Sunday, August 14, 2022

Panen Ikan di Atap Rumah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kolam lele dan nila merah di dak rumah milik
Eko Yudi Prathomo. (Dok. Eko Yudi Prathomo)

Bak fiber menjadi solusi membudidayakan ikan konsumsi di lahan sempit.

Trubus — Hidangan lele goreng renyah itu begitu spesial bagi Eko Yudi Prathomo, S.T., dan istri. Harap mafhum Eko yang membesarkan, menangkap, membersihkan, dan memasak ikan Clarias batrachus itu. Lele yang menjadi menu makan malam pada pengujung April 2020 itu hasil panen perdana dari kolam di rumah. Meski bertempat tinggal di kompleks perumahan dengan halaman terbatas, Eko mampu membudidayakan ikan anggota famili Claridae itu.

Olahan lele hasil panen dari kolam di dak rumah. (Dok. Eko Yudi Prathomo)

“Saya menggunakan bak fiber untuk memelihara lele,” kata warga Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Eko memelihara lele dalam bak fiber berukuran 100 cm x 50 cm x 50 cm sejak medio Maret 2020. Ketinggian air 40 cm sehingga volume bak 200 l air. Ia memasang jaring kawat di atas bak agar lele tidak melompat keluar. Ia meletakkan bak berwarna biru itu di dak rumah seluas 18 m2.

Benih besar

Eko yang mendiami rumah di atas tanah 130 m2 itu memasukkan 200 benih lele berukuran 15—20 cm sehingga 1 l air berisi 1 ikan. Peneliti lele di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar, Sukabumi, Jawa Barat, Dr. Ade Sunarma, S.Pi., M.Si. menuturkan, “Yang perlu diperhatikan yaitu benih harus sehat. Pada aspek pemeliharaan, hindari pemberian pakan berlebihan.”

Lele salah satu ikan yang cocok dibudidayakan di bak fiber berukuran 100 cm x 50 cm x 50 cm. (Dok. Eko Yudi Prathomo)

Pilihan bibit berukuran relatif besar agar tingkat sintasan (survival rate, SR) tinggi. Harap mafhum budidaya lele di dak rumah itu pengalaman perdana Eko. Bahkan, memelihara ikan hias dalam akurium pun ia tidak pernah.

Ia memanfaatkan pelet sebagai pakan lele lantaran praktis. Pemberian pakan sekali sehari pada pukul 10.00 atau 11.00. Pemberian pakan sedikit demi sedikit hingga ikan tidak berebutan. Ia menyadari bak fiber yang berukuran kecil mengendapkan sisa pakan dan kotoran di dasar. Oleh karena itu, Eko rutin membersihkan endapan di dasar bak menggunakan selang setiap 7—10 hari. Hanya tersisa sekitar 20% air dalam bak saat pembersihan kotoran itu.

Ia sengaja menyisakan air dalam bak agar lele tidak stres. Kemudian Eko memasukkan 80% air baru ke dalam bak. Tujuannya mengurangi kadar amonia serta ikan pun lebih sehat dan bahagia. Kini Eko tidak perlu ke pasar untuk membeli lele. Tinggal gunakan serok, lele segar pun tertangkap. Sebetulnya hasrat membudidayakan ikan muncul sejak Desember 2019 lantaran ingin memiliki hobi baru.

Pemeliharaan nila di bak fiber memerlukan aerator agar kandungan oksigen meningkat sehingga pertumbuhan ikan optimal. (Dok. Eko Yudi Prathomo)

“Saya mencari sesuatu yang bisa dirawat dengan telaten. Jadi, pilih ikan karena dipelihara mulai dari bibit hingga besar. Ada proses,” kata pria berumur 38 tahun itu. Eko baru merealisasikan hobi barunya itu pada medio Maret 2020 karena ada kebijakan bekerja dari rumah akibat pandemi korona.

Apalagi setelah berlakunya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Kami tidak tahu sampai kapan pandemi korona berakhir. Kondisi susah jika ada larangan orang berjualan,” kata Eko. Selain untuk memenuhi kebutuhan protein, budiaya ikan juga sebagai kegiatan positif selama PSBB. Tidak hanya sekadar memelihara, tapi juga bisa dimanfaatkan hasilnya secara berkelanjutan.

Eko memperoleh pengetahuan seputar pemeliharaan lele dari Juli Nursandi, S.Pi., M.Si., perekayasa konsep budikdamber sekaligus dosen di Program Studi Budidaya Perikanan, Politeknik Negeri Lampung. Tidak heran jika ada kangkung yang tumbuh di atas bak fiber berisi lele. Memelihara ikan di rumah menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi Eko. Kini ia menambah satu bak fiber berukuran sama.

Eko Yudi Prathomo memelihara lele di dak rumah sejak medio Maret 2020. (Dok. Eko Yudi Prathomo)

“Saya menambah satu bak baru yang berisi ikan nila,” kata radio engineer di sebuah perusaahan telekomunikasi di Jakarta itu. Tujuannya agar menu ikan bervariasi. Ia juga meletakkan bak kedua di dak rumah. Apalagi anak Eko kurang menyukai daging lele. Pria kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu membesarkan 100 nila merah.

Menurut dosen di Departemen Teknologi Akuakultur, Sekolah Tinggi Perikanan (STP), Jakarta Selatan, Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si., memelihara nila relatif mudah karena ikan itu memiliki toleransi yang cukup baik terhadap beberapa parameter kualitas air. Cukup perhatikan padat tebar yang dianjurkan dan sumber air yang digunakan. Ia menuturkan budidaya ikan konsumsi merupakan kegiatan positif untuk menghilangkan kejenuhan selama pandemi korona.

Dr. Ade Sunarma, S.Pi., M.Si., senang banyak orang membudidayakan lele di wadah kecil seperti ember dan bak fiber. Budidaya ikan menjadi alternatif kegiatan bagi masyarakat. Selain mengisi waktu luang selama pandemi korona, ikan yang dipelihara bisa menjadi sumber protein keluarga. (Riefza Vebriansyah)

Previous articleJurus Panen Tak Putus
Next articleSisa Dapur Pakan Ikan
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img