Friday, December 2, 2022

Selisih 11 ton per ha bagi Slamet Rohman adalah uang Rp55-juta.

Rekomendasi

 

Varietas anyar hasil riset Balai Penelitian Tanaman Sayuran itu berproduksi menjulang. Pada musim hujan saja, ping-06 menghasilkan 26 ton; kemarau, 30 ton per ha. Selisih produksi pada musim kemarau antara ping-06 dan granola mencapai 5 ton. Dengan harga di tingkat pekebun Rp5.000 per kg, pria kelahiran Wonosobo 26 Desember 1970 itu memperoleh tambahan omzet Rp25-juta.

Hawar daun

Bila memperhitungkan selisih produksi pada musim hujan, mencapai 11 ton, pendapatan Rohman kian melonjak, yakni Rp55-juta. Produktivitas tinggi salah satu kelebihan ping-06. Keunggulan lain adalah resisten penyakit hawar daun akibat serangan cendawan Phytophthora infestans. Itulah sebabnya pekebun ping-06 hanya menghabiskan Rp40-juta per ha pada musim hujan dan kemarau.

Bandingkan dengan pekebun granola, pada musim hujan menghabiskan Rp45-juta per ha. Pekebun granola mengalokasikan dana Rp12-juta—Rp15-juta untuk mengatasi serangan cendawan anggota famili Phytiaceae itu. Granola memang rentan serangan penyakit hawar daun, momok para pekebun kentang. Pengalaman Rohman serangan cendawan itu mengakibatkan kehilangan panen hingga 50%.

Untuk mencegah penurunan produksi, pekebun granola 25 kali menyemprotkan fungisida dan insektisida selama satu musim tanam. “Ketika saya menanam granola, jika pagi hujan maka sore harus segera menyemprotkan fungisida agar cendawan tak merajalela,” kata Rohman. Namun, setelah beralih ke varietas ping-06, frekuensi penyemprotan hanya 15 kali.

Ping-06 yang dikebunkan Slamet Rohman hasil riset Ir Kusmana, peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Dinamai ping lantaran kulit umbi anggota famili Solanaceae itu berwarna merah muda alias pink. Warna kulit yang unik menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pengepul meminta pasokan rutin dari Rohman. Seorang pengepul di Denpasar, Bali, misalnya, meminta pasokan rutin 20 ton per bulan dengan harga Rp7.000/kg. Rohman yang mengelola 1 ha lahan, belum mampu memenuhi tingginya permintaan itu.

Selain ping-06, varietas kentang baru dari Balitsa lainnya adalah GM-05 dan GM-08 yang dirilis pada 2008. Kode GM menunjukkan silsilah persilangan. G singkatan dari granola dan M dari michigan pink, keduanya induk. Granola dipilih lantaran keunggulan hasil tinggi sementara klon yang berasal dari michigan pink lebih tahan terhadap serangan hawar daun. Michigan pink cocok sebagai bahan keripik.

30 ton/ha

Kusmana mulai menyilangkan granola dengan michigan pink pada 2002. Ia memperoleh 1.000 benih dari hasil persilangan atau F1 granola-michigan pink. Kemudian benih disemai di lahan selama 4—5 minggu dan dipindahkan ke lahan. Galur terpilih ia simpan di gudang selama 3—4 bulan. Begitu benih bertunas, ia menanamnya di lahan.

Hasil seleksi pertama pada 2004 terpilih 400 aksesi. Dari jumlah itu kemudian terpilih 10 klon yang siap uji adaptasi di 6 lokasi seperti Lembang, Kabupaten Bandung, Cikajang (Garut), dan Batur (Banjarnegara) berketinggian 1.250—1.650 m di atas permukaan laut. Hasil uji multilokasi itu terpilih 2 klon harapan: klon 5 dan klon 8 yang kemudian dilepas sebagai GM-05 dan GM-08.

Soal produktivitas, GM-05 dan GM-08 tak kalah moncer dibandingkan ping-06. Hasil uji multilokasi di Ciwidey, Pangalengan, dan Banjarnegara menunjukkan produktivias keduanya lebih unggul dibandingkan granola. Produktivitas GM-05 mencapai 30 ton; GM-08, 30,4 ton per ha.

Menurut Kusmana GM-05 dan GM-08 cocok sebagai bahan baku industri keripik. Warna umbi lebih kuning dibandingkan sang tetua granola. “Industri keripik ingin bila kentang digoreng berwarna kuning cerah,” tutur alumnus Budidaya Pertanian Universitas Bandung Raya itu. Warna kecokelatan alias browning usai penggorengan tidak dikehendaki. Sebab, menurunkan kualias keripik lantaran berasa pahit, protein dan asam amino pun hilang. Keunggulan-keunggulan varietas pendatang baru, menjadi daya tarik bagi pekebun seperti Slamet Rohman. (Faiz Yajri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img