Friday, August 12, 2022

Peluang Bisnis Buah Surga Indonesia & Malaysia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Buah tin yang disebut dalam kitab suci kini tengah tren di Indonesia, Malaysia, dan berbagai negara lain.
Buah tin yang disebut dalam kitab suci kini tengah tren di Indonesia, Malaysia, dan berbagai negara lain.

Greenhouse 600 m2 berbentuk terowongan itu tampak mentereng. Di dalamnya tumbuh 400 tin di pot khusus berupa keranjang belanja berwarna hitam. Setiap tanaman setinggi 20—30 cm dengan 4—5 cabang tumbuh ke dua arah. Cabang-cabang setinggi 2 m itu terikat ke tali hijau yang menjulur dari atas. Buah-buah bulat sebesar bola pingpong bergelayut disetiap bekas ketiak daun hingga ke pucuk tanaman.

Buah-buah itu matang secara bergantian, mulai dari buah paling bawah, kemudian buah di atasnya menyusul. Itulah panorama kebun tin milik Marzuki Safiee di Kajang, negara bagian Selangor, 45 menit bermobil dari ibukota Malaysia, Kota Kualalumpur. Setiap hari Marzuki memanen 4—5 buah dari sebuah tanaman. Penataan cabang itu mengingatkan pada tomat hidroponik dalam greenhouse.

Penanaman tin untuk produksi buah di Malaysia.
Penanaman tin untuk produksi buah di Malaysia.

Tanaman introduksi
Lokasi budidaya itu di dataran rendah, berketinggian 50 meter di atas permukaan laut. Marzuki mulai mengebunkan tanaman anggota famili Moraceae itu sejak 2014 di lahan terbuka. Ia menanam ratusan varietas seperti black ischia, red lebanon, dan red libya yang kini berumur rata-rata 2 tahun. Pria 55 tahun itu jatuh hati pada sosok tin karena rasanya yang enak, perpaduan manis dan lembut.

Sejatinya tin bukan komoditas asli Malaysia. Itulah sebabnya Marzuki memperoleh bibit dalam bentuk cangkok dari seorang importir di Malaysia. Meski tanaman introduksi, tin tumbuh subur dan produktif. Marzuki memetik 15 kg setiap hari dari 400 tanaman sepanjang tahun. Harap mafhum buah Ficus carica itu matang susul-menyusul. Ia tak melakukan perangsangan agar tanaman berbuah. “Tanaman tumbuh dengan subur dan produktif karena pemberian baja (pupuk-Red) yang bagus,” kata Marzuki.

Kebun tin milik Marzuki Safiee dilengkapi greenhouse dan fertigasi yang membuat produksi tanaman optimal
Kebun tin milik Marzuki Safiee dilengkapi greenhouse dan fertigasi yang membuat produksi tanaman optimal

Ia mengalirkan nutrisi itu lewat jaringan fertigasi. Mantan manajer di perusahaan teknologi informasi itu memasang pipa di bawah wadah atau pot. Setiap tanaman mendapat 1—2 pipa spaghetti cube yang mengalirkan nutrisi secara terkontrol. Melalui pipa itu Marzuki mengalirkan air dan pupuk ke setiap tanaman. Frekuensi 6 kali untuk air dan 3 kali larutan pupuk setiap hari. Durasinya 5 menit atau air sebanyak 2,5 liter per hari.

Selain Marzuki, Poh di Setiawan, Ipoh, negara bagian Perak, Malaysia, menanam tin dalam greenhouse 600 m2. Lokasi itu dicapai 3 jam bermobil dari bandara internasional Kualalumpur. Di greenhouse berbentuk tunnel atau terowongan, pria 55 tahun itu menanam 500 tin varietas misui douphine.

Poh menanam tin di bedengan tanah seperti para pekebun tin di Jepang. Lokasi budidaya tin itu juga termasuk dataran rendah berketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Tin di greenhouse milik Poh tumbuh meninggi hingga lebih 2 meter. Cabang-cabang tumbuh di batang yang sengaja dibuat pendek karena Poh rajin memangkas. Dari batang sebesar lengan tangan, ia menumbuhkan 4—6 cabang yang dibiarkan meninggi hingga 2 m.

dr Justin Pereira, Mr Poh, dan Salamah Saad (kiri ke kanan)memproduksi tin untuk buah segar.
dr Justin Pereira, Mr Poh, dan Salamah Saad (kiri ke kanan)memproduksi tin untuk buah segar.

