Kiat budidaya magot lalat tetara hitam tanpa bau.

Meski sampah organik berupa sisa makanan itu terhampar di halaman kantor PT Biomagg Indonesia, tak tercium aroma menyengat. Lokasi perusahaan juga di dekat perumahan di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Direktur Utama PT Biomagg Indonesia, Aminudi, S.P. mengatakan, sampah tak bau menyengat berkat kehadiran telur lalat tentara hitam atau black soldier fly Hermetia iluscent.
Limbah katering
Larva atau magot itulah yang berjasa mengurai sampah organik. Makhluk itu amat “rakus” mengolah sampah organik. Lazimnya proses dekomposisi sampah menimbulkan bau busuk menyengat. Proses pembusukan merupakan dekomposisi yang terjadi secara anaerobik yang menimbulkan gas-gas beraroma menyengat seperti hidrogen sulfida (H2S).
Aminudi mencegah bau busuk sampah dengan beberapa perlakuan sederhana seperti pencacahan sampah organik dan fementasi. Mencacah sampah berarti memudahkan magot saat makan dengan cara mengait dan mengisap. Pencacahan sampah berdampak pada mudahnya magot menyerap nutrisi dari sampah organik.
Menurut Aminudi pencacahan upaya mereduksi aroma tidak sedap. Kandungan air yang keluar dari buah dan sayuran dapat merangsang bakter-bakteri baik yang ada di dalam sampah organik untuk lebih cepat tumbuh. Adapun fementasi sampah organik juga berperan mencegah bau busuk. Aminudi mengatakan, hasilnya lebih baik bila ada penambahan probiotik seperti Trichoderma atau Aspergillus.

Kedua bakteri itu bermanfaat mempercepat proses fermentasi. Probiotik tambahan bermanfaat sebagai pemecah lignin dan selulosa menjadi gula-gula yang lebih sederhana sehingga aroma yang lebih dominan lebih kepada aroma fermentasi bukan aroma busuk. Fermentasi juga meningkatkan kandungan nutrisi sampah organik. Menurut Aminudi perlakuan itu sekaligus menghasilkan magot yang berkualitas, yakni berukurann lebih besar.
Aminudi bekerja sama dengan PT Pangan Sari Utama—yang mengelola katering—untuk memperoleh sampah organik. Sampah katering berupa sisa-sia makanan itulah yang ditampung Aminudi.Menurut Aminudi setiap 1—2 hari sekalimenampung hingga 500—1.000 kg sampah organik.
Salah satu strategi Aminudi adalah memberikan sampah fermentasi secara periodik. Ia menghindari penambahan sampah yang terlalu sering. Idealnya 2—3 hari sekali. Penambahan sampah yang sering membuat media pertumbuhan magot menjadi lembap, basah, bahkan tergenang air. Media yang tergenang air akan menciptakan kondisi anaerobik yang dapat menghambat magot untuk makan. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

