Pasar terbuka untuk beragam produk turunan kelapa. Keuntungan selalu tersedia.
Trubus — Pendapatan Ismail kini berlipat-lipat setelah mengolah kelapa. Produsen di Tanjungharapan, Kecamatan Batuampar, Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat, itu mengolah kelapa menjadi kopra dan menjual ke pengepul Rp9.000 per kg. Sekilogram kopra berasal dari 6—8 buah kelapa. Setiap bulan, warga anggota Lembaga Pengelolaan Hutan dan Desa (LPHD) mengolah rata-rata 1.000 buah kelapa.

Itu berarti mereka memperoleh pemasukan sedikitnya Rp1,5 juta. Selain kopra, Ismail juga mengolah tempurung menjadi arang. Setiap bulan ia memproduksi sedikitnya 10 ton arang tempurung untuk memasok pembeli di Semarang, Bogor, dan Surabaya. Harga jual Rp4.500 per kg, memberikan tambahan penghasilan Rp45 juta. Ismail dan rekan-rekan sedesanya memperoleh penghasilan jauh lebih banyak ketimbang sekadar menjual kelapa bulat.
Warna alamiah
Semula Ismail hanya menjual kelapa utuh, tanpa pengolahan daging buah menjadi kopra. Ia menjual kelapa bulat Rp1.000. Padahal, pengepul menjual kelapanya ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat, lebih dari 2 kali lipat, Rp5.000—Rp6.000 per buah. Di DKI Jakarta, harga kelapa tanpa sabut dan tempurung paling murah Rp7.000—semua harga per buah. Salah satu pemicu jauhnya perbedaan harga itu adalah biaya angkut.
Pasalnya, “Membawa kelapa utuh berat dan makan tempat, baik di mobil maupun di kapal,” kata Ismail. Kelebihan kelapa utuh itu tahan simpan lama. Daging kelapa tanpa tempurung hanya tahan beberapa jam sebelum menjadi berlendir lalu rusak. Di tempat tujuan—biasanya penjual kelapa parut di pasar tradisional—pembeli hanya mengambil daging kelapa sementara serabut, tempurung, dan airnya mereka buang atau dijual sebagai produk samping.

Itu sebabnya, “Keuntungan pekebun bertambah jika bisa mengolah kelapa,” kata pengusaha olahan kelapa asal Banyumas, Jawa Tengah, Dr. Restyarto Efiawan. Ia menyarankan pekebun tidak menjual kelapa bulat melainkan olahan. Menurut Restyarto petani yang mengolah kelapa kesejahteraannaya meningkat. Masalahnya, pohon kelapa banyak tersebar di pulau-pulau kecil. Membawa kelapa bulat utuh makan tempat dan biaya, yang berujung kepada rendahnya harga di kebun.
Restyarto menanamkan pemahaman itu kepada masyarakat di sentra kelapa, terutama di Banyumas dan sekitarnya. Sejak 2012, Restyarto membina para perajin gula kelapa di Banyumas. Ia merevolusi pemahaman perajin tentang penggunaan natrium metabisulfit (Na2S2O5). “Perajin mengira gula kelapa tidak akan terbentuk tanpa natrium metabisulfit,” kata Restyarto. Musababnya, penggunaan bahan itu terjadi sejak turun-temurun,” kata Restyarto.
Mereka kadung menjadikan bahan kimia yang mampu menggores permukaan logam itu sebagai salah satu komponen wajib untuk membuat gula. Selain membuat gula kelapa tidak mudah meleleh dalam penyimpanan, natrium metabisulfit mencerahkan warna cokelat gula kelapa. Hasilnya, gula kelapa berbahan kimia itu tampak menarik. Akibatnya, warna “asli” gula kelapa tanpa bahan itu yang lebih gelap, tampak kalah menarik, seolah-olah hampir gosong.
Padahal, menurut Restyarto, itulah warna gula kelapa yang benar. Mula-mula, perajin menyambut dingin ajakan ayah 3 anak itu. “Saat itu saya yang bukan siapa-siapa bagi mereka, hanya seorang asing yang tiba-tiba datang lalu mengatur itu dan ini. Jelas saja tidak ada yang mau menurut,” ungkapnya mengenang. Untuk memacu perajin berubah, ia memberikan iming-iming ganda. Restyarto membeli air nira hasil sadapan perajin, meminta perajin memproses menjadi gula, lalu membeli gula itu.

Artinya ia membayar 2 kali. Syaratnya, “Saya meminta mereka mengganti bahan kimia dengan kulit manggis dan serpihan kulit batang pohon nangka,” kata Restyarto. Begitu gula benar-benar terbentuk, perajin takjub dan mulai mendengarkan anjuran pria kelahiran 51 tahun lalu itu. Sejak itu perajin berangsur-angsur mengikuti prosedur pembuatan gula kelapa versi Restyarto.
Nata organik
Untuk apa Restyarto bersusah-payah mengajari perajin gula kelapa? Saat itu ia mengendus potensi ekspor gula kelapa. Terutama ke negara-negara maju yang masyarakatnya memperhatikan kesehatan, antara lain negara-negara Timur Tengah (Uni Emirat Arab, Bahrain, Turki), Timur Jauh (Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok), serta Amerika Serikat dan Uni Eropa. Melalui pameran di mancanegara, satu per satu order mengalir masuk.