Tren meningkat
Buah tin yang muncul dari ketiak daun berderet-deret hingga pucuk tanaman. Ia memangkas cabang secara bergilir berdasarkan bedengan. Tujuannya agar bisa panen buah secara kontinu setiap hari sepanjang tahun. Di kebun itu ada 10 bedengan dengan jadwal pemangkasan berbeda sehingga waktu panen dapat dilakukan sepanjang tahun. Volume produksi lebih rendah per bulan, tetapi tanaman bisa berproduksi sepanjang tahun.

Marzuki dan Poh hanya segelintir pekebun tin di Malaysia. Sejak 2013 kian banyak pekebun tin di sana. Komoditas yang disebut-sebut di Al Quran dan Injil itu tengah naik daun di Malaysia. Mengapa mereka gandrung mengebunkan tin? Marzuki mengatakan citarasa tin sangat enak, lembut, dan gurih. Bisnis bibit pun sangat menguntungkan. Itulah yang memicu tren tin di Malaysia. Alasan lain karena alasan keagamaan, yakni kitab suci agama mayoritas mereka menyebut tin di surat ke-95, yakni At Tin. ”Sementara itu Injil kitab suci umat Nasrani menyebut ara alias tin di Perjanjian Lama, Raja-raja 20:7.

Harga tin hitam di Malaysia RM200 per kg.
Harga tin hitam di Malaysia RM200 per kg.

Menurut David C. Sutton dalam “Figs: A Global History”, tin sebagai buah surga dengan memberikan 2 definisi surga. Surga pertama merujuk pada tempat tumbuh pohon buah terlarang yang membuat nabi Adam dan Hawa mendapat murka Tuhan. Kisahnya tertuang Kitab Kejadian 3: 6—7 yang mengisahkan Nabi Adam dan Hawa memanfaatkan daun tin yang lebar untuk menutupi aurat setelah mereka mengonsumsi buah terlarang.

Adapun surga kedua sebagai kemewahan dan kenikmatan dunia. Buah tin segar juicy, harum, manis, kaya nutrisi dan dipercaya memiliki banyak manfaat. Itu sebabnya masyarakat Yunani kuno amat menggemarinya. Bahkan, pemerintah yang berkuasa pada masa itu hanya mengeluarkan izin ekspor tin yang bermutu rendah. Varietas tin yang paling enak untuk konsumsi lokal.

Varietas tin misui douphine asal Jepang potensial dikebunkan sebagai penghasil buah segar.
Varietas tin misui douphine asal Jepang potensial dikebunkan sebagai penghasil buah segar.

Buah baru
Menurut peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Malaysia atau Malaysia Agriculture Reserach and Develoment Institute (MARDI), Suhana Safari, tin belum termasuk dalam program riset di Malaysia. Suhana mengatakan, tanaman buah baru atau tanaman langka dari hutan yang belum diketahui nilai komersial termasuk kategori buah nadir. Tanaman dalam kategori itu bukan prioritas untuk dikembangkan pemerintah.

Malaysia tengah mengembangkan beragam buah seperti durian, mangga, longan alias lengkeng, papaya, dan nanas. Tren meningkatnya permintaan buah tin membuat masyarakat Malaysia ramai mengoleksi tanaman yang juga disebut ara, fig, atau ficus itu. Beberapa di antaranya mengebunkan tin untuk produksi buah. Justin Pereira, misalnya, semula tertarik mengoleksi tin lantaran kandungan nutrisi sangat baik sehingga bermanfaat bagi kesehatan.

