Sunday, August 14, 2022

Panjang Umur Aroid

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tanaman dalam ruang sudah menjadi tren di Amerika dan Eropa. (Dok. Trubus)

Tren tanaman aroid mendunia dan berumur panjang.

Trubus — “Suatu hari nanti tanaman hias bukan lagi bagian dari gaya hidup, melainkan sudah menjadi kebutuhan,” kata pengusaha tanaman hias, Chandra Gunawan Hendarto. Chandra menuturkan, demam aroid sejak 2019. Saat itu pada September 2019 Chandra mengunjungi International Aroid Society Show (IASS) di Miami, Florida, Amerika Serikat.
Pemilik Nurseri Godong Ijo itu tertegun lantaran pengunjung IASS belum pernah seramai itu. Umur pengunjung rata-rata berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Ia mengamati lebih dari separuh pengunjung pameran tahunan yang telah digelar 42 tahun itu adalah kaum muda. Tren merawat tanaman dalam ruangan sudah menjamur di masyarakat Amerika dan Eropa.

Pasar global

Bagi mereka yang tinggal di negara empat musim itu, suasana tropis dengan panorama dedaunan hijau nan rimbun menjadi hiburan tersendiri. Suatu kemewahan apabila mereka dapat menghadirkan suasana tropis itu di dalam rumah. Salah satu pilihannya adalah dengan memboyong tanaman tropis anggota famili Araceae. Itulah mengapa Chandra berkeyakinan tanaman hias terutama aroid berpeluang menjadi kebutuhan setiap orang pada masa mendatang.

Kapasitas produksi masih terbatas sementara permintaan meningkat. (Dok. Trubus)

Bagi pehobi yang sesungguhnya, membeli tanaman itu layaknya candu. Apalagi saat ini teknologi sangat mendukung pemasaran daring. Metodenya juga semakin beragam salah satunya lelang melalui media sosial yang kini marak terjadi.

Hal itu yang membedakan tren aroid saat ini dengan anthurium dan aglaonema pada 2006—2007. “Dulu pasarnya domestik sedangkan saat ini mancanegara. Hampir seluruh dunia demam aroid,” ujar Chandra. Ekspor aroid turut mendongkrak harga di dalam negeri. Saat ini justru mayoritas pelaku ekspor adalah pengusaha kecil. Menurut Chandra, fenomena itu menarik dan postif sebab pendapatan lebih merata.

Menurut pebisnis yang menekuni tanaman hias lebih dari 20 tahun itu, banyak hal yang menyebabkan aroid menjadi tren. Pandemi virus korona hanya salah satu pemicu. Peneliti dari program studi Agribisnis Universitas Padjadjaran, Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., menuturkan, “Begitu situasi pandemi, tren memelihara aroid yg adaptif dalam ruang kubika dan urban, melejit.”

Dr. Iwan Setiawan, S.P., M.Si., peneliti program studi Agribisnis Universitas Padjadjaran.

Jika kebijakan bekerja dari rumah dan aktivitas daring berlanjut, tren itu akan berlanjut dan menyatu dengan berbagai upaya penciptaan ruang dan kota hijau. Kehadiran aroid tentu akan masif. Apalagi dengan adanya komunitas pehobi tanaman hias sebagai ruang dan media pemasaran.

Pehobi dan pekebun aglaonema di Jakarta Barat, Songgo Tjahaja, melihatnya dari sudut berbeda. Adanya virus korona sebagai shock therapy bagi pelaku bisnis tanaman hias. Sebetulnya tidak ada virus korona pun orang akan tetap memelihara tanaman. Menurut Songgo, “Bisnis aroid terutama aglaonema akan terus berlanjut dan tidak akan berakhir. Asal masih ada manusia di bumi yang tertarik dengan aglaonema.”

Itulah mengapa ia memberanikan diri membuka kebun produksi pada akhir 2017. Meski demikian, ia tak pernah menyangka kondisi seperti ini akan terjadi. Ketika pandemi datang, stok tanaman di kebunnya ludes karena tingginya permintaan. Kebun seluas 0,5 hektare itu ia tujukan untuk produksi aglaonema secara massal. Produksi massal dapat menurunkan harga sehingga menjadi terjangkau oleh semua kalangan.

Songgo mengatakan, “Suatu saat aglaonema bisa menjadi bagian dekorasi di hotel, perkantoran, atau pelaminan seperti anggrek.” Ia mencontohkan Thailand yang memiliki banyak kebun skala besar. Masing-masing kebun memproduksi jenis yang berbeda. Ketersediaan ratu daun di Negeri Gajah Putih itu seakan tiada habisnya.

Perbanyakan massal

Terkait perbanyakan, Chandra memiliki pandangan lain. Philodendron dan monstera yang menjadi lokomotif aroid makin langka di kalangan petani. Musababnya kedua jenis itu memang sulit diperbanyak dari biji. Tengok saja Philodendron wiliamsii koleksi Gunawan Setyono yang berumur 13 tahun. Tanaman pernah berbunga tetapi Gunawan belum berhasil menyilangkan.

Dra. Yuzammi, M.Sc., peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI. (Dok. Yuzammi)

Sementara itu, perbanyakan anthurium dan aglaonema dari biji cukup mudah. Setiap tongkol memiliki 500—1.000 biji. Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI, Dra. Yuzammi, M.Sc., memandang optimis terhadap masa depan tanaman hias anggota famili Araceae.

Daya pikat Araceae berada pada corak warna dan bentuk daun. Peran penyilang sangat penting. Menurut Yuzammi, Araceae dari alam belum siap disebar ke pasar. “Perlu campur tangan manusia untuk memunculkan karakter yang dikehendaki pasar. Misal daun rimbun dan kompak, corak unik, dan batang kokoh,” kata ahli taksonomi khusus Araceae itu. Masih banyak jenis-jenis asli Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan seperti Schismatoglottis sp. dan Apoballis sp.

Chandra menekankan siapa saja yang ingin menekuni aroid, pelajari dulu cara merawat tanaman dan seluk-beluk bisnis. Peluang bisnis aroid masih terbuka lebar bagi mereka yang berani ambil risiko. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img