Banyak petambak yang tertarik membudidayakan ikan nila salin. Alasannya, harga jual nila salin cukup tinggi. Varietas itu disukai konsumen karena rasa dagingnya dinilai lebih enak.
Menurut pembudidaya nila salin di Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan, Abdul Majid, nila hasil budi daya air payau memiliki rasa lebih gurih daripada nila air tawar.
Itulah penyebab peminat nila payau mulai banyak, termasuk dirinya. Sebelum 2010, ia membudidayakan bandeng. Namun, karena harga jual tak terlalu tinggi, yakni Rp15.000 per kilogram, ia lalu beralih membudidayakan nila yang harga jualnya lebih menjanjikan.
Harga nila fluktuatif menyesuaikan pasokan. “Biasanya musim kemarau harga sedikit turun karena banyak ikan,” kata Abdul. Sebaliknya, pada musim hujan harga naik karena stok ikan tidak terlalu banyak.
Menurut Abdul, tiga tahun terakhir harga nila ajek Rp25.000—Rp28.000 per kilogram.
Hasil riset
Warga Desa Gentung, Kecamatan Labakkang, Mustamin bin Yemba, juga turut membudidayakan ikan nila salin. Ia mengelola tambak dengan luas nyaris sehektare.
Ia mengisi 3.000 benih untuk setiap 30 are (3.000 m²). Benih yang ditebar berukuran 2—3 cm atau 3—5 cm.
Bersama Kelompok Perikanan Mattoanging, Haji Yemba—panggilan Mustamin bin Yemba—membenihkan nila salin sendiri. Ia memilih calon induk yang unggul, kemudian memijahkannya.
Semula, ia dan anggota kelompok memperoleh benih nila salin dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
“Kami pilih calon induk yang bagus. Induk yang beranak kami pindah. Sampai sekarang kami produksi benih sendiri,” kata Yemba.
Ia menyiapkan kolam kecil khusus untuk mendederkan larva. Persiapan lain adalah menumbuhkan pakan alami seperti plankton dengan menebar pupuk urea.
Pakan alami sebagai tambahan. Yemba memberikan pakan apung pabrikan dua kali sehari pada pagi dan sore.
Menurut Yemba, ketersediaan pakan alami menunjang pertumbuhan ikan. Ia memanen nila salin setelah tiga bulan pemeliharaan. Ia memanen secara bertahap 3—4 kali.
Setiap panen ia mendapatkan 50—100 kilogram dari luasan 30 are. Total panen mencapai 150—400 kilogram per 30 are. Dari perhitungan itu, tambak sehektare menghasilkan 1,3 ton.
Nila salin adalah varietas unggul hasil riset Dr. Dasep Hasbullah dan tim.
Saat bertugas sebagai peneliti di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, Dasep dan tim sukses menghasilkan strain baru nila salin unggul.
Nila itu mampu tumbuh cepat. Dalam 3,5 bulan bisa mencapai ukuran di atas 250 gram per ekor meski dibesarkan di tambak payau.
Nila salin dapat tumbuh optimal pada salinitas 10—20 ppt. Nila salin itu juga hemat pakan dengan feed conversion ratio (FCR) 1,2. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg bobot ikan dibutuhkan 1,2 kg pakan pada periode waktu tertentu.
Tingkat kelulusan hidup nila baru di air payau itu lebih dari 85,5%.
“Kini nila payau hibrida menjadi salah satu komoditas unggulan yang menguntungkan petambak,” kata Dasep.
Kelahiran nila payau dapat menjadi pilihan bagi petambak yang selama ini lazim membudidayakan udang dan bandeng.
Nila salin hanya salah satu dari varietas nila unggul yang komersial. Berikut adalah jenis-jenis ikan nila unggul yang secara komersial dapat menguntungkan para petambak.