Ia kemudian melengkapi koleksinya menjadi lebih 300 varietas. Beberapa pemain lain pun tertarik mengebunkan tin untuk produksi buah segar. Selain Marzuki Safiee dan Mr Poh, juga ada Dato’ Syed Elias (Ampang, Kualumpur), dan Calvin Ong (Petalingjaya). Adapun Mohd Hilmi Jusoff di Shah Alam dan Ridzuan Abdullah di Sungai Buloh lebih tertarik mengolah buah menjadi selai, saus, karamel, dan sabun (baca: Lezat Ara Tiada Tara halaman 22—23).
Meski banyak pekebun yang membudidayakan tin, produksi buah mereka belum sampai di pasar swalayan.

“Produksi lokal belum masuk pasar raya karena habis di ladang,” ujar dr Justin Pereira, dokter spesialis kulit yang lebih giat bertani tin daripada praktik kedokteran itu. Justin Pereira menanam tin di Petalingjaya, daerah termaju di Selangor, Malaysia. Ia mulai mengebunkan tin pada 2014 dan kian gencar pada 2016.

Beberapa pasar swalayan di Kualalumpur seperti Carrefour dan Pasaraya memang menjajakan buah kerabat nangka itu. Namun, menurut Justin buah tin itu impor dari negara di Afrika utara, Eropa barat, dan Amerika Serikat. Harga buah di pasar swalayan RM10 setara Rp30.000 per buah dan RM25 setara Rp75.000 per 4 buah.

Peneliti dari Malaysia Agriculture Research and Development Institute, Suhana Safari.
Peneliti dari Malaysia Agriculture Research and Development Institute, Suhana Safari.

Pekebun Indonesia
Tren tin Malaysia sebenarnya hampir bersamaan waktunya dengan di Indonesia. Dua tahun terakhir tin merebut perhatian para pehobi dan pekebun di Indonesia. Para pehobi tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Kediri dan Mojokerto (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah), Sleman, (Yogyakarta). Menurut Fauzi Effendi, pekebun di Jakarta Selatan, para pehobi tertarik tin karena harga tinggi, cepat tumbuh, dan permintaan tinggi.

Pelopor pengembangan tin di Indonesia itu menanam tin di halaman rumah seluas 400 m2. Di rumahnya di bilangan Mampangprapatan, Jakarta Selatan, Fauzi menanam 160 varietas, antara lain black ischia, red lebanon, dan tenna. Ia membudidayakan tanaman anggota famili beringin-beringinan itu di area terbuka sehingga terguyur langsung air hujan. Karena fokus pada penyediaan bibit sehingga hampir tidak ada tanaman yang tumbuh subur, selain green jordan setinggi 3 m yang ditanam di tanah.

Model serupa juga terjadi di Jawa Timur. Beberapa pemain tin di sana menanam di tempat terbuka tanpa pelindung rumah plastik. Para petani di berbagai daerah seperti Wayan Sudiasa (Mojokerto), Tamam Muslih dan beberapa anggota Komunitas Tin dan Zaitun Jawa Timur di Kediri, serta Catur Priyo Catur Pamungkas di Yogyakarta, semuanya menanam di lahan terbuka.

Adapun Hartawan Soesanto dan Handa Sugiharto di Batu, Jawa Timur, dan Khulub Satria Hadi di Sleman, Yogyakarta menutup tanaman dengan rumah plastik sederhana. Mereka memasang atap plastik secara flat atau mendatar; memasang dinding berupa jaring net untuk menahan serangan belalang. Menurut Handa untuk produksi buah, pemakaian rumah plastik dan tertutup mutlak disiapkan.

Petani tin di Malaysia, Marzuki Safiee.
Petani tin di Malaysia, Marzuki Safiee.

Di Indonesia belum ada yang menanam tin skala cukup luas, hingga 1.000 m2 dengan 1—3 varietas. Jenis yang ditanam sangat beragam karena sebagai tanaman koleksi. Para pekebun tin di Indonesia cenderung berniaga bibit. Fauzi Effendi, mengunggah foto 60—80 bibit tin hasil panen hari itu setiap Jumat malam. Ia menjualnya Rp150.000—Rp400.000 per bibit.

