpati hias ini gagah dan berwibawa. Ia kian rupawan karena warna sayapnya unik. “Motifnya seperti batik,” kata Duto sambil menunjuk santinet. Merpati yang nenek moyangnya berasal dari Australia itu juga mempunyai ekor yang indah. Mirip kipas dengan corak beraturan. Misalnya, sebuah horison putih yang sejajar di antara warna hitam di ekor.

Ciri khas lain, bulu dada santinet agak keriting. “Karena bulu ikal sedikit, mirip jambul di dada,” kata Duto. Ia tampak seimbang dengan jambul di atas kepala. Santinet termasuk merpati berparuh pendek.

Double cup

Merpati hias asal Jerman ini paling populer. Musababnya, beberapa hobiis memiliki double cup sebagai koleksi. Nah, beberapa di antaranya saling tukar merpati agar tidak terjadi perkawinan sedarah. Makanya ia cepat populer karena turunannya lebih bandel. Berbeda dengan jenis lain yang jumlahnya terbatas. Penangkar banyak menyilangkan dengan saudara selubuk. Akibatnya, banyak telur tak dibuahi atau tak mampu menetas.

White bar

Dia disebut juga merpati topeng. Itu karena paruh, mata, dan sebagian besar kepala diselimuti pial alias cuping merah. Topeng itu seukuran dengan uang logam seratusan rupiah. Bulunya keras dan rapat ke tubuh. Ia sangat mirip dengan white english carrier yang populer di Inggris. Bedanya pial white english carrier lebih besar di sekitar paruh.

Pouter

Merpati gondok, begitu orang Indonesia menyebutnya. Itu karena lehernya sangat besar. Hampir 2 kali lipat daripada ukuran dada. Jenis ini sebetulnya telah diketahui sejak 400 tahun lalu. Ia populer ditangkarkan di Belanda, Belgia, Spanyol, Inggris, Skotlandia, Jerman, dan Perancis. Sayang, tak ada yang tahu pasti dari mana dia berasal.

Black lun

Japati—sebutan merpati di Jawa Barat—itu sangat cantik. Hanya bagian depan dan ekor saja yang hitam. “Lihat, bulu ujung sayap juga hitam. Terlihat seimbang,” kata Duto. Tubuh bagian tengah putih solid. Penampilannya tambah gagah dengan jambul di kepala. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img