Sunday, March 29, 2026

Mi Taroben, Inovasi Mi Non-Gluten dari Talas Beneng untuk Dukung Pangan Sehat

Rekomendasi
- Advertisement -

Upaya menghadirkan pangan sehat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis sumber daya lokal. Salah satunya adalah Mi Taroben, mi non-gluten dengan indeks glikemik rendah yang dikembangkan oleh inovator IPB University, Prof. Ahmad Sulaiman.

Inovasi yang baru-baru ini terpilih dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025 versi Business Innovation Center (BIC) ini memanfaatkan talas beneng sebagai bahan baku utama. Selama ini, talas beneng memiliki potensi besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pangan sehari-hari.

Menurut Ahmad ide awal pengembangan Mi Taroben muncul dari sejumlah keresahan terkait pola konsumsi masyarakat dan ketahanan pangan nasional. “Upaya pemerintah untuk meningkatkan diversifikasi pangan menjadi salah satu latar belakang inovasi ini. Konsumsi beras memang mulai menurun, tetapi konsumsi mi berbahan terigu justru meningkat,” ujar Ahmad.

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap terigu menjadi perhatian serius karena bahan baku tersebut sepenuhnya berasal dari impor. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko terhadap ketahanan pangan, terutama ketika terjadi krisis global. “Ketergantungan yang tinggi terhadap terigu impor tentu dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Padahal Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang potensial,” tutur Ahmad.

Salah satu sumber pangan lokal yang dinilai memiliki keunggulan adalah talas beneng, tanaman khas Pandeglang, Banten. Tanaman ini memiliki produktivitas tinggi serta sejumlah keunggulan agronomis dan gizi. “Selama ini talas beneng lebih banyak dimanfaatkan daunnya yang diekspor sebagai bahan baku tembakau alternatif. Padahal umbinya memiliki potensi besar sebagai sumber pangan,” kata Ahmad.

Dari sisi nutrisi, talas beneng memiliki kandungan pati yang tinggi, serat, serta prebiotik yang baik bagi kesehatan pencernaan. Selain itu, bahan ini juga non-gluten dan memiliki indeks glikemik rendah. “Keunggulan tersebut menjadikan talas beneng sangat potensial untuk diolah menjadi pangan fungsional, termasuk mi sehat,” kata Ahmad.

Dibandingkan mi berbahan terigu, Mi Taroben memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan. Produk ini mengandung karbohidrat kompleks, tinggi serat, serta prebiotik yang bermanfaat bagi mikrobiota usus. “Mi Taroben juga memiliki indeks glikemik rendah sehingga lebih aman untuk penderita diabetes maupun mereka yang ingin mengontrol berat badan,” ujar Ahmad.

Meski demikian, pengembangan mi berbahan dasar talas beneng tidak berjalan mudah. Tantangan terbesar terletak pada formulasi adonan agar memiliki karakteristik yang tepat untuk diolah menjadi mi. “Tantangan utamanya adalah bagaimana membuat adonan yang memiliki sifat fungsional seperti plastisitas yang baik, waktu pemasakan yang tepat, serta kandungan protein yang cukup agar teksturnya menyerupai mi pada umumnya,” kata Ahmad.

Melalui inovasi ini, Ahmad berharap pemanfaatan talas beneng dapat semakin berkembang dan mendorong lahirnya berbagai produk pangan sehat berbasis bahan lokal. “Inovasi pangan lokal seperti ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Ahmad.

Sumber: https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/03/guru-besar-ipb-university-kembangkan-mi-taroben-mi-non-gluten-dari-talas-beneng-untuk-pangan-sehat/


Artikel Terbaru

Jamur Kuping: Sayuran Unik yang Dipercaya Bermanfaat untuk Kesehatan

Jamur kuping sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dalam tradisi masyarakat Cina. Bahan pangan yang berasal dari kelompok Auricularia...

More Articles Like This