Saturday, August 13, 2022

Padi Musuh Gizi Buruk

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Potensi produksi Inpago 13 Fortiz mencapai 8,11 ton per hektare (ha) dengan hasil panen rata-rata 6,53 ton/ha.

TRUBUS — Padi baru Inpago 13 Fortiz berproduksi tinggi, tahan kekeringan, dan berkhasiat kesehatan.

Senyum kebahagiaan menghias wajah Warlim ketika menuai 4 ton gabah kering panen di lahan 7.500 m2 setelah pemeliharaan 90 hari. Petani di Desa Sanca, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu, menjual hasil panen kepada pengepul seharga Rp4.000 per kg. Ia mendapatkan penghasilan Rp16 juta dari perniagaan gabah kering pada Maret 2020. Lazimnya Warlim hanya menuai 2,25 ton gabah kering panen padi lokal di lahan 7.500 m2. Artinya produktivitas bertambah 77% dibandingkan dengan penanaman sebelumnya.

Peningkatan produksi bukan karena pemakaian pupuk berharga mahal atau penanaman rapat. Panen melonjak lantaran Warlim membudidayakan padi gogo baru bernama Inpago 13 Fortiz. “Budidaya padi itu relatif mudah. Tidak ada perlakuan khusus,” kata pria berumur 45 tahun itu. Ia menyemprotkan pestisida sebagai upaya pencegahan serangan hama sekali sepekan. Keberhasilan Warlim menanam Inpago 13 Fortiz dengan hasil panen tinggi memotivasi petani lain untuk berladang padi anyar itu.

Kaya seng

Inpago 13 Fortiz diperkaya seng dan protein sehingga baik untuk pertumbuhan balita.

Para petani pun meminta benih padi karya Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) itu kepada Warlim. Ternyata hasil panen bagus sehingga petani puas. “Setelah itu para petani hanya ingin menanam padi Inpago 13 Fortiz,” kata pria kelahiran Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu. Menurut Ketua Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman Inpago 13 Fortiz, Dr. Indrastuti Apri Rumanti, penanaman yang berulang oleh petani salah satu indikator suatu varietas diterima masyarakat.

Peneliti dari Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman BB Padi, Dr. Aris Hairmansis, mengatakan, potensi produksi Inpago 13 Fortiz mencapai 8,11 ton per hektare (ha) dengan hasil panen rata-rata 6,53 ton/ha. Bandingkan dengan produktivitas kultivar inpago lainnya seperti Inpago 4 yang berproduksi 4,1 ton/ha dan Inpago 5 sebesar 4 ton/ha. Sebaiknya petani menanam Inpago 13 Fortiz di ladang padi (gaga). Sebetulnya petani bisa bertanam padi itu di sawah tadah hujan.

Namun, serangan hama dan penyakit tanaman lebih besar jika penanaman di sawah dengan pasokan air terjamin. “Ada penyakit atau hama lain yang mengancam seperti wereng, hama daun, serta penyakit akibat virus tungro,” kata Aris. Tingginya produksi Inpago 13 Fortiz turut mendongkrak produktivitas lahan suboptimal seperti lahan kering. Keunggulan lain Inpago 13 Fortiz yaitu mengandung 34 ppm seng dalam bentuk beras pecah kulit dan 9,83% protein. Seng berperan vital bagi pertumbuhan anak untuk memperkuat daya tahan tubuh dan menjaga pertumbuhan tetap optimal.

Pengembangan Inpago 13 Fortiz dapat berkontribusi menekan angka kekurangan gizi dan stunting di tanah air. Indonesia salah satu negara yang memiliki kasus kekurangan gizi relatif tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan 25,7% remaja berusia 13—15 tahun serta 26,9% remaja berusia 16—18 tahun menyandang status gizi pendek dan sangat pendek. Sementara kasus stunting mencapai 27,6% pada 2019. Harapan lainnya mengonsumsi beras Inpago 13 Fortiz mendukung program pemerintah dalam pengentasan stunting pada balita dan memperbaiki gizi masyarakat Indonesia.

Selain tinggi kandungan seng, Inpago 13 Fortiz agak toleran kekeringan pada fase vegetatif. Indrastuti mengatakan, fase vegetatif tahap paling rentan pada padi. Alasannya pertumbuhan akar belum terlalu dalam sehingga area penyerapan air sedikit. Namun varietas Inpago 13 Fortiz mampu bertahan dan toleran terhadap kekeringan yang biasa terjadi di lahan kering. Keracunan aluminium kadang terjadi di lahan kering. “Inpago 13 Fortiz juga agak toleran keracunan alumunium 40 ppm,” kata doktor Pemuliaan Tanaman alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Tim peneliti Pemuliaan Tanaman BB Padi tengah menginspeksi pertumbuhan padi Inpago 13 Fortiz.

Tahan HPT

Inpago 13 Fortiz toleran terhadap minimal 8 ras penyakit blas, sedangkan varietas inpago lain hanya toleran terhadap beberapa ras. Aris mengatakan padi yang dirilis pada November 2020 itu pun tahan penyakit blas ras 073 dan 133 dan agak tahan terhadap ras 001, 013, 023, 041, 051, dan 173. Padi gogo itu juga agak tahan terhadap wereng batang cokelat Nilaparvata lugens biotipe 1 serta agak rentan terhadap biotipe 2 dan 3. Indrastuti mengatakan tim pemulia belum fokus pada ancaman hama wereng batang cokelat karena serangan jarang terjadi di lahan kering.

Aris dan tim menyilangkan IR68886/BP68*10//Selegreng//Maninjau/Asahan sehingga lahirlah Inpago 13 Fortiz. Dengan kata lain, padi itu hasil persilangan antara padi gogo lokal dan padi unggul. Inpago kepanjangan dari inbrida padi gogo. “Tingginya kandungan seng dalam padi itu, maka kami menambahkan kata fortiz yang berarti fortifikasi seng” kata alumnus The University of Adelaide, Australia, itu. (Andriyansyah Perdana Murtyantoro)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img