Wednesday, August 17, 2022

Kaya Nira, Pendek, dan Genjah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Tanaman lontar hibrida berumur 2 tahun 4 bulan di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).
(foto : Koleksi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sabu Raijua NTT)

TRUBUS — Lontar hibrida bersosok lebih pendek, genjah, dan produksi nira lebih banyak.

Petani harus menanti 12 tahun untuk memanen perdana buah lontar Borassus sundaicus. Tanaman anggota famili Arecaceae itu tumbuh dan berkembang secara alami di lahan kering. Sudah begitu tinggi tanaman lontar produktif mencapai 15—20 m. Itu sangat berbahaya lantaran para penderes kerap jatuh dari ketinggian. Oleh karena itu, akhir-akhir ini produksi gula lontar menurun karena penderes nira lontar berkurang.

Kebun lontar hibrida yang diharapkan dapat cepat berproduksi, berproduktivitas tinggi, dan berbatang pendek. (foto : Koleksi Hengky Novarianto/Balit Palma)

Keadaan seperti itu antara lain terjadi di sentra lontar di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejatinya lontar sebagai minuman dan sumber pangan berupa gula merupakan produk strategis bernilai ekonomi, sosial, dan budaya di NTT. Jika kondisi itu terus dibiarkan, makin sulit mendapatkan produk turunan lontar. Selain itu, plasma nutfah lontar pun terancam punah.

Perlu dukungan

Di sisi lain hasil studi di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sabu Raijua mengungkapkan, keragaman karakter morfologi, generatif, dan produksi nira yang besar. Keragaman genetik yang besar membuka peluang seleksi tanaman induk untuk pengembangan tanaman lontar hibrida unggul. Harapannya didapatkan aksesi lontar yang memiliki sifat produksi nira tinggi, cepat berbunga, dan berbatang pendek.

Tim periset Balai Penelitian Tanaman Palma-Balitbangtan meneliti antara lain penetapan populasi lontar, seleksi pohon induk jantan dan betina, pengumpulan bunga jantan, dan prosesing polen pada September 2017—Desember 2018. Tim peneliti mendapatkan 28 pohon induk lontar betina dan 12 pohon induk lontar jantan di Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Desa Eilode (Kecamatan Sabu Tengah), dan Desa Lobodei (Kecamatan Sabu Timur). Ketiga desa itu di Kabupaten Sabu Raijua, NTT.

Tinggi pohon induk betina terpilih rata-rata 6,67 m, sedangkan yang jantan 5,08 m. Persilangan tahap 1 melibatkan 14 pohon induk terpilih (PIT) lontar betina dan 4 PIT lontar jantan. Tim peneliti menemukan variasi jumlah bunga betina 9—35 buah per tandan selama persilangan. Total jenderal ada 397 bunga betina atau 20,90 buah per tandan yang disilangkan. Adapun hasil buah jadi (fruit setting) setelah 4 bulan pascapolinasi 204 buah setara 10,74 buah per tandan.

Hasil itu cukup tinggi karena mencapai 54,90%. Persilangan tahap kedua dilakukan pada April—Mei 2018. Persilangan itu berjalan baik, menghasilkan fruit setting, serta berkembang menjadi buah lontar normal. Panen awal buah lontar hasil hibridisasi dilakukan pada Oktober 2018. Selanjutnya tim peneliti mengecambahkan dan membibitkan buah hibrida itu menggunakan metode teknologi perkecambahan lontar dengan teknik Mahayasa (MHS).

Gula lontar menjadi salah satu sumber pangan utama masyarakat NTT. (foto : Koleksi Hengky Novarianto/Balit Palma)

Teknologi itu mempercepat perkecambahan lontar yang hanya memerlukan waktu 6 bulan untuk bibit lontar siap tanam di lahan. Lazimnya proses itu memerlukan waktu 2 tahun. Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menanam 100 bibit lontar hibrida pada awal 2019. Hingga kini lontar hibrida itu bertumbuh dan berkembang dengan baik. Pengembangan lontar hibrida unggul bakal melestarikan keunggulan dan keberlanjutan produksi nira.

Selama ini nira lontar sebagai bahan baku gula yang menjadi salah satu pangan utama di NTT sekaligus komoditas ekspor. Pasar gula lontar organik sangat luas (baca: halaman 18). Gula lontar mengandung 0,17% lemak, protein (0,98%), abu (2,80%), dan karbohidrat (91,00%) pada kadar air 8,50%. Pantas jika gula lontar sangat baik sebagai salah satu sumber pangan yang menyehatkan.

Melalui inovasi teknologi itu juga diharapkan dapat menarik minat masyarakat terutama kaum milenial agar tetap berusaha di pedesaan dengan memaksimalkan potensi lontar. Pemerintan Provinsi NTT dan daerah lain yang memiliki perkebunan alami lontar mesti mendukung keberlanjutan program seleksi dan perakitan lontar hibrida. Dengan begitu varietas lontar yang cepat berproduksi, produktivitas tinggi, dan berbatang pendek dapat terwujud.

Pemerintah provinsi dan kabupaten juga mesti menetapkan wilayah utama pengembangan lontar. Diikuti dengan kebijakan meningkatkan keterampilan sumber daya manusia, bantuan peralatan, dan perbaikan infrastruktur desa. Selain itu, pemerintah setempat harus mengembangkan diversifikasi produk turunan lontar sehingga pemanfaatan tanaman itu lebih berkembang dan meluas untuk membuka pasar lebih banyak. Strategi pemasaran produk-produk lontar juga dapat dikaitkan dengan pariwisata. Produk lontar bisa dijual sebagai cendera mata dan oleh-oleh khas NTT. (Prof. Dr. Ir. Hengky Novarianto, M.S., peneliti lontar hibrida di Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara) 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img