Friday, August 12, 2022

Laba Jutaan si Seratus Ribu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah sebabnya ia tak pernah membeli insektisida untuk mengatasi kutu. Harap mafhum, kutu di pohon-pohon kesambi memang mendatangkan rupiah. Namanya kutu lak Laccifer lacca. Lak berasal dari bahasa Sansekerta, berarti seratus ribu. Itu merujuk pada kawanan kutu yang hidup berkoloni hingga mencapai ribuan ekor di setiap cabang pohon. Serangga mungil itu mengeluarkan resin untuk melindungi diri dari serangan musuh.

Resin itulah yang berguna sebagai bahan beragam produk dalam aneka industri seperti industri furniture, listrik, farmasi, makanan, dan musik. Untuk menghasilkan resin, kini banyak pekebun membudidayakan kutu lak. Semi Haning  dan 20 petani lain di Desa Meoaian, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote, Nusa Tenggara Timur, membudidayakan lak. Untuk mendapatkan resin lak secara kontinu dan berkualitas baik, hanya mungkin melalui budidaya, bukan mencari di alam. Mereka mengelola 250 ha lahan terdiri atas pohon kesambi berumur 20 tahun untuk budidaya kutu lak.

Inang kesambi

Menurut periset di Pusat Penelitian Kehutanan Kupang, Sujarwo Sujatmoko SHut, tanaman inang terbaik adalah pohon kesambi. Tanaman anggota famili Sapindaceae itu memiliki pertumbuhan ranting memanjang sehingga produksinya tinggi. Selain itu kulit kayu lebih lunak dan kepekatan getah tinggi sesuai keinginan lak. Instruktur di Balai Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Kupang, Ir Budy Zet Mooy MSc, mengatakan jenis kesambi terbaik sebagai inang adalah kesambi kerikil dan kesambi kebo. Pohon inang lain yang dapat digunakan adalah  jamuju Cuscuta australis, kaliandra Calliandra calothyrsus, lamtoro merah Acacia villosa, ploso Butea monosperma, dan bidara Zizyphus mauritiana.

Kelompok tani beranggotakan 20 orang itu tertarik membudidayakan kutu lak karena pangsa pasar sangat besar. Beberapa perusahaan penampung bahkan datang langsung ke kebun untuk mengambil hasil panen. Itu karena kebutuhan dunia industri yang besar.  Untuk membudidayakan lak, pekebun harus memperhatikan lokasi. Serangga anggota famili Coccidae itu idealnya hidup di dataran rendah, 1 – 375 meter di atas permukaan laut dan bercurah hujan maksimal 1.500 mm per tahun. Di Indonesia banyak wilayah yang memenuhi syarat itu. Di dataran tinggi bersuhu  di bawah 22oC pada siang hari menyebabkan pertumbuhan kutu lambat.

Pada musim hujan, tetesan embun madu yang melekat di kerak lak cepat tercuci. Sinar matahari berperan penting terhadap penularan lak ke pohon inang. Begitu juga angin yang berembus terlalu kencang, menyebabkan nimfa terseret ke bagian tanaman yang lebih rendah yang bukan merupakan target panen.  Setelah menemukan area yang pas, pohon inang berjarak tanam kira-kira 5 m x 5 m dibersihkan  dari  tumbuhan liar di sekitarnya.

Jangan berjejal

Pangkas cabang atau ranting kering dan sakit. Tujuannya mencegah kutu lak merambati ranting itu. Pemangkasan tajuk juga bertujuan agar penyinaran dan aerasi udara lancar untuk pertumbuhan kutu lak.  Petani seperti Semi siap menulari kutu lak pada pohon inang berumur minimal 1,5 – 2  tahun. Ia menularkan hanya bibit terbaik ke ranting dan cabang. Menurut Ira Taskirawati SHut MSi dari Fakultas Kehutanan  Universitas Hasanuddin, syarat bibit lak adalah lapisan lak berat dan tebal, penuh tonjolan stik merata, tampak basah, bulat, dan sambung-menyambung.

