Thursday, January 22, 2026

Panen Nila di Atap Rumah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Ada pemandangan tak lazim di dak beton lantai atas sebuah rumah di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Dak itu bukan sekadar ruang terbuka atau tempat menjemur pakaian.

Di lantai 2 seluas 16 m × 12 m itu berjejer 7 bak terpal bulat yang masingmasing berdiameter 4 m. Dari sanalah Dadang Mursyid, S.Pd., memanen minimal 24,5 kuintal nila Oreochromis niloticus segar setiap 3 bulan.

Hasil panen Dadang tergolong fantastis. Setiap bak bulat berbahan terpal dan berjari-jari 2 m itu menghasilkan 350 kg nila dalam waktu 3,5—4 bulan. Lazimnya pembudidaya lain hanya menuai 100 kg nila dalam kurun waktu 6 bulan di bak berukuran sama.

Dadang menjual nila ke pasar hingga restoran. Bagi Dadang memanen nila dari atas dak beton lantai 2 menjadi ajang pembuktian dan perluasan usaha.

Terbukti bisa

Banyak orang beralasan enggan memelihara ikan karena tak memiliki area untuk bak. Ada pula yang beralasan minimnya sumber air alam sebagai kendala budidaya ikan. “Saya ingin menunjukkan bahwa setiap orang dapat membudidayakan ikan. Tidak ada alasan untuk tidak membudidayakan ikan di rumah,” kata Dadang.

Menurut Dadang semua keterbatasan membudidayakan ikan sesungguhnya dapat diatasi sepanjang ada kemauan. “Bila tidak ada halaman, dak lantai atas dapat dipakai. Begitu juga jika sumber air dari sungai atau danau tidak ada, maka dapat menggunakan sumur air tanah,” kata pria yang juga menjabat sebagai kepala Desa Jatihurip itu.

Tentu dibutuhkan biaya tambahan, tetapi dapat ditutupi dengan menggenjot produksi dan mempersingkat masa pembesaran. Dak beton di lantai atas rumah milik Dadang memang awalnya bukan untuk pembesaran nila.

“Ini sebetulnya untuk lantai 2 rumah, tetapi biaya untuk membangunnya belum mencukupi,” kata Dadang.

Ia lantas menyulap dak itu dengan membuat bak terpal yang dasarnya berupa lingkaran semen dengan kerangka besi. Berikutnya kerangka besi dilapisi terpal berwarna merah dan biru. Desain itu memungkinkan Dadang memindahkan bak bila kelak pembangunan rumah dilanjutkan.

“Desain bak terpal dapat dibongkar pasang kecuali pinggiran dasarnya yang berupa beton,” kata Dadang.

Bak terpal itu dapat dipasang di halaman samping, depan, atau belakang rumah tergantung ketersedian lokasi. Perekayasa di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Adi Sucipto, mengatakan, beternak nila di dak lantai atas memang memungkinkan.

“Prinsip beternak nila itu melayani nila sebaik mungkin sebagai subjek. Di dak lantai atas tetap bisa sepanjang pengelolaan air, ikan, listrik, dan panen tepat,” kata Adi.

Tentu untuk mencapai itu dibutuhkan ilmu dasar seperti biologi untuk memahami metabolisme ikan. Menurut Adi, dengan memahami metabolisme nila, maka peternak menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan optimal nila. Hal itulah yang kemudian disadari oleh Dadang.

Bioflok

Menurut Dadang metabolisme nila berbeda dengan manusia. Lazimnya nafsu makan manusia meningkat pada suhu dingin. Sebaliknya, nila malas makan. Nila tumbuh opltimal pada suhu air lebih dari 24ºC dan kurang dari 28ºC. Iklim di Tasikmalaya yang cenderung sejuk membuat suhu air dingin.

“Begitu dibudidayakan di bak yang diletakkan di lantai atas, maka sinar matahari menghangatkan air sehingga nafsu makan meningkat,” kata Dadang.

Sinar matahari juga membuat konsorsium mikroorganisme pada sistem bioflok yang digunakannya optimal. Semua mafhum, pada sistem bioflok konsorsium mikroorganisme berupa bakteri, fungi, protozoa, zooplankton, fitoplankton adalah para penjaga kualitas air agar tetap ideal untuk nila. Pada ikan tertentu bahkan mikroorganisme itu menjadi pakan.

“Sebagian mikrooganisme itu membutuhkan sinar matahari untuk melengkapi siklus hidupnya. Bahkan, mikroorganisme yang berfotosintesis dapat memasok tambahan oksigen bagi air dan ikan,” kata Adi yang mempopulerkan sistem bioflok 651.

Beternak nila di bak terpal yang diletakkan di dak lantai 2 memang solusi di tengah keterbatasan tempat. Di Tasikmalaya yang cenderung dingin, beternak nila di dak lantai atas justru lebih cocok. Namun, di dataran rendah seperti di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi beternak nila di atas dak membutuhkan perlakuan berbeda.

“Di sana panas sehingga butuh naungan seperti jaring agar suhu air lebih rendah,” kata Dadang.

Cara lain menurunkan suhu di dak yakni menanam tanaman penaung alami di lantai atas agar lebih sejuk. Sebut saja tanaman bunga telang Clitoria ternatea. “Prinsipnya jangan sampai terlalu panas. Usahakan suhu air 24ºC —28ºC,” kata Dadang.

Kualitas air lain yang juga harus tetap dijaga adalah tingkat kemasaman air. Nila membutuhkan pH lebih dari 6 agar ikan tidak sekadar hidup, tetapi mencapai pertumbuhan optimal. Bagi Dadang keterbatasan tempat bukan halangan untuk memanen nila.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img