Kolektor 150 varietas tin itu—antara lain red turkey, taiwan golden fig, dan panache—mengantongi Rp60-juta per bulan hasil perniagaan bibit tin. Para pekebun lain juga demikian. Dua tahun terakhir permintaan bibit tin terus membubung (baca: Peluang Besar Bisnis Tin, Trubus edisi Januari 2016).

Bisnis bibit di Malaysia juga menjanjikan laba besar. Harga jual paling murah RM40—RM60 setara Rp120.000—Rp180.000 untuk jenis paling umum seperti brown turkey hingga RM2.000 untuk luv, jenis paling langka. Ridzwan Abdullah pernah menjual 3.000 bibit hanya dalam sehari. Justin memprediksi bisnis bibit tin di Malaysia berlangsung 5 tahun ke depan. Selanjutnya di masa datang prospek mengebunkan buah tin dianggap lebih cerah.

Hambatan
Meski para petani tengah gandrung mengebunkan tin bukan berarti menanam tin tanpa aral. Salah satu kendala ialah rentan serangan karat daun akibat serangan cendawan. Penyakit itu kerap menyerang tin yang tumbuh tanpa naungan. Bagi pekebun yang mengolah daun menjadi herbal, serangan penyakit sangat merugikan karena mengganggu pasokan.

Sementara bagi pekebun yang hendak menuai buah, serangan karat pun menurunkan produksi hingga 40—60%. Jalan keluar untuk mengatasi penyakit itu dengan menanam tin di greenhouse. Sayangnya biaya membangun rumah tanam relatif mahal. Untuk rumah tanam seluas 200—500 m2 pekebun di Indonesia memerluan dana Rp88-juta; sementara petani di Malaysia memerlukan dana RM30.000—RM100.000 setara Rp100-juta—Rp300-juta.

Meski banyak pekebun yang membudidayakan tin, “Produksi lokal belum masuk pasar raya karena habis di ladang,” ujar dr Justin Pereira
Meski banyak pekebun yang membudidayakan tin, “Produksi lokal belum masuk pasar raya karena habis di ladang,” ujar dr Justin Pereira

Untuk menekan biaya, Justin memanfaatkan bambu. Ide itu muncul setelah kelahiran Johor 45 tahun silam itu melihat rumah plastik di Indonesia. Dengan teknologi pengawetan, ia berharap rumah plastiknya awet hingga 5—10 tahun. Demikian pula wadah tumbuh yang menyedot anggaran cukup besar. Harga sebuah pot berbahan plastik berdiameter 60 cm mencapai Rp30.000—Rp50.000.

Justin memanfaatkan plastik belanja dari pasar swalayan untuk menyiasatinya. “Setelah bibit berumur 8—9 bulan, tanaman dipindahkan ke kantong tanam yang lebih murah. Dengan biaya lebih ekonomis, ia optimis, bisa menjaring puluhan mitra pekebun untuk memproduksi buah tin. Ketika beragam hambatan itu teratasi, peluang pasar tin terbuka. Kebun-kebun tin di Malaysia kini menjadi lokasi agrowisata.

Justin mengembangkan kemitraan dengan para petani mitra. Pekebun cukup menyiapkan lahan dan tenaga kerja, sedangkan Justin menyediakan bibit sekaligus memandu budidaya. Dokter yang ahli pemasaran itu pun siap menampung dan memasarkan seluruh produksi mitra.

Marzuki membedakan harga jual tin berdasarkan warna buah, yaitu merah dan hitam. Ia menjual tin berkulit merah seperti varietas misui douphine, super jumbo hybrid, dan brown turkey RM75 setara Rp225.000 per kg, sedangkan tin kulit hitam antara lain varietas manresa, black mission, dan albacore RM200 setara Rp600.000 per kg. Perbedaan rasa dan produktivitas yang membedakan harga keduanya.

Pemakaian rumah plastik sederhana bisa menekan ongkos produksi.
Pemakaian rumah plastik sederhana bisa menekan ongkos produksi.

