Omzet PT Pengayom Tani Sejagad miliaran rupiah per bulan. Para petani pemegang saham terbanyak, hingga 80%.


Seperti namanya, PT Pengayom Tani Sejagad memang melindungi 1.566 petani. Perusahaan di Desa Wonoagung, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu berdiri pada 2016. Pendiri perusahaan itu Hanjar Lukito Jati. Jebolan Institut Pertanian Bogor itu menyebut perusahaannya sebagai Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Kini mereka memproduksi 30—60 ton beras merah, 15—20 ton beras hitam, dan 10—15 ton beras putih organik setiap bulan.
Ia meminta petani juga menanam beras merah untuk konsumsi. “Selama ini petani menanam beras merah sekadar untuk pakan burung,” kata bungsu dua bersaudara itu. Ternyata Wonogiri mempunyai beras merah dan beras hitam asli. Masyarakat lokal menyebut beras merah yang enak itu mandel. Berbeda dengan beras merah pakan burung yang keras, mandel lembut dan pulen. Beras organik itu hasil panen para petani binaan di Desa Wonoagung, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri.
Saham dominan 80%
Tercatat 20 petani lolos sertifikasi oleh pegiat organik kenamaan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, yakni Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS). Selanjutnya pemerintah daerah membantu pembiayaan sertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Pertanian Organik (LSPO). Hingga kini 1.113 petani mitra PT Pengayom Tani Sejagad mengantongi sertifikat organik.
Harga eceran tingkat konsumen beras hitam organik mencapai Rp25.000, beras merah (Rp20.000), dan beras putih organik (Rp15.000) per kg. Pemuda 32 tahun itu memasarkan beras organik kepada kalangan yang mencari nilai tambah dari suatu komoditas.

Nilai tambah itu antara lain manfaat kesehatan, keinginan berbagi, atau sekadar gengsi. Ia mengemas beras berbobot 1 kg dengan label beras sehat. Sejatinya petani bukan sekadar mitra, tetapi pemilik perusahaan. Betapa tidak, petani anggota Asosiasi Petani Organik Wonoagung Wonogiri (APOWW) menjadi mitra yang menguasai 80% saham. Hanjar dan kakak kandungnya, Hardiyan Kusuma Djati, yang menjadi direktur serta komisaris mendapat 20% saham.
Aset-aset itu menjadi dasar perhitungan bagi hasil tahunan untuk petani, layaknya pemegang saham di perseroan terbuka (PT) menerima deviden setiap tahun. Hal itulah yang dilakukan Hanjar yang kini menjabat direktur PT Pengayom Tani Sejagad. Deviden berbeda dengan penghasilan yang petani terima dari penjualan produk kepada perusahaan. Artinya, petani menerima penghasilan per panen dan per tahun.
Dengan demikian petani memperoleh dua kali pendapatan sehingga meningkatkan kesejahteraan. “Saya dan mas Djati tidak memiliki akses langsung ke keuangan sehingga meminimalkan potensi penyelewengan,” ujar Hanjar. Maklum, perputaran dana BUMP itu menggiurkan hingga ratusan juta per bulan. Bersama sang kakak, Hanjar membentuk Asosiasi Petani Organik Wonoagung Wonogiri (APOWW) pada 2009.
Perlindungan varietas
Asosiasi juga menyediakan sarana produksi tani (saprotan) seperti pupuk atau pestisida. Hanjar memperoleh bibit mandel dan beras hitam itu dari petani sepuh di Kecamatan Girimarto setelah mencari sampai pelosok Wonogiri. Pasalnya, “Sejak pencanangan panca usaha tani, kebanyakan petani beralih ke padi varietas baru yang lebih cepat panen, lebih enak, dan mudah dijual,” kata pria berusia 32 tahun itu.

Itulah sebabnya ia menganjurkan petani mitra untuk membudidayakan padi warisan leluhur. Dalam proses budidaya, “Kami anjurkan petani memberikan 10 kg pupuk kandang per m² lahan,” kata Hanjar. Jumlah itu menjadi syarat dasar berorganik. Mula-mula banyak petani keberatan.

Sang kakak, Hardiyan Kusuma Djati, yang intens membina petani, memberikan kelonggaran. Ia mengizinkan petani memberikan pupuk kandang semampu mereka. Syaratnya, petani tidak menambahkan pupuk kimia maupun pestisida sintetis. Cara itu ampuh merombak lahan semua petani mitra menjadi organik. Parameter antara lain residu kimia, populasi mikrob protagonis, atau kehadiran cacing maupun serangga bermanfaat, tercapai dalam 3 musim tanam.
Konversi organik itu membuka berbagai peluang yang semula tidak terpikirkan. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk kandang, ia mengusahakan bantuan sapi potong untuk 50 petani. Meski dalam perkembangannya tidak semua mampu mengemban amanat itu—kini tinggal 35 petani yang serius memelihara sapi—Hanjar mulai membagi tugas kepada petani. Tidak semua harus menanam, sebagian memproduksi pupuk organik atau pestisida nabati.
Lainnya membuat pakan terfermentasi untuk sapi. Itulah sebabnya PT Pengayom Tani Sejagad juga memproduksi pupuk organik cair bukan hanya untuk kebutuhan sendiri. Hanjar rutin memasarkan 1.000—2.000 pupuk organik cair dan 50—70 ton pupuk organik padat setiap bulan. Menurut Hanjar bahan baku pupuk organik itu adalah kotoran ternak terfermentasi dan berbagai mikrob bermanfaat.