Menurut Budy beberapa petani kutu lak di Nusa Tenggara Timur hanya menghasilkan lak bibit karena harga jual yang tinggi, mencapai Rp25.000 per kg.  Mereka menjual kutu lak bibit kepada petani lain yang membutuhkan. Populasi bibit di sebuah pohon berpengaruh terhadap kualitas produksi lak.  Semakin tua pohon hingga batas tertentu, maka kian banyak ranting dan cabang sehingga populasi bibit pun makin banyak.  Cabang yang terbaik adalah cabang muda yang tumbuh vertikal.

Untuk menularkan bibit ke pohon inang, gunakan kantong berupa kain kasa dengan ukuran lubang kasa kurang dari 0,5 mm. Wadah berdiameter 5 cm dan panjang 20 – 25 cm itu memuat 100 gram bibit. Setelah petani memasukkan bibit ke kantong, segera tutup wadah itu dengan karet gelang atau tali rafia. Wadah yang sudah tidak digunakan dapat dicuci dan dapat digunakan sampai 3 kali tularan.

Menurut periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Ir Bambang Wiyono MSc pemakaian kantong kain kasa untuk mencegah serangan predator. Selain itu  bibit kutu lak yang berukuran lebih kecil daripada lubang kain kasa dapat keluar. Kemudian masukkan kantong-kantong bibit itu ke dalam keranjang bambu. Tujuannya agar mudah mengikat pada cabang dan ranting.  Dalam 21 hari, bibit hasil seleksi keluar dari kain kasa dan menetap di ranting atau cabang pohon inang.   Waktu penularan terbaik pada Januari – Februari dan Juni – Agustus. Penularan pada Juli – September menghasilkan kelipatan produksi lak cabang yang terbaik. (Susirani Kusumaputri)

 

Bercinta Lalu Mati

  1. Kutu lak menjadi dewasa setelah berumur 150 – 180 hari. Bagi daerah yang agak kering  seperti Nusa Tenggra Timur siklus hidup berlangsung sampai 5,5 bulan karena keterbatasan pakan.
  2. Kutu  jantan berumur  50 – 60 hari  keluar  dari sel dengan  gerak  mundur. Kutu lak jantan setelah keluar dari  sel, merayap di atas lapisan lak dan membuahi kutu betina. Telur di dalam sepasang ovarium berkembang. Kutu betina mengeluarkan 200 – 500 telur di dalam pengeram selama 7 – 14 hari. Saat itu kutu betina berhenti mengisap getah pohon; kutu jantan setelah membuahi segera mati. Kutu lak betina yang berada di dalam sel terus-menerus mengeluarkan sekresi lak yang bertambah pesat setelah masa perkawinan, sehingga sel betina makin besar.
  3. Lapisan lak yang membungkus kutu betina makin tebal sehingga sel-sel betina berdekatan  satu  sama  lain, bekas sel jantan yang kosong tertutup. Dengan demikian terbentuklah  lapisan  lak  yang  tebal membungkus ranting-ranting tanaman inang. Di dalam ruangan pengeram, telur menetas menjadi nimfa yang keluar dari sel induk. Fase swarming atau menyebar selama tiga pekan. Panen 3 hari sebelum swarming.
  4. Nimfa kutu lak menyukai ranting muda dan segar. Mereka mencari dan menempel di cabang, mengisap cairan pohon inang, dan mengeluarkan sekresi sehingga mengeras menjadi semacam perisai. Nimfa berganti kulit di dalam perisai. Populasi 60 – 400 nimfa per cm2 cabang sehingga dalam satu cabang terdapat ribuan kutu. Nimfa jantan berpunggung  rata, ujung belakang tubuh kecil, dan berwarna merah lembayung. Nimfa betina berpunggung  agak meninggi dan makin ke belakang makin mengecil.
  5. Sementara itu sekresi  lak  dilanjutkan  sehingga  perisai  lak pada  tubuhnya  bertambah  tebal dari sebelah dalam, hingga terbentuklah sel berupa bola. ***
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img