Menurut Marzuki citarasa buah berkulit merah manis, ukuran besar, 7—8 cm, dan cukup produktif. Tin berkulit hitam rasanya lebih manis, ukuran lebih kecil, 5—6 cm, dan produktivitas lebih rendah. Setiap panen ia hanya dapat 2—3 kg per pohon. Karena produksi terbatas, sedangkan permintaan tinggi sehingga Marzuki membanderol harga 2—3 kali lebih tinggi. Saat ini, Marzuki menanam 200 tin hitam dan 300—500 tin berkulit merah. Di Indonesia dan Malaysia buah surga kini tengah di gandrungi.

Itu berbeda dengan bisnis buah tin karena manfaatnya cukup banyak, baik untuk kesehatan, makanan segar, atau makanan olahan. Menurut California Fig Nutritional, Amerika Serikat, per 100 gram buah tin mengandung serat hingga 12,2 gram. Kandungan itu lebih tinggi dibandingkan apel 2 gram dan jeruk 1,9 gram. Tin juga mengandung 9,76 IU vitamin A, 0,68 mg vitamin C, 133 mg kalsium, dan 3,07 mg zat besi.

Periset dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan, Prof Dr Mien Karmini, serat memperlancar pencernaan, menangkap lipid pada darah, menurunkan kolesterol, dan menurunkan bobot tubuh. Selain itu, kandungan omega-3 (linolenat) dan omega-6 bermanfaat untuk pemeliharaan sel otak, “Omega-3(linolenat) pada anak-anak dapat meningkatkan intelegensi dan memperkuat daya ingat pada orang dewasa,” kata Mien. (Syah Angkasa/Peliput: Eny Pujiastuti, Muhammad Fajar Ramadhan, & Riefza Vebriansyah)

555_ 11

Naik Daun di Seantero Jagat

Bibit tin
Bibit tin

Beberapa tahun terakhir, bisnis bibit tin sangat mendunia. Menurut Mohd Hilmi Jusoff, seantero dunia sekarang gandrung pada tin. Pemain tin di Amerika, Eropa, dan Asia ramai bertransaksi tin. “Coba lihat transaksi di eBay, tin menjadi salah satu komoditas paling laris pada kategori home and garden pada 2015,” katanya.
Beberapa negara yang paling banyak menawarkan tin ialah Amerika Serikat, Israel, Portugal, Turki, Malta, Spanyol, Yunani, dan Kanada. Pada pertengahan Januari 2016, setek varietas abou george yang merupakan syrian dark variety menjadi yang termahal dengan nilai $91US atau setara dengan Rp1,2-juta. Masih ada 400 varietas sedang ditawarkan dari berbagai negara.

Tren fig yang mendunia memang tidak lepas dari peran dunia maya. Beberapa pemain tin Indonesia mengaku mendapatkan tin varietas baru dengan membeli lewat eBay, baik secara langsung atau lewat perantara. Hartawan Sugianto kolektor tin di Kota Batu, Jawa Timur, mendapatkan koleksinya setelah ikut lelang di bursa lelang dunia maya terbesar itu. Amin Iskandar di Kediri, Jawa Timur, merasa lebih aman membeli tin lewat perantara.

“Meski harganya sedikit lebih mahal, tetapi dijamin, tin sampai di tangan,” tuturnya. Namun, sebagian besar pemain tin mendapatkan koleksinya dengan memesan lewat media sosial. Facebook adalah media sosial tempat bertemunya penjual dan pembeli, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Begitu kencangnya permintaan tin, terutama jenis tertentu sehingga Marzuki Safiee, berani memajang foto sebatang varietas panache berbuah lebat, dengan menambahkan informasi, varietas panache telah dicangkok, ayo siapa yang mau pesan.” Padahal lazimnya, cangkokan baru dipasarkan setelah dipanen dari pohonnya.

Namun, bagi peminat tin di dunia maya tetap perlu waspada. Banyak varietas lama ditawarkan dengan nama baru untuk mendapatkan harga lebih tinggi. Sebaiknya menyelidiki terlebih dahulu keabsahan varietas itu. Fauzi Efendi, kolektor tanaman di Mampangprapatan, Jakarta Selatan, rajin mengecek nama varietas yang ditawarkan pada produsen bibit itu di mancanegara. (Syah Angkasa)

Previous articleTerima Kasih Telah Berbagi
Next articleSinusitis
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img