Hasil penjualan pupuk organik itu menjadi tambahan pendapatan bagi perusahaan. Angan-angan Hanjar masih jauh. “Setelah semua lahan organik, air menjadi bersih sehingga layak untuk air minum kemasan,” katanya. Bahkan dalam waktu dekat BUMP akan membuka kantor dagang di Singapura lalu menyusul Amerika Serikat. Untuk itu mereka bekerja sama dengan salah satu pionir pertanian organik di Jakarta.
Banyak menolak
Hanjar Lukito Jati membuktikan bahwa pertanian organik mampu menyejahterakan petani dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Padahal saat memulai pada 2008, sulitnya bukan main. “Gambarannya, 10 orang yang kami ajak bertani secara organik, hanya 2—3 orang yang mau. Kadang malah menolak semua,” kata Hanjar mengenang. Padahal sebagian petani Wonogiri berorganik sejak 1989.
Perintisnya ayah Hanjar, mendiang Budi Sulistyo. Sayang, sejak Budi meninggal pada 2004, banyak petani kembali menggunakan pupuk atau pestisida konvensional. Akhirnya 8 petani mau menuruti ajakannya menanam padi organik. Begitu panen, 10 ton gabah kering giling menumpuk di rumahnya. Alumnus Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, itu alpa mempersiapkan jalur pemasaran.
Hanjar lantas aktif mengikuti pameran. Hasilnya, salah satu produsen besar suplemen dan makanan sehat membeli beras organik. Pengalaman itu menyadarkannya, kelompok tani memerlukan pengelolaan setara perusahaan profesional. Jika petani adalah divisi produksi, maka harus ada kelengkapan lain seperti bagian pemasaran, promosi, atau bagian penelitian dan pengembangan. Jika demikian maka petani tidak harus identik dengan penampilan kumal, kulit gelap terbakar matahari, atau tingkat ekonomi rendah. “Padahal mereka memiliki aset yang bernilai secara nominal,” kata Hanjar Lukito Jati.
Satu Tujuan Banyak Hambatan

Pertanian organik identik dengan repot dan produksi rendah. Namun setelah terbukti, petani tertarik. Menurut manajer PT Pengayom Tani Sejagad, Mahmud Syah Khoiruddin, banyak petani di Desa Wonoagung, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri terpincut berorganik setelah ledakan hama wereng pada 2012. Saat itu, “Hampir semua lahan konvensional gagal panen, padahal semua lahan organik panen,” kata ayah 1 anak itu.
Sejak November 2016, mengelola gudang milik Dinas Perdagangan Wonogiri. Mereka menggandeng perbankan untuk melakukan sistem resi gudang (SRG). Dengan cara itu, petani hanya mendapat 30% pembayaran ketika menyetor hasil panen ke gudang. Paling lama sepekan kemudian, sisanya bisa mereka cairkan melalui bank. Semua modal tanam berupa benih maupun saprotan ditanggung perusahaan.
Sertifikasi organik menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi petani mendapat harga lebih baik, di sisi lain konsekuensi berat menanti kalau menyeleweng. Hanjar mengisahkan, perusahaan memutus kemitraan 10 petani pada awal 2018. Gara-garanya, ketika audit sertifikasi organik oleh LeSOS, mereka menemukan segel tutup herbisida di lahan. Petani yang tidak lagi menjadi mitra harus menjual produknya ke pasar umum.
Pada 2014, perusahaan menombok gara-gara pembeli mengembalikan kiriman 15 ton gabah kering giling setelah menemukan debu dan kerikil. Ternyata pemicunya adalah mesin yang kinerjanya memburuk. Hanjar dan manajemen terpaksa mereparasi mesin pengering sekaligus pembersih gabah itu. Perbaikan selama 4 bulan itu menyebabkan penjualan macet sehingga kerugian total—termasuk biaya kirim bolak-balik dan biaya reparasi—mencapai Rp80 juta.
Sebelum menggandeng bank untuk melakukan SRG, semua pembelian menjadi tanggungan perusahaan. Itu sebabnya Hanjar kelimpungan. Ia mendatangi keluarga, semua menolak. Bank pun menampik. Bermodal nekat, ia pergi ke ibukota. Setiap hari selama 3 bulan, ia duduk di gerai waralaba salah satu mal di Senayan, Jakarta Pusat. Bermodal sebotol air mineral dan baju—termasuk sepatu—pinjaman, ia menyambangi pengunjung yang tampak “berduit”. Beberapa menolak halus, kebanyakan menolak dengan kasar bahkan menuduhnya penipu.
“Pada orang ke-63 barulah saya mendapat sambutan,” kata Hanjar. Sang calon pemodal—Hanjar enggan menyebutkan nama kepada Trubus—meminta Hanjar datang ke kantornya esok hari. Singkatnya, Hanjar mendapat modal Rp300 juta untuk membeli panen petani. Setelah mengirim produk, ternyata pembeli mengembalikan karena tidak sesuai. Ia meminjam lagi Rp50 juta kepada sang pemodal. Setahun berselang, untuk mereparasi mesin pengering, lagi-lagi ia meminjam Rp300 juta.
Setahun berjalan, bisnis beras organik lancar sehingga Hanjar berniat melunasi utang, Dua tahun kemudian—3 tahun sejak pertama berutang, ia kembali datang ke kantor sang pemodal untuk melunasi pinjaman. Tak disangka, sang pemodal menolak. Namun, Hanjar tidak putus asa. “Sampai sekarang uang itu masih utuh, saya terus mencoba mengembalikan,” katanya. Pertanian organik dan BUMP yang ia rintis memang tak semulus jalan tol. Hanjar membuktikan bahwa ketulusan membuahkan hasil yang baik bagi banyak orang. (Argohartono Arie Raharjo)