Ia lantas memperluas jangkauan pasokan ke kabupaten di sekitar Banyumas, yang mencakup Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, dan Kebumen—semua di Provinsi Jawa Tengah. Kini melalui bendera PT Resty Mohan Kolaka miliknya, Restyarto rutin mengekspor gula kelapa. Volume ekspor 150—200 ton gula kelapa serbuk—dikenal sebagai gula semut—per bulan. Adapun negara tujuan ekspor ke Turki, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Produk lain turunan kelapa yang potensial adalah nata de coco. Di di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Sularto memproduksi nata de coco organik—tanpa menggunakan ZA atau Urea khusus makanan untuk membiakkan mikrob—untuk menembus pasar Eropa. Ternyata, produksi sebanyak 150—200 ton per bulan nata de coco mentah saja terserap habis di pasar domestik. Ia bermitra dengan 7 produsen nata de coco rumahan untuk meningkatkan pasokan.
“Pasar domestik saja luar biasa besar. Di Indonesia ada sekitar 10 perusahaan, yang masing-masing kebutuhan minimalnya 100 ton per bulan,” kata Sularto yang mengelola PT Daya Agro Mitra Mandiri. Ia membidik segmen nata de coco untuk pasaran menengah ke atas, termasuk olahan alternatif berupa biosheet. Biosheet menjadi bahan substitusi pakaian kelas atas, makanan, dan kosmetik.

Kelebihannya, biosheet terurai di alam, tidak seperti plastik memerlukan ratusan tahun untuk terurai. Metode organik yang Sularto dan plasmanya lakukan menekan biaya produksi hingga Rp100—Rp150 per kg nata de coco. Alih-alih menggunakan Urea, Sularto memberikan bahan tambahan bernama Bionutrisi. Namun, ia menyilakan perajin nata de coco mengggunakan bahan tambahan lain selain Urea atau Za.
Syaratnya, tidak meninggalkan residu dalam produk nata de coco. Kini ia menjajaki ekspor ke negara-negara Uni Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Sularto yakin bisa meningkatkan permintaan lantaran bahan mentah, berupa air kelapa, tersedia melimpah. Selain itu, “Nata juga bisa dibuat dari nanas atau santan,” katanya. Ia berencana memproduksi nata dari santan untuk produk kelas premium.
Sementara itu, produsen minuman gelas atau cup menggunakan nata de coco berbahan air kelapa yang harganya terjangkau lantaran produksi massal. Harga di pintu pabrik Daya Agro Mitra Mandiri berkisar Rp1.650—Rp1.800 per kg. Bentuk dan ukuran bisa menyesuaikan dengan permintaan pembeli.
Regenerasi pohon

Selain gula semut, kopra, dan nata de coco, pasar juga memburu serbuk sabut kelapa atau cocopeat. Pengolah kelapa bulat di Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, Rakidi Uswanto, memproduksi 6—7,5 ton cocopeat dari 50 ton kelapa bulat yang ia pasok ke produsen santan kemasan. Cocopeat itu menjadi bahan campuran media tanam yang rutin ia kirim ke pedagang tanaman atau perkebunan di Jakarta dan Bogor.
Rakini yang mengelola CV Anugerah Alam Tani, mengolah kelapa, sabut, tempurung, dan air kelapa. Ia menjual bahan-bahan itu kepada pengolah yang mengikat kontrak. Setiap bulan ia mendatangkan kelapa dari Jawa Tengah, Lampung, Kalimantan, dan Sulawesi. Sayang, Rakidi enggan mengungkapkan harga jual kelapa, kopra, produk samping maupun harga beli kelapa dari pemasok di daerah.
Alasannya, “Harga berfluktuasi tergantung jumlah pembelian, ketersediaan, atau waktu pembelian,” ujar ayah 4 anak itu. Waktu pembelian mempengaruhi harga lantaran ketersediaan kelapa di daerah fluktuatif. Ketika pasokan dari daerah sulit, harga pasti menyesuaikan. Periset di Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain (Balitpalma) Manado, Prof. Hengky Novarianto menyatakan bahwa potensi kelapa Indonesia besar.

termasuk sabut.
Potensi itu didukung oleh luas wilayah, keragaman varietas, dan kultur. “Masyarakat di sentra kelapa menjadikan kelapa sebagai sampingan. Di daratan, mereka tetap bertani sedangkan yang di pantai tetap mencari ikan. Ketika kelapa berproduksi, hasilnya sekadar menjadi tambahan,” kata Hengky. Padahal kalau mengolah sendiri, tambahan penghasilan dari kelapa tidak bisa diremehkan. Apalagi Indonesia juga memiliki beragam kelapa unggulan seperti sri gemilang (baca: hal 26—27).
Namun, di balik potensi itu pun tersembunyi berbagai kendala. Antara lain, umur pohon yang kebanyakan lebih dari 50 tahun minim upaya regenerasi. Direktur eksekutif Komunitas Kelapa Asia Pasifik (Asian and Pacific Coconut Community, APCC), Uron P Salum, menyatakan pohon tua menjadi kendala umum di 16 negara anggota APCC.
Beberapa anggota APCC, salah satunya Papua Nugini, sudah meremajakan pohon kelapa tua. Tujuannya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Ismail sudah membuktikannya, bahwa mengolah kelapa memberi nilai tambah yang besar. Dari semula menjual buah gelondongan, ia menikmati laba perniagaan arang dan kopra. (Argohartono Arie Raharjo)
