Trubus.id—Pekebun kakao di Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamise melakukan sambung sisip antara klon kakao MCC 02 sebagai batang bawah dan kakao baru ICCRI 09 sebagai batang atas pada 2022.
Kamise menuturkan saat ini umur sambung tanaman dua tahun. Ia menanam klon kakao MCC 02 pada 2016 sehingga tanaman batang bawah baru berumur 8 tahun.
Ia mulai mempertahankan buah kakao ICCRI 09 saat umur 18 bulan. “Saat itu batang tanaman sudah kekar,” ujarnya.
Tanaman kakao miliknya berbuah besar dan berpenampilan mulus. Buah yang mulus salah satu tanda tanaman memiliki ketahanan terhadap penyakit vascular streak dieback (VSD) yang baik.
Penyebab VSD yakni cendawan Oncobasidium theobromae. Serangan VSD menyebabkan kerusakan tanaman kakao hingga 80%.
Kamise juga optimis hasil panen meningkat seiring bertambahnya umur tanaman. Saat ini produksi total tanaman kakao itu 0,5 kg biji basah per pohon per tahun.
Jumlah itu memang masih tergolong kecil karena batang bawah tanaman dan hasil sambungan masih tergolong muda.
Perawatan intensif
Menurut Kamise sejatinya ICCR 09 berbuah saat tanaman berumur 1 tahun. Saat itu dalam satu tanaman muncul dua hingga tiga buah.
Namun, ia memangkas buah yang bermunculan itu. “Batang tanaman yang masih muda belum siap untuk berproduksi,” ujar Kamise.
Ia menuturkan jika dibiarkan berbuah, pertumbuhan tanaman melambat alias kerdil. Kamise menanam 45 kakao ICCRI 09 dengan jarak tanam 3,5 m x 3,5 m di lahan seluas 0,5 hektare (ha). Jumlah itu setara 15% dari total populasi kebun yang mencapai 300 tanaman.
Varietas lain yang Kamise tanam seperti BB 01 sebanyak 15%, varietas S2 (40%), dan varietas MCC 02 (30%). Total kebun itu memproduksi 800 kg biji kering per tahun.
Peningkatan produksi per tahun memang belum terlihat secara signifikan. Musababnya umur sambungan masih terlampau muda. Kamise menuturkan, kakao ICCRI 09 juga berbuah lebat pada Juni dan Desember.
Ia menuturkan setiap 15 hari masih ada sisa buah yang bisa dipanen. Untuk perawatan kebun kakao ia menaburkan 500 gram kapur pertanian per tanaman per tahun untuk menetralisir lahan.
Selain itu Kamise membenamkan 250 kg pupuk yang mengandung 46% nitrogen dan 250 gram pupuk yang mengandung 10% kalium. Frekuensi pemberian dua kali setahun menjelang pembuahan pada Februari dan Oktober.
Kamise juga menabur 4 kg kompos dari kotoran ayam per tanaman per tahun. Meskipun varietas ICCRI 09 tahan terhadap VSD, Kamise tetap melakukan penyemprotan insektisida dan fungisida. Baca juga Dua Kakao Baru Tahan Penyakit dan Hama.
“Karena populasi ICCRI 09 masih sedikit, saya perlu melakukan penyemprotan untuk varietas lainnya juga,”ujarnya.
Pria berumur 40 tahun itu melarutkan 15 ml insektisida yang berbahan aktif klorantraniliprol dan 2 sendok makan fungisida yang berbahan aktif karbendazim dalam 15 liter air. Ia membutuhkan 45 liter larutan untuk menyemprot seluruh tanaman di kebun.
