Saturday, August 13, 2022

Pasar Besar Gula Lontar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Potensi pasar produk gula lontar organik di dalam dan luar negeri relatif besar.(foto : Cilota Bali)

TRUBUS — Pasar dalam dan luar negeri menunggu pasokan gula lontar organik. Para produsen kewalahan memenuhi permintaan itu.

Semuel Uly lazim mengantongi omzet Rp300.000 dari perniagaan 10 kg gula semut lontar seharga Rp30.000 per kg setiap hari. Warga Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu hanya membelanjakan Rp50.000 untuk membeli kayu bakar dan bensin ketika mengolah gula semut lontar. Jadi, ia mengantongi laba bersih Rp250.000 per hari.

Jumlah itu setara dengan pendapatan Rp6,5 juta per bulan (26 hari kerja). Penghasilan bulanan Semuel itu 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan upah minimum kabupaten sebesar Rp1,95 juta pada 2020. Sebetulnya profit Semuel bisa lebih banyak saat banyak lontar yang bisa dipanen. “Saya bisa memproduksi sekitar 20 kg gula semut lontar pada Juli—Desember,” kata produsen gula semut lontar sejak 2010 itu.

Perjuangan

Gula semut bikinan Semuel memang berbeda daripada produk sejenis. Masyarakat awam lebih mengenal gula semut dari nira kelapa Cocos nucifera atau nira aren Arenga pinnata ketimbang produk milik Semuel. Ia mengandalkan kekayaan alam di desanya yang banyak tumbuh tanaman lontar Borassus sundaicus. Masyarakat setempat memanfaatkan daun lontar sebagai bahan sasando.

Semuel Uly memproduksi gula semut lontar organik sejak 2015.

Menurut peneliti senior di Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma), Manado, Sulawesi Utara, Prof. Dr. Ir. Hengky Novarianto, M.S., lontar merupakan tanaman spesifik di lahan kering yang beriklim kering seperti di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua. Ketiga kabupaten itu berada di NTT. Perjuangan Semuel memiliki penghasilan lumayan dari siwalan—nama lain lontar—luar biasa berat.

Pria berumur 42 tahun itu mesti ke lahan lontar pada pukul 01.00 dini hari hingga pukul 07.00 ketika musim panen raya. Selanjutnya ia memanjat tanaman setinggi 20—30 m dengan peralatan seadanya sendirian. Memanjat menjadi lebih lama dan berbahaya saat musim hujan karena batang licin. Risiko terjatuh pun relatif besar saat musim hujan. Setelah berada di bagian teratas tanaman, ia memotong mayang lontar dan menampung niranya dalam wadah. Semuel turun setelah wadah terisi dan beralih ke tanaman lainnya.

Ia bisa memanjat 25—30 tanaman dalam 6 jam dan mengumpulkan sekitar 100 l nira. Tahap selanjutnya Dony Uly—anak Semuel—membawa nira yang terkumpul ke rumah untuk diolah menjadi gula semut. “Istri dan anak-anak yang mengolah nira lontar menjadi gula semut,” kata ayah 8 anak itu. Mereka menyaring nira agar bersih dari aneka kotoran seperti serpihan daun agar mutu terjaga. Kemudian keluarga itu memasak nira menggunakan kuali di atas tungku dengan api dari kayu bakar.

Mereka mesti mengaduk nira secara berkala. Api juga diatur agar tidak terlalu besar untuk menghindari gula di dasar kuali gosong. Pemasakan berlangsung 3—4 jam. Setelah mengental, kuali diangkat dari tungku dan didinginkan sekitar 10 menit. Proses berikutnya ibu dan anak itu mengaduk gula yang mengental memakai batok kelapa hingga berbentuk butiran. Kemudian gula semut dijemur memanfaatkan sinar matahari yang melimpah. Selanjutnya keluarga Semuel mengemas gula semut lontar ke dalam 2 wadah berbeda.

Pertama wadah berupa stoples berisi 500 gram gula semut seharga Rp20.000. Kemasan kedua berupa plastik bening yang memuat 1 kg gula semut yang dijual Rp30.000. Semua hasil produksi gula semut itu terserap pasar. “Memproduksi gula semut lontar menguntungkan. Saya bangga menjadi pengolah gula semut lontar,” kata sulung dari 5 bersaudara itu.

Nira lontar untuk memproduksi gula berasal dari tanaman yang tumbuh alami. Bukan tanaman budidaya.(foto : Cilota Bali)

Permintaan tinggi

I Komang Sukarma pun sepakat dengan Semuel bahwa berbisnis gula lontar cukup menguntungkan. Komang memproduksi gula lontar padat sesuai permintaan pasar sejak medio 2020. Ia memberdayakan dan bekerja sama dengan para penderes lontar di kediamannya di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Ada juga petani mitra yang berasal dari Desa Tianyar Tengah. “Kami memilih petani yang memiliki pola pikir untuk menggunakan sistem organik,” kata pendiri dan pengembang Komunitas Cilota Bali itu. Kabupaten Karangasem merupakan sentra lontar di Bali sehingga sangat mendukung usaha pembuatan gula lontar padat oleh Komang. Kapasitas produksi Cilota Bali saat ini 2 ton per bulan yang terdiri dari jenis premium dan reguler. Bentuk gula lontar premium lebih rapi dan legit daripada yang reguler. Harga jual produk itu Rp40.000—Rp70.000 per kg sehingga Komang mendapatkan omzet minimal Rp80 juta jika terjual semua.

