
Papua berpeluang menjadi sentra baru walet pada masa depan.

Trubus — Ekspor sarang burung walet Indonseia ke seluruh penjuru dunia stagnan, rata-rata 1.200 –1.300 ton per tahun. Menurut ketua Perhimpunan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Dr. Boedi Mranata, dari sisi produksi beberapa sentra turun. Penurunan produksi di Jawa dan Sumatera sekitar 50%. Sentra lain seperti Kalimantan dan Sulawesi pun mengalami hal yang sama. Penurunan signifikan itu lazim pada suatu sentra berumur 10—15 tahun sejak awal masa budidaya.
Harap mafhum, populasi walet sangat bergantung pada ketersedian pakan di alam. Usaha memberi pakan buatan belum benar-benar berhasil meningkatkan populasi si liur emas. “Dalam jangka panjang, mungkin setelah 10 tahun, produksi walet stagnan. Bahkan, jika belum ditemukan teknologi untuk memberi makan walet mungkin produksi turun,” kata Boedi. Upaya lain menjaga pasokan produksi sarang dengan mencari sentra walet anyar.
Migrasi
Saat ini sentra-sentra baru banyak di Indonesia. Satu daerah dikategorikan sentra besar jika minimal bisa menghasilkan sarang walet 3 ton per tahun. Menurut Boedi syarat utama menjadi sentra walet anyar yakni harus subur. Pakan walet berupa serangga tersedia sangat banyak di alam. Vegetasi banyak, iklim cocok, dan tidak ada musuh alami walet atau predator yang dominan di daerah itu.
Setelah tren sentra walet di Kalimantan kemudian beralih ke Sulawesi. Artinya arah sentra walet makin ramai ke arah timur. Menurut Boedi secara teori Papua berpotensi sebagai sentra walet. Bahkan beberapa rumah walet sudah ada di Papua Barat. Namun, belum menunjukkan tanda keberhasilan. Persoalannya berkaitan erat dengan migrasi walet. Doktor Biologi alumnus Hamburg University itu mengatakan, walet bukan endemik di Indonesia Timur seperti Sulawesi.

Distribusi walet terbanyak berada di Indonesia bagian barat. Namun, karena dibudidayakan secara insentif untuk nilai komersial, walet dipaksa pindah ke area lain untuk menghindari kelaparan atau kematian. Posisi penyebaran burung walet pertama dimulai dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, lalu pindah ke Jawa Barat. Jawa Barat pun mulai menjadi sentra walet, bahkan sampai Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten pada awal 1980.
Setelah itu populasi walet mulai migrasi menyeberang ke Lampung pada 1990 dan terus sampai ke Sumatera Utara. Dari Sumatera Utara, migrasi walet berlanjut ke semenanjung Malaka, lalu Kalimantan Barat, dimulai dari daerah Pontianak. Dari Jawa, walet bermigrasi ke Kalimantan Selatan seperti daerah Bahaur, Kabupaten Pulangpisau, dan Pangkalanbun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Dari Kalimantan Timur walet pun menyebrang ke Sulawesi Tengah di area sekitar Palu, dan selanjutnya menyebar ke hampir seluruh Sulawesi termasuk yang terakhir ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Secara geografis, antara Kalimantan dan Sulawesi sebetulnya terdapat garis Wallace yang berdampak ke perbedaan flora dan fauna yang ditemukan di kedua pulau itu.
Potensial
Walet mampu terbang dengan jelajah yang cukup jauh untuk bermigrasi. Oleh karena itu, walet pun berhasil bermigrasi ke area Sulawesi. Menurut peternak di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Basir Tanase, walet di Kota Palu bukan endemik Sulawesi. Basir mengatakan, maraknya kebakaran hutan di Kalimantan pada periode 2005 menyebabkan migrasi walet ke Sulawesi. Setelah 2005 budidaya walet di Sulawesi kemudian mulai berkembang menjadi sentra baru.

Menurut peternak walet di Jakarta, Philip Yamin, Indonesia bagian timur potensial sebagai sentra walet baru. Pasalnya, beberapa titik di Pulau Halmahera, Maluku Utara, berhasil memanen sarang walet. Titik lainnya di Nusa Tenggara Timur pun membuat rumah burung walet dan berhasil memanen sareng burung. Philip mengatakan, karaktersitik daerah walet di daerah anyar berbeda dengan di daerah sentra.
Walet di tempat baru masih belum mengenal menginap di gedung. Liur emas masih lebih betah menginap di gua. Namun, walet baru akan mencari tempat anyar jika habitatnya rusak antara lain akibat bencana alam. Philip mencontohkan, banyak gedung walet di Kota Palu justru populasinya meningkat signifikan setelah gempa dan likuefaksi. Saat itu banyak gua alam rusak karena gempa.
Menurut Boedi banyak area di Indonesia makin padat. Sentra walet yang besar dengan potensi total panen lebih dari 3 ton per tahun sudah sulit dibuat atau ditemukan lagi. Namun, membuat “mini” sentra walet di daerah pedalaman meskipun areanya tidak terlalu luas tapi masih subur masih sangat potensial. (Muhamad Fajar Ramadhan)
