Kehadiran pehobi dan varian baru melanggengkan tren aglaonema di dalam dan luar negeri.

Trubus — Semula Ade Wardhana Adinata, S.E., M.M., tidak menyukai tanaman hias. Namun, kini Ade rutin mengekspor beberapa jenis tanaman ke mancanegara sejak November 2019. Agalonema pictum ‘tricolor’ salah satu jenis tanaman hias andalan Ade. Warga Sukaharja, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menjual sekitar 500 pictum per bulan pada September 2019 hingga Juli 2020.
Harga jual pictum US$30 per tanaman setara Rp420.000 jika kurs $1=Rp14.000. Total jenderal Ade mengantongi omzet Rp210 juta. Ia mengutip laba sekitar 30% sehingga mendapatkan Rp63 juta setiap bulan dari penjualan pictum saja. “Alhamdulillah ternyata bisnis ini cukup menjanjikan,” kata Direktur Utama CV Minaqu Indonesia, itu. Kriteria pictum ekspor antara lain memiliki tiga warna, minimal berdaun tiga helai, dan sehat.
Kultur jaringan
Ade memperoleh pasokan pictum dari distributor di Pulau Sumatera. Ia senang mengembangkan pictum lantaran plasma nutfah asli Indonesia. Sayangnya Jepang lebih dahulu mempopulerkan tanaman itu. Bahkan ada laman khusus di dunia maya yang menampilkan perlelangan pictum di Negeri Matahari Terbit. “Menjadi kebanggan bisa mengembangkan pictum,” kata Ade. Oleh sebab itulah, ia memperbanyak pictum menggunakan teknologi kultur jaringan.

Ia sangat serius menekuni pictum. Tujuannya agar pasokan pictum tidak mengandalkan pasokan dari alam. Ade tidak sendirian menikmati keuntungan mengekspor pictum. Riki Subagja rutin mengekspor sekitar 250 pictum seharga US$35 setara Rp490.000 per tanaman sejak Januari—Juli 2020. Eksportir di Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu menangguk omzet Rp122,5 juta setiap bulan dari perniagaan pictum.
Setelah dikurangi ongkos produksi, Riki memperoleh laba minimal Rp36,75 juta. Konsumen Riki berasal dari berbagai negara antara lain Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, dan Belgia. Riki mendapatkan pictum dari Sumatera. Ia tidak langsung menjual pictum yang datang. Mula-mula ia merendam pictum dalam air biasa sehari. Kemudian Riki menanam pictum dalam media berupa sekam mentah, serbuk sabut kelapa (cocopeat), dan sekam bakar dengan perbandingan 4:3:3.
Lazimnya pictum yang baru datang memerlukan waktu 1,5 bulan untuk memulihkan diri dan beradaptasi dengan tempat baru. Setelah sehat, Riki memperbanyak pictum dengan setek. Selang tiga bulan, pictum siap jual. Meski akar baru sedikit, relatif kuat untuk pengiriman ke luar negeri. Jadi, “Dari datang hingga siap impor memerlukan waktu 4,5 bulan,” kata pemilik CV Berkah Bunga Abadi itu.

Tanaman bisa rusak jika baru datang dari tempat asal langsung dikirim lagi ke konsumen di mancanegara. Penangkar aglaonema senior di Kota Bogor, Jawa Barat, Greg Garnadi Hambali, mengatakan, wajar konsumen di mancanegara menggemari pictum lantaran mereka menyukai warna alami seperti seragam tentara yang terdapat pada corak daun tanaman itu. Greg menyarankan agar pictum diperbanyak supaya tetap lestari di alam.
Harap mafhum selama ini perdagangan pictum mengandalkan kemurahan alam. Ade menyadari betul hal itu. Ia tidak selamanya bisa mengandalkan pictum dari hutan. Suatu waktu bakal terjadi kelangkaan pictum di pasaran. Apalagi ada informasi yang menyebutkan pictum dari alam tidak boleh diekspor pada masa mendatang. Itulah yang mendorong Ade membangun laboratorium kutur jaringan senilai sekitar Rp10 miliar pada Mei 2020. Tujuannya untuk perbanyakan pictum dan tanaman hias lain yang bernilai ekonomis.
Permintaan meningkat

Laboratorium itu bukti keseriusan Ade menekuni bisnis tanaman hias termasuk pictum. Saat ini ada sekitar 20 tanaman hias yang dikembangkan di laboratoirum seluas 1.000 m2 itu. Jumlah dan jenisnya bakal bertambah secara bertahap. Kehadiran laboratorium itu pun bukti keyakinan Ade bahwa tren tanaman hias termasuk pictum pada masa mendatang masih bagus. Sebetulnya pasokan 500 pictum per bulan di tempat Ade belum memenuhi permintaan. Jika ia mengekspor 1.000 pictum per bulan pun masih terserap pasar.
Riki juga belum memenuhi permintaan konsumen. Semula ia hanya memasok 100 pictum per bulan pada Agustus—Oktober 2019. Namun, sejak Januari—Juli 2020 pria berumur 31 tahun itu memasok 250 pictum per bulan. Artinya permintaan tanaman kerabat talas itu tumbuh. “Seandainya saya mengekspor 500 pictum per bulan pun pasti laku,” kata eksportir aneka tanaman hias sejak Agustus 2019 itu. Ia juga meyakini tren pictum lima tahun mendatang masih bagus.