Sayang ia enggan menyebutkan keuntungannya. Saat ini produksi 2 ton itu terjual habis lebih dari sebulan. Konsumen gula lontar padat Cilota Bali antara lain usaha kecil dan menengah (UKM) kuliner yang mengusung nilai-nilai kesehatan. Cilota Bali mengandalkan pemasaran daring melalui media sosial untuk mempromosikan produk.
Sebetulnya mereka masih persiapan foto produk dan desain konten. Komang meyakini betul hasil produksi lebih cepat terserap pasar jika semua persiapan itu rampung. “Kami optimis produk gula lontar masih bisa berkembang. Ceruk pasar masih besar. Apalagi gula lontar berindeks glikemik paling rendah daripada jenis gula alami lainnya,” kata alumnus Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Bali, itu.

Pendiri dan pengembang Komunitas Cilota Bali, I Komang Sukarma, memberdayakan masyarakat untuk mengolah gula lontar padat sejak medio 2020.(foto : I Komang Sukarma/Cilota Bali)

Kapasitas produksi Semuel yang mencapai 10 kg/hari pun belum mampu memenuhi permintaan yang datang. Jika ia bisa menghasilkan 30 kg per hari pun pasti ludes terjual. Sulung dari 5 bersaudara itu pun mengajak tetangga membikin gula semut lontar. Semuel membentuk Kelompok Tani Suka Maju pada 2010. Saat ini ada 8 anggota yang aktif membuat gula semut dengan total produksi 60 kg/hari.

Jumlah itu masih kecil dibandingkan dengan besarnya permintaan. “Ada orang Surabaya yang meminta pasokan 10 ton gula semut per kirim pada 2019. Kami belum bisa memenuhi permintaan itu karena keterbatasan modal,” kata Ketua Kelompok Tani Suka Maju itu. Bahkan, ada orang Surabaya lainnya yang berniat membangun pabrik gula semut bekerja sama dengan Semuel. Namun, belum ada realisasinya hingga sekarang.

Pasar ekspor

Permintaan lainnya yang belum terpenuhi berasal dari dua toko yang siap menerima ratusan kg gula semut per bulan. Wajar banyak yang mengincar gula semut Semuel lantaran produknya sudah tersertifikasi organik sejak 2015. Tingginya permintaan gula lontar organik tidak hanya di dalam negeri.

Komang menargetkan gula lontar produksi Cilota Bali mengisi pasar ekspor pada masa mendatang. Oleh karena itu, ia giat menjalin kerja sama dengan perusahaan lain seperti PT Panen Pangan Indonesia (Panenpa). Rencananya Komang juga berkolaborasi dengan Kaori Group pada 2022. Harapannya pemasaran gula lontar untuk pasar dalam dan luar negeri lebih optimal. Sebetulnya ada permintaan 1—5 ton gula lontar per bulan dari Arab Saudi. Kebetulan saat itu ia belum fokus memproduksi gula lontar.

Adanya permintaan ekspor itu juga yang mendorong Komang dan tim menekuni pembuatan gula lontar organik. Sertifikat organik mutlak diperlukan untuk menembus pasar ekspor. Komang menyadari hal itu. Oleh sebab itulah, ia berencana mengurus sertifikat organik dan sertifikat pendukung lainnya pada 2022. Komang juga tengah melakukan penjenamaan (branding) produknya. Quality Manager Controller Organic Produsen & Exporter PT Profil Mitra Abadi (PMA), Elsje Mansula, mengatakan, permintaan gula organik sangat besar. Hal itu ia sampaikan ketika menjadi narasumber gelar wicara (talkshow) yang menjadi rangkaian acara Healthy Living Expo pada Februari 2021.

Penderes mesti memanjat tanaman setinggi 20—30 m untuk mendapatkan nira lontar. (foto : Koleksi Cilota Bali)

Saat ini pasar ekspor mencari produk gula yang berindeks glikemik rendah seperti gula lontar. Buktinya banyak orang tertarik pada gula lontar yang ditampilkan Elsje pada pameran internasional Biofach 2021 yang dilakukan secara daring. Saat itu Esje hanya membawa produk gula lontar. “Artinya produk itu cukup seksi. Produknya baru dan belum ada saingan. Hal itu menjadi nilai lebih kepada importir dan pembeli,” kata Elsje. Ia memproduksi sekitar 22 ton gula lontar pada 2021.

Elsje bekerja sama dengan para penderes di Pulau Rote, NTT. Ia kewalahan memenuhi permintaan gula organik. Potensinya besar sekali. Hal itu pula yang mendorong Agus Parjoko memproduksi gula cair lontar pada Maret 2021. Warga Desa Pedak, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, itu juga tertarik mengolah nira lontar karena di daerahnya banyak tumbuh tanaman anggota famili Araceae itu. Kapasitas produksi saat ini baru 5—7 l gula cair lontar per hari.

Lontar hibrida

Agus menghitung potensi produksi di kawasan itu mencapai 20 ton gula cair lontar per bulan. Menurut Elsje lontar mejadi komoditas yang eksklusif. Sayang belum dibudidayakan. Penanaman lontar diperlukan karena produk gula lontar sangat luar biasa. Selama ini Semuel memang memanfaatkan nira dari lontar yang tumbuh alami. Bukan dari kebun lontar yang memang sengaja ditanam. Meski begitu pengembangan budidaya lontar menungkinkan di masa depan.

Kabupaten Sabu Raijua, NTT bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) tengah mengembangkan lontar hibrida (Baca Lontar Baru: Kaya Nira, Pendek, dan Genjah halaman 34—35). Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menanam 100 bibit lontar hibrida pada awal 2019. Hingga kini lontar hibrida itu bertumbuh dan berkembang dengan baik. Sudah saatnya gula lontar menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mengisi pasar ekspor. (Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img