Monday, August 8, 2022

Nam Gi di Pot dari Pulau Dewata

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kali pertama melihat nam gi-nama sarang semut di Vietnam-di rumah seorang teman pada september 2005, Beny langsung kepincut. Bentuknya unik. Bentuk bonggol beragam, seperti buah sirsak tak beraturan dan bersisik. Batangnya mirip leher jerapah, kata pria berkacamata itu. Penampilannya mengingatkan Beny pada bonggol adenium dan bonsai. Pulang ke rumah, Beny langsung mengutak-atik tanaman epifit itu.

Belum populer

Kepiawaian merawat beragam jenis anggrek dan adenium rupanya jadi modal kuat. Puluhan pohon diambil dari habibitat asal. Lalu ditanam di dalam pot dengan media moss. Penanamannya terbalik. Kalau di alam, rumah semut melekat di pohon dengan posisi menggantung ke bawah. Ini ditanam tegak lurus, papar Beny. Ternyata, kerabat kopi itu tumbuh baik di dalam pot.

Dengan sukacita Beny menunjukkan foto-foto koleksi sarang semut dalam pot pada beberapa kenalan. Rupanya belum ada yang pernah melihat kemasan sarang semut dalam pot seperti itu. Penelusuran Trubus menunjukkan, di tanahair sarang semut pot belum populer. Lain halnya di luar negeri. Di Singapura, Andrew Tay mengoleksi sekitar 20 jenis sarang semut dalam pot. Itu dikumpulkan dari hasil perburuan ke pasar tanaman hias Chatucak, Bangkok. Koleksi sarang semut pot juga ada di Kopenhagen Botanical Garden. Sementara Australia National Botanic Garden memperbanyak dengan kultur jaringan.

Toh, itu pun masih segelintir yang tahu. Lazimnya, penggemar sarang semut adalah kolektor tanaman langka. Terbukti waktu Beny menunjukkan foto-foto koleksi sarang semut kepada rekan-rekan sesama pemain anggrek di Bangkok, mereka ikut tercengang. Jangankan sarang semut dalam pot, melihat wujud tanamn itu sebelumnya pun belum. Pantas penggemar fotografi itu kian bersemangat memperbanyak produksi sarang semut pot.

Cepat besar

Supaya tidak mengganggu kelangsungan hidup nongon-sebutan di Wamena-di alam, Beny memperbanyak dengan biji. Biji dibenamkan dalam media moss yang lembap. Dalam 2 minggu, biji mulai berkecambah. Menurut pengalaman, media moss hitam paling cocok. Ia mampu mempertahankan kelembapan di daerah sekitar akar. Perkembangan tanaman kian pesat lantaran Beny rajin memupuk. Setiap 3 bulan, Beny menaburkan pupuk lambat urai, seperti Decastar atau Multicote. Untuk tanaman dalam pot berdiameter 25 cm, dosis 1 sendok makan.

Penyiraman tergantung kondisi media. Bila media kering, barulah siram hingga basah. Kalau terlalu basah, tanaman bisa busuk, kata Beny. Untuk mencegah serangan hama seperti mite, thrips, dan serangga kecil lain, disemprotkan campuran akarisida dan insektisida seminggu sekali. Dosis 1 ml per liter. Semut yang biasa menghuni sarang dalam bonggol tanaman epifit itu justru menghilang. Menurut penelitian, semut hadir saat perutak merasa kelangsungan hidup di alam terancam.

Di Karangasem, pot-pot sarang semut diletakkan di tempat teduh dan lembap dengan sirkulasi udara baik. Tanaman tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung. Dengan perawatan seperti itu, sarang semut pot cepat besar. Kini sekitar 100 pot berbonggol unik tertata rapi di sana. Mulai dari bonggol seukuran kepalan tangan sampai sebesar kepala ada. Dengan penampilan unik, perutak pot cocok sebagai penghias ruangan. (Evy Syariefa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img