Friday, December 9, 2022

Panasea di Sebuah Rimpang

Rekomendasi

 

TemulawakPantas bila herbalis di Lentengagung, Jakarta Selatan, selalu meresepkan rimpang temulawak untuk mengatasi beragam penyakit. “Hampir semua pengobatan, saya campur dengan temulawak,” kata Dewani. Endah Lasmadiwati di Rawamangun, Jakarta Timur, melakukan hal serupa sejak 1987. Menurut Dewani rimpang tanaman asli Indonesia itu antara lain berkhasiat untuk detoksifikasi di hati dan melindungi lever.

Kelenjar terbesar di dalam tubuh itu memang menjadi kunci penyembuhan aneka penyakit. Dokter dan herbalis di Serpong, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Paulus Wahyudi Halim, mengatakan jika fungsi hati bagus membantu proses penyembuhan penyakit dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bila sistem kekebalan tubuh terdongkrak, pasien pun lebih cepat sembuh.

Ali Zulfikar, misalnya, semula harus istirahat total akibat serangan virus hepatitis. Konsumsi makan juga terbatas. Atas saran kakaknya ia memarut satu rimpang induk, memeras hasil parutan, dan meminumnya. Ia mengonsumsi perasan rimpang Curcuma xanthorrhiza dua kali sehari. Sepekan setelah rutin minum rimpang tanaman anggota famili Zingiberaceae itu kondisinya kian membaik. Kini Zulfikar segar bugar.

Selain hepatitis, rimpang asli Nusantara itu mujarab mengatasi beragam penyakit seperti kanker, hiperkolesterol, dan tifus sebagaimana hasil  riset mutakhir. Dua tahun terakhir memang banyak periset mengungkap khasiat temulawak.  Hasil penelitian mereka membuktikan, temulawak memang panasea alias obat untuk mengatasi beragam penyakit. Beberapa penelitian tampak dalam ilustrasi berikut ini. (Desi Sayyidati Rahimah)

 

Antibakteri

Belum lama ini bakteri Escherichia coli merenggut 35 nyawa di Eropa. Salah satu herbal yang manjur untuk mengatasi E. coli adalah rimpang temulawak seperti hasil riset Natsir Djide dan Sartini, keduanya dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Mereka mengujikan temulawak terhadap  Escherichia coli dan Shigella dysentriae. Konsentrasi temulawak 5%, 10%, dan 20% memiliki aktivitas antibakteri masing-masing menghambat E. coli 13,97%, 15,90%, dan 18,43%. Kian tinggi konsentrasi temulawak, zona penghambatan juga semakin besar.

Diabetes mellitius

Ini harapan baru bagi penderita diabetes mellitus untuk mengatasi penderitaan panjang: temulawak. Periset dari Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor, Denni Irawan dan Yulin Lestari, meriset ekstrak kasar temulawak pada konsentrasi 0,07% menunjukkan aktivitas antidiabetes 61,27%. Itu lebih tinggi ketimbang obat diabetes, Glucobay, yang hanya 39,70%. Aktinomiset dari temulawak penghasil inhibitor enzim, di antaranya inhibitor α-glukosidase. Senyawa itu menekan penyerapan glukosa pada pengidap diabetes mellitus tipe dua sehingga kadar glukosa dalam darah stabil.

Anemia

Hemoglobin (Hb) molekul protein pada sel darah merah merupakan pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kadar hemoglobin rendah atau anemia jika di bawah batas normal, lelaki dewasa 14—18 gram/dl; perempuan dewasa, 12—16 gram/dl. Sutamik, periset dari Jurusan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang, membuktikan temulawak mampu meningkatkan hemoglobin. Pemberian sari rimpang temulawak berpengaruh nyata dalam meningkatkan kadar hemoglobin darah tikus. Peningkatan kadar Hb 6,67 g/dl dicapai dengan pemberian konsentrasi  temulawak 70%.

Tumor

Periset dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Dima Mardiawan dan Udadi Sadhana,  membuktikan ekstrak temulawak antitumor.  Pemberian 10,4 mg ekstrak temulawak  dan tapak dara dengan dosis 19,5 mg per hari selama tiga pekan pada tikus percobaan, bobot dan volume tumor payudara turun, masing-masing 1,67 g dan 1,67 ml. Bandingkan dengan kelompok kontrol, bobot 3,87 g dan volume tumor 3,16 ml. Temulawak memicu sel B dan sel T yang selanjutnya meningkatkan respon imunitas sehingga kekebalan tubuh meningkat.

Kolesterol Tinggi

Temulawak juga terbukti antikolesterol seperti hasil riset  di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan Georg-August University, Jerman, yakni Ietje Wientarsih dan Udo Ter Meulen. Mereka membuktikan pemberian temulawak menurunkan LDL (low density lipoprotein alias kolesterol jahat). Semakin besar  konsentrasi temulawak, penurunan LDL peroksida juga kian tinggi. Pada konsentrasi 0,2% penurunan LDL peroksida 19,77%, 0,3% (65,06%), dan 0,4% (66,43%).

Antioksidan

Sutrisno dan rekan, periset dari Departemen Kimia, Universitas Negeri Malang, membuktikan  temulawak mengandung senyawa antioksidan. Ia mengekstraksi temulawak sehingga memperoleh kurkuminoid sekaligus mengisolasi dan mendapatkan kurkumin,  demethoksikurkumin, plus bisdemethoksikurkumin. Semua senyawa aktif itu berkhasiat sebagai antioksidan kuat.  Nilai EC50 kurang dari 200 ppm.  Aktivitas antioksidan kurkuminoid  berperan sinergis dengan keseluruhan komponen di dalam temulawak.

Tifus

Musuh bakteri Salmonella typhi penyebab tifus ternyata rimpang temulawak. Itu hasil penelitian periset dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Antyanti Widya Purwarini dan rekan. Konsentrasi 20% ekstrak rimpang temulawak memiliki kadar bunuh minimal (KBM) Salmonella typhi 100%. Semakin besar konsentrasi ekstrak temulawak, semakin sedikit koloni Salmonella typhi yang tumbuh. Senyawa dalam temulawak berefek antimikrob, seperti minyak asiri, dan kurkuminoid.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img