Trubus.id – Subandi kini berhasil memanen 30—40 ton cabai merah per hektare setiap musim tanam. Padahal sebelumnya, ia hanya memperoleh 15—20 ton per hektare.
Peningkatan hasil panen tersebut juga diiringi dengan efisiensi biaya pestisida yang signifikan. Jika sebelumnya ia menghabiskan sekitar Rp2 juta per hektare, kini hanya Rp300.000—Rp400.000.
Rahasianya ternyata terletak pada penggunaan 10 perangkap hama tenaga surya yang dipasang di kebunnya. Jarak antarperangkap sekitar 1.000 meter agar menjangkau seluruh lahan.
Perangkap itu tersusun dari solar cell berukuran 10 cm, baterai 600 mAh, dan lampu LED berdiameter 5 mm dengan kekuatan cahaya 30 lumens. Bahannya menggunakan pipa PVC atau besi nirkarat, serta dilengkapi pengatur waktu otomatis selama 5 jam.
Pada siang hari, panel surya berdiameter 5 cm menyerap sinar matahari dan menghasilkan energi listrik. Energi tersebut disimpan dalam baterai untuk menyalakan lampu pada pukul 18.00—22.00.
Lampu dipasang pada tiang setinggi 0,5—2 meter dari tanah dan di bawahnya terdapat wadah cairan berdiameter 30—100 cm. Cairan ini berfungsi untuk menangkap dan mematikan hama yang tertarik pada cahaya.
Subandi menggunakan berbagai jenis cairan seperti soda, detergen, minyak goreng, oli, atau lem perekat sebagai media penjebak. Perangkap hama dioperasikan selama 10 jam, dari pukul 18.00 hingga 04.00.
Cahaya dari perangkap menarik serangga dewasa (imago) yang menjadi hama tanaman. Beberapa jenis hama yang terperangkap antara lain ulat grayak, ulat tanah, dan lalat buah.
Sebagian besar hama cabai berasal dari ordo serangga seperti Diptera, Thysanoptera, Hymenoptera, Hemiptera, Coleoptera, Lepidoptera, dan Acharina. Setelah itu, Subandi membuang hama-hama yang terperangkap.
Ia kemudian membersihkan wadah dan mengisinya kembali dengan cairan baru. Alat ini terbukti mampu mengendalikan populasi hama secara efektif.
Dengan populasi hama yang terkendali, kebutuhan akan pestisida pun berkurang drastis. Hal ini juga berkontribusi langsung pada peningkatan hasil panen.
Biaya pembuatan perangkap hanya Rp20.000 per unit, setara Rp200.000 per hektare. Sementara biaya listriknya hanya sekitar Rp32.000 per hektare per bulan.
Masa pakai alat ini mencapai satu tahun, dan penggunaannya sangat ekonomis dibandingkan peningkatan produksi yang mencapai dua kali lipat. Alat ini merupakan bantuan dari Pemkab Bantul dan BPTP Yogyakarta (sekarang BPSIP Yogyakarta).
Perangkap ini dikembangkan oleh Sutardi, S.P., M.Si., dan Cirus, S.T., sejak tahun 2008. Mereka memperoleh paten atas alat ini pada tahun 2018.
Awalnya, alat tersebut dirancang untuk memerangkap wereng cokelat pada tanaman padi. Kini alat ini juga dimanfaatkan oleh petani untuk komoditas lain seperti cabai dan bawang merah.
