Riset teranyar membuktikan teh hijau antivirus HIV.
Rutin menyeruput secangkir teh hijau? Itu berarti kita tengah berupaya membentengi diri dari human immunodeficiency virus (HIV). Itulah hasil riset Prof Dr Djoko Agus Purwanto MS Apt dari Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Djoko mengungkap khasiat daun teh hijau menangkal HIV yang menggerogoti sistem imunitas tubuh. Jika imunitas makin turun, muncul penyakit oportunistik seperti flu, tuberkulosis paru, dan herpes.
“Kondisi penurunan sistem imun yang disertai munculnya penyakit oportunistik berisiko kematian itulah yang disebut acquired immune deficiency syndrome (AIDS),” tutur dr Ari Udiyono MKes FIAS, kepala Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik, Universitas Diponegoro. Udiyono mengatakan penderita HIV belum tentu menjadi AIDS asalkan menjaga kondisi tubuh tetap baik dan mengonsumsi obat antiretroviral.
Peran katekin
Seseorang yang tertular HIV mengalami demam, mual, muntah, rasa tidak enak saat menelan, dan lesu pada 1—2 pekan pertama. Setelah itu gejala hilang dan virus berkembang pada tahap berikutnya. Tahap kedua berlangsung sangat lama hingga 10 tahun dan tanpa gejala. Lalu virus mulai menghancurkan salah satu sistem kekebalan tubuh manusia (CD4). CD4 jenis sel darah putih yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
Bila kadar CD4 kurang dari 200 sel/mm3 penderita dikatakan mengidap AIDS. Untuk menguji antivirus HIV, Djoko menggunakan ekstrak teh hijau asli Indonesia. Menurut Djoko teh di tanahair berasal dari Assam, India. Daun teh itulah yang ia gunakan untuk membuktikan khasiatnya melawan HIV.
Djoko meriset in vitro dengan dua perlakuan. Pertama Djoko memberikan HIV dan 100 ppm ekstrak teh hijau ke sel CD4. Perlakuan kedua sel CD4 hanya diberikan HIV, tanpa ekstrak teh hijau. Hasil penelitian itu menunjukkan HIV tidak menginfeksi sel CD4 yang mengandung ekstrak teh hijau. Bagaimana mekanisme teh hijau menangkal HIV? Djoko mengatakan teh mengandung senyawa aktif katekin.
Salah satu jenis katekin dalam daun teh—epigalokatekin galat (EGCG)—mengikat glikoprotein 41 dan 120 pada HIV. Kedua gliprotein itu media virus untuk masuk ke tubuh manusia melalui sel CD4. Reseptor pada sel CD4 yang cocok dengan glikoprotein 41 dan 120. Sementara reseptor pada sel lain tidak cocok dengan kedua glikoprotein itu. Kehadiran EGCG mengikat glikoprotein 41 sehingga HIV tidak terhubung dengan reseptor sel CD4. Dampaknya virus yang ditemukan pada 1983 itu tidak bisa masuk ke sel CD4.
“Setiap virus memiliki masa hidup tertentu sehingga lama-kelamaan HIV mati,” kata Djoko. Dengan begitu penyebaran HIV dalam tubuh berhenti. Ari menuturkan, secara logika bila virus ditekan atau dihilangkan, maka penderita HIV dapat dinyatakan sembuh. “Laporan penelitian mengatakan bila penderita diterapi secara dini, maka secara fungsional dinyatakan sembuh. Mungkin ini diartikan virus tidak berkembang di dalam tubuh,” tutur magister kesehatan Universitas Airlangga itu.
Teh susu
Djoko berharap teh hijau bisa dimanfaatkan untuk mencegah dan menanggulangi HIV. Untuk mendapat khasiat itu Djoko menyarankan mengonsumsi teh hijau 2 kali sehari untuk pencegahan dan 3 kali sehari untuk pengobatan. Dosisnya 1,25 g teh hijau diseduh dengan 100 ml air panas. Djoko menyarankan agar konsumsi teh hijau dibarengi dengan obat HIV dari dokter.
“Tidak ada komplikasi antara obat HIV dan teh hijau sehingga aman dikonsumsi,” kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga itu. Djoko meneliti teh hijau untuk HIV sejak 2012. Sebelumnya ia meneliti khasiat teh hijau untuk kanker. Pilihan meneliti teh hijau karena beberapa alasan antara lain minum teh menjadi kebiasaan pada masyarakat Indonesia.
Konsumsi herbal dalam bentuk kapsul belum tentu menjamin pasien rutin mengonsumsi obat itu karena tidak menjadi kebiasaan. Konsumsi seduhan daun teh hijau menjadi jaminan pasien tetap mengonsumsi daun tanaman herba itu. Sebab, “Masyarakat kita lazim mengonsumsi teh selama bertahun-tahun bahkan ada yang puluhan tahun,” ujar Djoko.
Pemanfaatan teh hijau untuk obat lazim di kalangan pengobat tradisional. Herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Yayuk Lukas, pernah meresepkan daun teh hijau sebagai salah satu campuran herbal untuk mengatasi HIV. Pada ramuan itu teh hijau herbal pendamping yang bermanfaat menyediakan kalsium bagi tubuh untuk membangun sel. Cara olahnya teh hijau dicampur dengan susu kental manis secukupnya.
Yayuk menyarankan pasien mengonsumsi teh susu itu 2 kali sehari. “Teh hijau berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Yayuk. Herbal lain yang ia gunakan untuk mengatasi HIV yaitu sambiloto dan empulur nanas. Yayuk relatif jarang menggunakan teh hijau untuk ramuan HIV. “Saya lebih sering menggunakan teh hijau untuk melangsingkan tubuh dan kanker,” kata ibu 3 anak itu. (Riefza Vebriansyah)
Rival HIV
EGCG mengikat glikoprotein 41 sehingga HIV tidak terhubung dengan reseptor sel CD4. Dampaknya virus yang ditemukan pada 1983 itu tidak bisa masuk ke sel CD4. Lama-kelamaan HIV mati sehingga penyebaran virus itu dalam tubuh berhenti.