Alasannya pictum mulai tenar sejak 2018. Ceruk pasar pictum masih besar. Ade melipatgandakan kapasitas produksi pictum untuk memenuhi permintaan pasar global. “Kapasitas produksi laboratorium kultur jaringan saya banyak. Mau jutaan juga bisa,” kata mantan calon bupati Kabupaten Bogor pada 2018 itu. Rencananya pada Agustus 2020 ia mengirimkan 5.000 botol kultur berisi 4—5 bibit pictum setiap bulan untuk beberapa nurseri besar di Eropa.
Ade tidak menjual tanaman utuh, tapi berupa 4—5 bibit hasil perbanyakan kultur jaringan dalam botol kultur. Ada satu nurseri besar dan terkenal di Eropa yang meminta pasokan 12.000 botol kultur pada Agustus 2019 hingga Desember 2021. Ade menyanggupi permintaan itu. Total jenderal ada 12 nurseri di Belanda, Jerman, Belgia, dan Amerika Serikat yang memesan pictum dan tanaman hias lain. Sejatinya tren positif aglaonema tidak hanya di pasar global. Perniagaan tanaman kerabat anthurium di dalam negeri pun bergairah.
Importir aglaonema sejak 2007, Benny Zulkifli, mengatakan, “Saya mesti membuat daftar tunggu untuk para padagang yang belanja sejak 13 Juli 2020.” Itu kali pertama pemilik B’ayu Nursery itu menerapakan daftar tunggu. Harapannya agar pembeli lebih tertib dan tidak ada barang tersisa. Indikator lain pasar aglaonema di dalam negeri relatif bagus yakni produk impor milik Benny ludes dalam hitungan jam. Kejadian itu berlangsung sejak pekan keempat Mei 2020 atau setelah Lebaran.
Pasar lokal bagus
Sebelumnya aglaonema dari Thailand itu ludes terjual 3 pekan setelah kedatangan. Musababnya Benny menanam produk impor itu selama 7 hari. Setelah tanaman sehat, baru dipasarkan. Agalonema berwarna cerah menjadi idaman konsumen di dalam negeri. Penjualan tanaman kerabat suweg itu pun meroket 3 kali lipat menjadi 30.000 pot/bulan dari semula hanya 10.000 pot/bulan selama pandemi. Harganya Rp75.000—Rp10 juta tergantung jenis dan ukuran.
Bahkan jika Benny bisa menjual 40.000 pot sebulan pun pasti terserap pasar. “Tren aglo tetap bagus di masa mendatang karena memiliki penggemar sendiri seperti anggrek,” kata pria yang menggeluti dunia aglaonema sejak 2001. Selain itu, selalu muncul aglaonema baru setiap 3 bulan di Thailand. Sebetulnya Benny juga menjual aglaonema ke pehobi di India dan Filipina meski jumlahnya hanya 5—10 pot seharga lebih dari Rp1 juta per tanaman.

Pengiriman ke mancanegara itu sejak 2012 ketika media sosial berkembang. Pelanggan itu kesengsem aglaonema lokal seperti romantic love dan goliath. Pemilik Winolia Flora di Tangerang Selatan, Banten, Solimin, mengatakan penjualan aglaonema miliknya juga meningkat 2 kali lipat menjadi 1.000 pot sejak April 2020. Sebelumnya ia hanya menjual 300—500 pot aglaonema beragam jenis dan ukuran saban bulan.
Tidak hanya kuantitas yang meningkat. Harga aglaonema pun lebih mahal 2 kali lipat daripada sebelumnya. Alasannya, “Permintaan tinggi, tapi pasokan terbatas,” kata pekebun aglaonema sejak 2005 itu. Pandemi global menyebabkan pasokan aglaonema impor terbatas. Banyak orang tinggal di rumah selama pandemi dan memerlukan aktivitas positif seperti memelihara tanaman. Stok aglaonema di dalam negeri pun terserap pasar.
Koleksi aglaonema di tempat Greg pun ludes selama pandemi. Kesuksesan Ade dan Riki berbisnis aglaonema tidak berjalan mulus. Riki pernah merugi sekitar Rp25 juta karena produknya tidak memenuhi ketentuan pihak karantina. Setelah tantangan teratasi, rekening tabungan pelaku bisnis aglaonema pun bertambah. (Riefza Vebriansyah)
